-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sampai Kapan Kemiskinan menjadi Penghalang Pendidikan yang Layak?

Thursday, July 23, 2026 | July 23, 2026 WIB Last Updated 2026-07-23T23:08:49Z





              Oleh Ummu Fikru Al Mustanir

                       (Motivator Muslimah)


Di Bulan Juli ini para pelajar memasuki tahun ajaran baru, rasa suka cita naik kelas menyelimuti hati para siswa dan orang tua, sebab anaknya telah naik satu tingkat dalam pendidikan. Dibalik kebahagiaan sang buah hati naik kelas, ada kesedihan yang meliputi hati orang tua yaitu memikirkan biaya sekolah, seragam sekolah, peralatan sekolah dan sistem zonasi sekolah.


TRANS TV - Biaya Sekolah Mahal dari Tahun ke Tahun Selalu Jadi Masalah Mendudukkan anak di bangku sekolah kini telah berubah menjadi sebuah ajang pertaruhan finansial yang kian menguras napas para orang tua di Indonesia, baik yang bermukim di megapolitan padat penduduk maupun di pelosok desa yang terpencil. Angka inflasi sektor pendidikan yang secara konsisten bertengger di kisaran 3 hingga 5 persen per tahun, jauh melampaui rata-rata kenaikan upah minimum tahunan, menjadi hantaman keras bagi dompet keluarga urban dan rural. Biaya sekolah mahal menjadi momok yang menghantui setiap orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Fenomena menjulangnya uang pangkal, biaya sekolah mahal untuk semesteran, hingga iuran seragam yang memberatkan kini bukan lagi monopoli sekolah swasta elit yang eksklusif. Bahkan, biaya sekolah mahal ini sudah menjalar ke sekolah-sekolah negeri berkedok komite yang memungut biaya di luar dugaan. Tekanan biaya sekolah mahal ini memaksa banyak kepala keluarga memotong anggaran konsumsi bulanan demi selembar ijazah, memicu kecemasan kolektif bahwa pendidikan berkualitas kini telah bergeser menjadi komoditas mewah yang hanya bisa diakses oleh segelintir kalangan berpunya.

Kondisi di lapangan menunjukkan realitas yang kian buram ketika biaya sekolah non-akademis ikut meroket tanpa kendali yang jelas dari regulator dan pengawasan pemerintah. Para orang tua tidak sekadar dihadapkan pada problema biaya berupa SPP bulanan, tetapi juga jebakan pengeluaran untuk buku paket yang berganti tiap tahun dengan harga tidak masuk akal, biaya studi tur wajib yang memaksakan anggaran ekstra, hingga perangkat teknologi pendukung belajar yang harganya selangit dan terus meningkat. 

Di kawasan suburban dan pedesaan, beban biaya sekolah mahal ini diperparah oleh biaya transportasi harian dan uang saku yang membengkak seiring naiknya harga kebutuhan pokok. Alih-alih menjadi jembatan mobilitas vertikal untuk memutus rantai kemiskinan antar generasi, biaya sekolah hari ini justru berisiko memperlebar jurang ketimpangan sosial, meninggalkan anak-anak dari kelas pekerja dalam jeratan akses pendidikan yang ala kadar dan serba terbatas. Biaya sekolah mahal adalah masalah serius yang membutuhkan perhatian semua pihak (sumber:Transtv

.co.id).


Dari tahun ke tahun persoalan tentang pendidikan tak pernah usai, berdalih akan selesai dengan memberikan fasilitas terbaik dan terjangkau hanya mimpi, setiap pergantian Presiden, Gubernur ataupun Wali kota selalu memberikan janji-janji manis untuk memperbaiki kualitas dan fasilitas pendidikan yang terbaik dan layak, fakta nya masih sangat jauh dari janji mereka. 


Orang tua pusing dengan biaya pendidikan semakin mahal, ditambah fasilitas untuk menuju sekolah pun tidak layak, di daerah pelosok banyak siswa yang masih berjalan kaki berkilo kilometer demi untuk menuju sekolah, belum lagi gedung sekolah yang rusak, sarana penunjang pembelajaran juga kurang, seperti buku paket yang mahal dan memberatkan wali murid, belum lagi masalah seragam sekolah yang harga nya mahal, hingga mencari seragam bekas kepada tetangga atau teman yang sudah tidak terpakai, karena tidak mampu membeli.

Miris, dibalik Bumi Nusantara nan kaya ini ada kisah pilu dibalik keindahan dan kekayaan alamnya.


Rasanya tak ada habisnya masalah yang datang, seperti sudah tidak ada lagi harapan untuk hidup bisa tenang, mudah, murah, nyaman, dan aman. Hidup di zaman ini rasa was was apakah besok masih bisa makan, bisa bayar sekolah selalu menghantui. Hanya untuk sekedar makan saja harus bekerja keras bagi kalangan bawah apalagi, harus bersekolah, rasanya sudah menjadi barang mahal. Padahal sekolah adalah kebutuhan pokok atau wajib yang harus dipenuhi oleh Negara, memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan dan fasilitas penunjang pendidikan terbaik, tapi itu hanya mimpi di sistem hari ini yang jauh dari syariat Allah.


KOMPAS.com (24/04/2026) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat ada lebih dari 4 juta anak di Indonesia tidak sekolah. Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi mengatakan, data tersebut dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS).

"Namun secara keseluruhan anak tidak sekolah di Republik ini jumlahnya lebih dari 4 juta," kata Saryadi di BSD, Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (23/4/2026). 


Pendidikan hari ini hanya menjadi ajang bisnis, pemerintah hanya sebagai regulator saja bukan menjadi pihak yang memberikan fasilitas pendidikan terbaik. Ingin sekolah yang bagus, nyaman, Islami fasilitas lengkap, guru berkompeten harus membayar harga mahal sedangkan fasilitas yang diberikan oleh Negara pun biasa saja tak jarang yang jauh dari pemahaman Islam, hasilnya masih banyak penerus bangsa ini yang tidak faham tentang dien Islam.


Di masa khilafah Abbasiyah ilmu sangat berkembang dengan pesat, Tafsir, Hadis, Fikih, Kedokteran, Matematika, Astronomi, Kimia, Filsafat, Geografi hingga mencetak ilmuwan seperti al khawarizmi(matematika), Al Biruni (Astronomi & Geografi), Ibnu sina (kedokteran) dan masih berlanjut hingga Khilafah Tukti Ustmani. Daulah Islam memberikan fasilitas terbaik menjadi wadah bagi seluruh masyarakat untuk menimba ilmu tidak memandang jabatan, suku, ras bahkan agama semua bisa mengakses pendidikan terbaik, metode pembelajaran, fasilitas pendidikan bahkan jalan untuk menuju sekolah akan memadai, Negara akan menambahkan lagi gedung sekolah agar terjangkau dari masyarakat dan biaya nya pun terjangkau bahkan bisa gratis alias tidak ada biaya.



Pendidikan Islam bukan hanya mencetak generasi yang pandai dalam ilmu dunia, tapi juga membentuk generasi qur'ani, pendidikan dalam Islam bertujuan untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah, berakhlak mulia.

Berilmu dan mampu berpikir, mengamalkan ilmunya, memberi manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan umat.


Itulah kewajiban Negara memberikan pendidikan yang layak dan gratis bagi seluruh masyarakat serta memastikan semuanya terpenuhi dari hulu hingga hilir, memastikan bahwa setiap masyarakat dapat merasakan pendidikan yang bagus dan layak. Menuntut Ilmu adalah wajib bagi setiap muslim atau muslimah. Setiap warga harus diupayakan untuk menunaikan kewajiban tersebut. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu Islam dan ilmu yang berkaitan dengan pengetahuan dan teknologi , Negara memiliki kewajiban untuk menunaikannya.


Dana yang dibutuhkan jelas tak sedikit, karena itu Daulah Islam memiliki sistem ekonomi yang kuat bisa membiayai semuanya. Baitul Mal adalah badan pengolahan keuangan Negara dari berbagi Sumber Zakat seperti

Kharaj (pajak tanah tertentu), Jizyah

,Ghanimah dan fai' yang dihasilkan dari pengelolaan harta milik negara dan kepemilikan umum. Menyalurkan harta dari Baitul Mal digunakan

Fakir dan miskin, Pembangunan fasilitas umum, Gaji pegawai dan tentara

Pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan masyarakat, gaji guru dan lainnya. Gaji guru pun akan diperhatikan oleh Daulah, guru akan dimuliakan tidak seperti hari ini yang tidak menghargai guru sebagai pendidik generasi. 


Islam bukan hanya Agama tapi Islam adalah)mabdaatau ideologi serta cara pandang terhadap kehidupan yang melibatkan Allah dalam segala aktifitas, mulai dari bangun tidur hingga bangun Negara, begitu pun untuk mengatur perihal pendidikan haruslah melibatkan Allah, menggunakan syariat Allah agar tidak ada kerusakan. Tanpa diterapkannya Syariat Islam dalam kehidupan saat ini, umat semakin dalam kerusakan, buktinyahari ini sistem pendidikan rusak, meski sekolah mahal dan bagus tidak bisa menjamin pelajar memiliki akhlak mulia, beriman dan bertakwa. Sebab keluarga yang baik masih belum cukup dalam mendukung perubahan menuju suasana Islami, masyarakat dengan segenap aturannya dan lingkungan sekolah yang merupakan kepanjangan tangan negara dalam membentuk generasi iman dan takwa, adanya saling menasihati dalam ketaatan membuat peran negara dalam mendidik generasi semakin mudah dan terarah.

Dengan semua bersinergi dalam mendidik generasi, insyaallah akan terbentuk generasi yang memiliki intelektual, adab akhlak baik, beriman dan bertakwa. Karena pendidikan bukan hanya tentang mengejar dunia atau memperkaya diri, tapi juga pembekalan menuju akhirat.

اللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update