-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tahun Baru Masehi dan Krisis Jati Diri Umat Islam

Thursday, January 1, 2026 | January 01, 2026 WIB Last Updated 2026-01-02T04:00:40Z
opini hari ini

Oleh : Isah Azizah


Setiap pergantian tahun Masehi, suasana gegap gempita justru tampak di tengah kaum Muslimin. Kembang api, terompet, pesta, dan hitung mundur menjadi pemandangan yang dianggap wajar. Ironisnya, kegembiraan itu sering kali hadir tanpa kesadaran: apa sebenarnya yang sedang dirayakan, dan dari mana asal perayaan itu?


Fenomena ini mencerminkan krisis jati diri umat Islam. Perayaan tahun baru Masehi yang bukan berasal dari Islam justru disambut meriah oleh sebagian kaum Muslim. Sebuah “gelap gembira” _ tampak bahagia, namun kehilangan arah.

Dominasi Tahun Masehi dan Terpinggirkannya Hijriyah


Tak dapat disangkal, penggunaan kalender Masehi yang dominan telah memengaruhi cara pandang umat Islam terhadap waktu dan sejarah. Banyak Muslim hafal tanggal-tanggal penting Masehi, tetapi gagap ketika ditanya tentang tahun Hijriyah. Tidak sedikit yang bahkan tidak tahu kapan 1 Muharram, apalagi memahami makna hijrah sebagai perubahan menuju ketaatan.


Lemahnya pemahaman ini membuat umat mudah terseret arus. Tanpa ilmu, perayaan tahun baru Masehi dianggap sekadar tradisi umum, bukan persoalan akidah dan identitas. Padahal, Islam memiliki sistem waktu, sejarah, dan perayaan sendiri yang seharusnya dijaga dan dibanggakan.

Normalisasi Budaya Barat


Di sisi lain, ada upaya sistematis dari dunia Barat untuk menormalisasi budaya dan perayaan mereka sebagai standar global. Melalui media, hiburan, dan gaya hidup, umat Islam digiring agar merasa “tertinggal” jika tidak ikut merayakan tahun baru Masehi. Perlahan, batas identitas itu memudar.


Padahal, Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa keridhaan kaum kafir tidak akan pernah tercapai kecuali jika kaum Muslim mengikuti jalan mereka. Karena itu, mengikuti perayaan yang berasal dari luar Islam bukan sekadar persoalan budaya, melainkan persoalan prinsip.


Perayaan tahun baru Masehi tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabat, maupun generasi terbaik umat ini. Ia bukan bagian dari Islam, tidak memiliki landasan syariat, dan tidak termasuk amalan yang dianjurkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:


“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”

(HR. Abu Dawud)


Hadits ini menjadi peringatan keras agar kaum Muslim menjaga jarak dari praktik-praktik khas agama dan budaya lain, termasuk perayaan-perayaan yang sarat simbol dan makna di luar Islam.


Dalam Islam, merayakan perayaan agama lain—baik dengan menghadiri, ikut bergembira, maupun mengagungkannya—adalah perbuatan yang dilarang. Para ulama menjelaskan bahwa hal tersebut termasuk tasyabbuh (penyerupaan) yang dapat mengikis akidah dan loyalitas keislaman.

Karena itu, sikap yang benar bagi seorang Muslim bukan sekadar “tidak berlebihan”, melainkan meninggalkannya secara sadar.


Hari Raya Umat Islam Hanya Dua


Islam telah menetapkan dengan jelas hari raya umatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:


“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.”

(HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)


Hadits ini menegaskan bahwa umat Islam tidak membutuhkan hari raya tambahan. Dua hari raya itu sudah cukup, mulia, dan penuh makna ibadah.


Opini ini bukan untuk menghakimi, melainkan mengajak berpikir: sampai kapan umat Islam terus larut dalam perayaan yang bukan miliknya? Kegembiraan sejati bukan pada hitung mundur pergantian tahun Masehi, tetapi pada ketaatan, kesadaran, dan kebanggaan terhadap ajaran Islam.


Sudah saatnya kaum Muslim kembali mengenal kalender Hijriyah, memahami sejarahnya, dan menjaga batas identitasnya. Bukan dengan amarah, tetapi dengan ilmu dan kesadaran. Sebab umat yang kuat adalah umat yang tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia melangkah.


Wallahu a’lam bish-shawab.

×
Berita Terbaru Update