-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sinergi Keluarga, Masyarakat dan Negara, Membentuk Generasi Tangguh dan Bertaqwa

Thursday, January 1, 2026 | January 01, 2026 WIB Last Updated 2026-01-02T04:06:32Z
opini hari ini

Lia Ummu Thoriq

 (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)


Jika kita berbicara tentang generasi hari ini sungguh mengelus dada. Generasi hari ini jauh dari harapan kita semua. Generasi hari ini dalam kubangan kemaksiatan yang tak kunjung selesai, nrkoba, seks bebas, tawuran, pinjol, judol dan lain sebagainya. Inilah potret buram generasi muda hari ini. 


Sebagai contoh Hafidz, Hafizh (19) salah seorang pelajar yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelas 2 salah satu sekolah di kabupaten Bogor Jawa Barat. Hafizh masih ingat pertama kali diperkenalkan aplikasi judi online (judol) dari teman sebangkunya di sekolah. Setelah itu Hafizh menjadi kecanduan judol hingga menjual barang-barang pribadi dan juga orang tuanya. Hal ini membuat Hafizh sering cekcok dengan keluarganya.


“Baru setahun uring-uringan saya putusin udeh nggak bisa lagi, kudu stop. Karena saya mau lulus sekolah," cerita Hafidz kepada Tirto yang sudah tidak lagi bermain judol. Dia menceritakan via telepon, Selasa 28/10/2025 malam. (Tirto..id, 29/10/2025)


Tidak hanya Hafizh yang terjerat judol, seorang siswa SMP di Kokap, Yogyakarta juga terjerat judol. Informasi ini bermula dari Sekretaris Dindikpora Kulon Progo, diberitakan seorang anak SMP kecanduan judol (judi online) sehingga terlilit pinjalam on line (pinjol). Karena terlilit hutang pinjol siswa tersebut membolos tidak mau masuk sekolah.

 

Dua kejadian di atas merupakan potret buram dunia pendidikan dan lemahnya penegakan hukum yang "tidak kuasa" menghadapi gempuran aktivitas judol dan pinjol. Tahun lalu PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) melaporkan total perputaran aktivitas judol mencapai Rp.1.200 T. November 2024 Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkap bahwa tercatat sekitar 200 ribu pelajar berusia di bawah 19 tahun memiliki indikasi terpapar judol. Kurang lebih ada 80 pelajar berada pada rentang usia di bawah 10 tahun (Tirto..id, 29/10/2025)


Hafidz adalah satu dari sekian juta potret generasi hari ini yang terjerat dalam kubangan kemaksiatan dalam sistem kapitalisme-sekuler.  Hari ini di tengah alam kapitalisme-sekuler, sangat langka menemui generasi tangguh dan bertaqwa. Generasi hari ini adalah generasi strawbery yang mudah patah hati. Mungkinkah ditengah alam kapitalisme-sekuler kaum muslimin mampu mencetak generasi bertakwa dan tangguh? Jawabannya sangat mungkin. Hal ini tidak lepas dari pertolongan Allah SWT. Harus ada upaya serius dari semua pihak (keluarga, masyarakat dan negara) untuk mewujudkan generasi tangguh dan bertaqwa.


Berikut langkah-langkah membangun generasi  tangguh dan bertaqwa.

Pertama, negara yang menerapkan sistem pendidikan Islam. Dari rahim sistem pendidikan Islam akan melahirkan generasi yang bersyaksiyah Islam (berkepribadian Islam). Pada prinsipnya ada tiga langkah untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian Islam pada diri seseorang. 


Hal ini sebagaimana Rasulullah SAW telah mengajarkannya. Pertama, menanamkan aqidah Islam kepada seorang anak dengan metode yang tepat. Hal ini sesuai dengan kategori aqidah Islam sebagai aqidah aqliyah (keyakinan yang melalui proses berfikir). Kedua, mengajaknya bertekad bulat untuk senantiasa menegakkan bangunan berfikir yaitu selalu terikat dengan hukum-hukum Allah dalam bertingkah laku. Ketiga, mengembangkan kepribadian dengan cara membakar semangat untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikiran dengan Tsaqofah Islam. Mengamalkan dan memperjuangkannya dalam seluruh aspek kehidupan sebagai wujud ketaqwaan kepada Allah SWT. Sistem pendidikan Islam ini mustahil jika tidak ada negara yang menjalankannya. Maka keberadaan negara Islam adalah hal yang wajib agar sistem pendidikan Islam berjalan dengan baik.


Kedua, keluarga. Keluarga atau orang tua merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Pembinaan kepribadian, penguasaan dasar-dasar tsaqofah dasar Islam dilakukan melalui pendidikan dan pengalaman hidup sehari-hari. Orang tua sebagai sumber pembelajaran yang ada di keluarga.


Itulah sebabnya proses pendidikan dalam keluarga disebut pendidikan pertama dan utama. Hal ini dikarenakan peletak pondasi kepribadian anak. Keluarga ideal berperan sebagai wadah pertama pembinaan keislaman dan sekaligus membentengi anak dari pengaruh-pengaruh negatif yang berasal dari luar. Upaya pendidikan dalam keluarga sebenarnya telah dan harus dimulai sejak anak dalam kandungan hingga baligh, memasuki jelang pernikahan bahkan hingga anak sudah tua. 


Dengan pendidikan keluarga maka anak akan memiliki ketaqwaan yang tinggi. Mereka mampu bergaul dengan teman-teman disekitar tanpa terpengaruh hal-hal yang buruk. Dan yang paling penting anak akan mampu mengajak teman-temannya kepada hal-hal yang benar atau positif.


Ketiga, Masyarakat yang peduli. Hampir sama dengan kelurahan, masyarakat pada hakikatnya menjadi tempat proses pendidikan sepanjang hayat. Hal ini khususnya berkaitan dengan praktek kehidupan sehari-hari yang dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada di masyarakat yaitu, tetangga, teman pergaulan, lingkungan serta sistem yang berjalan.


Dalam sistem Islam, masyarakat merupakan salah satu elemen penting penyangga tegaknya sistem. Selain ketaqwaan individu serta keberadaan negara sebagai pelaksana syari'at Islam. Masyarakat berperan mengawasi anggota masyarakat lain dan penguasa dalam pelaksanaan hukum Islam. Masyarakat Islam terbentuk dari individu-individu yang dipengaruhi oleh perasaan, pemikiran dan peraturan Islam yang mengikat mereka sehingga menjadi masyarakat yang solid. 


Lebih dari itu, masyarakat Islam memiliki kepekaan indera bagaikan pekanya anggota tubuh yang terhadap sentuhan benda asing. Tubuh yang hidup akan turut merasakan sakit saat anggota tubuh lain terluka. Kemudian ia bereaksi dan berusaha melawan rasa sakit tersebut hingga lenyap. Dari sinilah amar makruf menjadi bagian yang paling esensial dan sekaligus menjadi pembeda masyarakat Islam dengan masyarakat lainnya.


Fungsi pendidikan masyarakat dalam pembentukan generasi bertaqwa dan tangguh adalah amar makruf nahi mungkar. Fungsi kontrol senantiasa menjadi ciri khas masyarakat Islam. Jadi generasi muda akan terjaga pergaulannya dari hal-hal yang buruk. Karena kontrol masyarakat sangatlah ketat.


Demikianlah langkah-langkah dalam membangun generasi tangguh dan bertaqwa. Tiga komponen utama yaitu keluarga (orang tua), masyarakat dan negara diperlukan kerjasamanya untuk membangun generasi tangguh dan bertaqwa.

×
Berita Terbaru Update