Penulis : Yuliani Zamiyrun, S.E.
(Penulis dan aktivis Muslimah)
Innalilahi wa innailaihi rojiun. Kisah pilu dialami oleh seorang anak kelas IV SD di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di atas pohon cengkeh. Nasibnya tidak bisa dinegosiasi. Tekadnya sudah bulat, ia tak lagi sanggup untuk mengeluhkan tangisnya.
Harapannya pupus, tak ada uang membuatnya meringis tak ada obat. Putus asa menjadi jalan penghapus semua sedih. Alamat kematian pun kian jelas setelah tali terikat di leher. Sungguh pilu nasib bocah yang berinisial YBS di Ngada. Buku dan pena menjadi sebab akhir kehidupannya.
Kemiskinan Parah
Turut berduka. Seorang anak harus menjadi korban dampak dari kemiskinan yang di alami oleh keluarganya. Khususnya kedua orangtuanya. Yang tak mampu memenuhi kebutuhan anak dengan mengupayakan biaya buku dan pena yang harganya kurang lebih Rp 10.000.
Ya, Rp 10.000 bukanlah harga yang kecil bagi sebagian orang yang pendapatan sehari-harinya dibawah Rp 50.000. Harga 10.000 menjadi nilai yang cukup besar dan sangat sayang untuk dikeluarkan jika bukan untuk kebutuhan perut.
Mirisnya nasib malang ini tidak hanya dirasakan oleh satu orang tapi ada banyak orang di dunia khususnya di Indonesia yang mengalami hal serupa namun tak terekspos oleh media.
Pada akhirnya kemiskinan telah melenyapkan masa depan sebagian orang di negeri ini. Mereka tak lagi mampu memenuhi kebutuhannya karena terhalang oleh kemiskinan yang begitu parah.
Akar Masalah Kemiskinan
Bukan rakyat yang salah. Indonesia tidak kurang untuk sekedar memenuhi kebutuhan rakyatnya. Sumber daya alam Indonesia yang melimpah ruah mampu untuk menggratiskan biaya pendidikan generasinya. Jika pengelolaannya sesuai dengan yang semestinya.
Namun, hal itu tidak bisa terjadi di sistem kapitalisme seperti saat ini. Sistem ini terlalu jahat untuk seorang anak kecil yang masih bergantung pada kedua orangtuanya. Di sisi lain, kapitalisme juga membuat para ayah tidak berdaya karena bergantung pada lapangan pekerjaan yang sulit didapatkan. Demikian pula seorang ibu ia pun memiliki keterbatasan peran sebagai Ummu warobatul baits pengatur rumah tangga harus bertambah peran menjadi pencari nafkah.
Kapitalisme adalah alat perusak kehidupan. Ia menyakiti berbagai sendi-sendi kehidupan. Tak akan pernah memberi peluang bagi kesejahteraan umat. Kapitalisme sebagai sistem kehidupan saat ini yang berlandaskan pada asas manfaat, membuat segalanya harus serba bayar dan segala urusan harus serba uang.
Sehingga siapa yang memiliki uang banyak maka dialah yang mampu mengendalikan ekonomi. Sedangkan, bagi mereka yang memiliki sedikit uang akan menanggung perih pahitnya penderitaan.
Islam sebagai Solusinya
Begitulah hasil dari diterapkannya sistem kapitalisme. Yang mana rakyat dibiarkan hidup dalam kemiskinan, dibiarkan berjalan sendiri tanpa peran negara, dibiarkan mengais harapan tanpa ujung demi sesuap nasi. Rakyat harus bertahan sendiri sekuat tenaga di negerinya yang kaya raya.
Sementara Islam memandang bahwa rakyat adalah amanah yang harus di riayah dengan baik. Negara harus hadir sebagai solusi atas segala bentuk permasalahan kecil maupun besar dan tidak memandang status sosial.
Sebagaimana yang terjadi di masa Khalifah kedua setelah wafatnya nabi Muhammad Saw. yaitu Umar bin Khattab Ra. ketika hendak berjalan di malam hari beliau mendengar suara tangis sebuah keluarga. Ketika ditanyakan kenapa mereka menangis, dijawablah oleh keluarga tersebut bahwa anak-anaknya sedang kelaparan. Lalu Khalifah Umar bertanya apa yang kau masak wahai ibu. Ibu itu pun menjawab yang dia masak adalah batu, agar anak-anaknya tau bahwa ia sedang membuatkan makanan. Dan anak-anaknya tertidur lantaran menunggu makanan yang dimasak oleh ibunya.
Seketika, Khalifah Umar terperanjat beristighfar dan bergegas pulang ke Baitul mal untuk mengambil gandum dan daging. Lalu Khalifah Umar Ra. sendiri yang memanggulnya untuk kemudian mengantarkannya kepada keluarga miskin tadi.
Hal ini menunjukkan kepada kita, bahwa kesadaran akan hisab di hari penghisaban itu sangatlah berat harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sebab satu hal kecil saja akan di pertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. apalagi hal yang menyangkut kebutuhan rakyat yang menjadi amanah seorang pemimpin.
Untuk itu, kita perlu belajar pada sejarah Islam dan bagaimana para pemimpin Islam meriayah rakyatnya dengan penuh ketaatan dan takut kepada Allah SWT. Di sisi lain tidak pernah sedikitpun pemimpin Islam mengambil sistem lain dalam meriayah rakyatnya. Selama lebih 13 abad lamanya Islam berhasil menjadi sistem kehidupan yang mampu menjamin kesejahteraan hidup rakyatnya. Negara hadir sebagai solusi atas setiap masalah yang dihadapi oleh individu rakyatnya.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita hapus sistem kapitalisme dari kehidupan kita. Dan sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam yang sudah terbukti mensejahterakan rakyatnya. Semua itu akan terwujud jika umat hari ini mau memahami kembali Islam secara kaffah.
Wallahu a'lam bishowwab.

No comments:
Post a Comment