-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

78 Tahun Nakbah, Palestina Hanya Butuh Khilafah

Friday, May 22, 2026 | May 22, 2026 WIB Last Updated 2026-05-22T23:39:31Z



                        Oleh Yuli Mariyam 

                  (Pendidik Generasi Tangguh)


Bermula dari kemenangan Inggris dan sekutu pada perang dunia pertama  melawan kekhilafahan Ottoman, Kekaisaran Austria, Jerman dan Bulgaria pada tahun 1917 serta buntut dikeluarkannya Deklarasi Balfour yang mendukung adanya rumah nasional Yahudi di Palestina, membuat Entitas Yahudi yang terusir dari berbagai negara di dunia termasuk Eropa, bermigrasi ke Palestina sebagai wilayah bagian dari Kekhilafahan Ottoman.  Perang perebutan terusan Suez tersebut, membuat Mesir dan Palestina secara otomatis keberada dalam kekusaan penjajahan Inggris.


Sejak tahun itu, Kekhilafahan Ottoman mengalami kerugian besar akibat perang, sebagian wilayahnya terjajah, kekuatannya melemah, kaum muslimin pun terpecah dan kekhilafahan pun berakhir pada tahun 1924. Dunia Islam semakin terpuruk, nasionalisme-nasionalisme semakin digaungkan, Palestina menjadi negara yang harus berjuang sendiri menghadapi eksodus Yahudi yang semakin menguasai,   hingga kini 78 tahun sudah peristiwa Nakbah atau malapetaka itu terjadi pada saudara-saudara muslim di Palestina, namun mereka belum juga mendapat kemerdekaannya.


Nakbah bukan hanya sejarah, tetapi sebuah kondisi yang terus berulang dan berulang kembali hingga kini. Sejak peristiwa Nakbah pertama pada tahun 1948 Entitas Yahudi mulai melakukan pengusiran kepada penduduk Palestina, menempati rumah-rumah dan memiliki paksa kebun-kebun mereka, Entitas Yahudi semakin meluaskan pendudukannya. Perilaku kaum kera bersenjata ini dianggap legal, bom dan rudal siap diluncurkan setiap saat pada hunian, sekolah, rumah sakit bahkan tempat pengungsian. Banyak pemuda yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara dengan berbagai siksaan, bahkan keputusan hukum pidana terakhir menyatakan bahwa sekitar 10.000 narapidana kasus perlawanan terhadap pemerintah Israel akan mendapatkan hukuman mati tanpa sidang dengan digantung, ditembak atau suntik mati.  


Melihat kondisi tersebut, Liga Arab yang terdiri dari negara-negara yang beranggotakan 22 negara Arab melakukan sidang dan mendesak perlindungan internasional bagi rakyat Palestina dan meminta komunitas global untuk memaksa Israel agar menghentikan pendudukan ilegal mereka atas tanah Palestina, termasuk Yerusalem Timur. (AntaraNews,  Jumat !5 Mei 2026). Dalam berita lain AntaraNews juga menyebutkan bahwa  di Moskow, Para menteri luar negeri negara anggota BRICS sebagi sebuah Aliansi ekonomi dan geopolitik dari negara-negara berkembang juga menyerukan komunitas internasional agar terus mendukung bangsa Palestina dalam upayanya mencapai kemerdekaan dan kedaulatan.    


Sebagai kaum yang dikatakan satu oleh Allah SWT, sejatinya banyak upaya yang telah ditempuh sebagai usaha membebaskan Palestina, hanya saja, solusi yang ditawarkan dalam forum-forum internasional maupun regional tersebut justru semakin mengukuhkan penjajahan terhadap negri-negri kaum muslimin, terutama Palestina. Negara-negara adidaya yang menguasai dunia saat ini tidak berpihak kepada Islam, jadi tidak mungkin mengharapkan kemerdekaan Palestina kepada mereka. Sebuah negara yang berdaulat tidak mungkin membagi negaranya menjadi dua bagian atau  two nation state, karena pasti akan terjadi konflik-konflik susulan sampai satu negara menguasai yang lainnya. Hal ini mencerminkan adanya kegagalan pada sistem kapitalis yang diterapkan di dunia saat ini, ketidakadilan terjadi dimana-mana, bahkan melanggar hak asasi manusia untuk hidup dan merdeka pun hal yang wajar.


Jika dilihat pada sejarah kaum muslimin yang pernah berjaya selama 13 Abad lamanya, Palestina mengalami banyak kejadian penting. Pada tahun 638M pasukan Abu Ubaidah Bin Jarrah telah membebaskan Palestina dari kekaisaran Bezantium romawi, yang kemudian tercetuslah perjanjian Umariyyah yang berisi tentang perlindungan terhadap kaum Kristen dan tempat peribadatan mereka, sebagai gantinya mereka harus membayar Jizyah kepada pemerintahan Islam. Penaklukan kembali Palestina terulang kembali pada 1187M oleh Shalahuddin Al Ayyubi, seorang jendral besar murid dari Nuruddin Zanki, Shalahudin Al Ayyubi berhasil membuat perbedaan penaklukan antara Islam dan pasukan Salibis 88 tahun sebelumnya.jika penaklukan pasukan Salibis terhadap Al Quds diwarnai dengan pemaksaan seluruh masyarakat untuk masuk ke dalam Kristen dan akan disiksa jika melakukannya, maka  Islam memberikan kemudahan bagi pemeluk agama lain, tidak ada paksaan masuk ke dalam agama Islam, siapapun yang ingin tinggal di Yerusalem, baik dia Kristen maupun Yahudi akan dilindugi, namun jika menginginkan untuk pergi ke negara atau kota lain, maka pasukan kaum muslim akan mengantarkan sampai ke kota atau negara tujuan.     


Islam memberikan jaminan keamanan kepada tiga pemeluk agama samawi yang ada di Al Quds selama wilayah ini berada di tangan kaum muslimin, namun kemunduran kaum Islam akibat ditutupnya pintu-pintu ijtihad dan keputusan untuk mengadopsi ide-ide Barat lah yang kemudian menjadikan kaum muslim terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang tersebar di dua pertiga dunia dengan banyak kepemimpinan. Kebijakan-kebijakan mereka tak lagi mewujudkan kesatuan, Umat tak lagi berdaya apalagi berjaya. Al Quds masih menanti untuk dibebaskan, tapi kesadaran umat masih pada level kepedulian tentang kemanusiaan bukan pada perubahan sistem yang menyeluruh.


Jika sistem Islam yang berasal dari wahyu Allah dan sudah dicontohkan oleh rasulullah, serta dilanjutkan oleh Khulafaur Rosyidin dan khalifah-khalifah dari bani Abasiyah, Bani Ummaiyyah dan Bani Utsmaniyah telah memberikan keamanan penuh terhadap seluruh manusia baik muslim maupun non muslim, maka umat harus menyadari dan segera kembali kepada Islam secara kaffah. Bersatu dalam kesatuan layaknya haji ke Baitullah, dengan satu imam yakni khalifah dan menerapkan syariat Islam sebagai aturan kehidupan, serta menyatukan pasukan muslim seluruh dunia dan berjihad membebaskan Al quds dari penjajahan, sehingga umat hidup dalam kedamaian, keamanan serta kesejahteraan.


Wallahu a’lam bi ashhowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update