*Oleh : Windih Silanggiri*
*Pemerhati Remaja*
Lagi-lagi masyarakat dihadapkan pada kondisi sulit. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencetak rekor paling lemah. Per Jumat, 15 Mei 2026, kurs dolar menyentuh Rp17.600. Kondisi ini semakin memperburuk perekonomian masyarakat Indonesia. Karena hampir 70% ekonomi Indonesia bergantung pada bahan baku impor. Dan lebih parahnya, hampir sebagian isi rumah adalah barang-barang yang bahan bakunya impor. Mulai dari tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan, hingga kendaraan pribadi (www.bbc.com, 16-05-2026).
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Asuaibi, menilai bahwa lemahnya nilai rupiah dipengaruhi oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Faktor lain adalah adanya arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed. Ibrahim memprediksi bahwa nilai tukar rupiah tehadap dolar AS bisa mencapai ke level Rp18.000 pada akhir Mei 2026. Jika level tersebut tercapai, maka nilai tukar bisa tembus ke level Rp22.000 (www.tempo.co 16-05-2026).
Banyak masyarakat yang merasakan dampak luar biasa dengan naiknya nilai rupiah terhadap dolar AS. Seperti yang terjadi pada para nelayan di Jawa Tengah. Ratusan kapal nelayan di Pelabuhan Perikanan Tanjungsari, Pemalang tampak bersandar di dermaga tanpa aktivitas bongkar muatan hasil laut pada Sabtu, 16 Mei 2026. Hal ini terjadi lantaran hasil tangkapan ikan yang merosot tajam dan sulitnya untuk mendapatkan solar (rr.co.id, 16-05-2026).
Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Pati. Sebanyak 80 persen nelayan tidak bisa melaut karena harga BBM mahal mencapai 4 kali lipat yaitu Rp30.000-Rp40.000 per liter. Oleh karena itu, ribuan nelayan melakukan aksi demo di depan Kantor Bupati Pati. Mereka meminta harga BBM diturunkan menjadi Rp10.000 per liter (www.detik.com, 04-05-2026).
Kondisi hidup masyarakat yang tak kunjung membaik, akan berdampak pada meluasnya yang terkena jeratan pinjaman online yang kerap disertai bunga. Masyarakat terpaksa mengambil langkah ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di tengah kondisi masyarakat yang semakin terhimpit, justru Presiden Prabowo menanggapi dengan santai. Seperti yang pernah disampaikan dalam pidato peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026, Prabowo menilai masyarakat kecil, terutama di desa, tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak kurs dolar (nasional.kompas.com, 16-05-2026).
*Sistem Kapitalisme Melahirkan Pemimpin Abai*
Apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, seharusnya seorang pemimpin tidak boleh abai. Memang, masyarakat tidak menggunakan secara langsung dolar AS dalam bertransaksi, tetapi mereka adalah pihak yang sangat merasakan dampaknya, terutama masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Kondisi ini seharusnya menjadi sinyal bagi penguasa untuk segera mengambil langkah nyata dalam menyelesaikan masalah secara tuntas.
Terpuruknya kondisi masyarakat, terjadi karena tatanan politik dunia internasional sedang tidak baik-baik saja. Perang antara Iran dan AS sangat berpengaruh pada aktivitas pasar global. Selat Hormuz yang merupakan jalur laut sempit pemisah antara Semenanjung Arab dan Iran, serta menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, adalah sebuah selat yang menjadi jalur strategis distribusi minyak dunia. Jika wilayah ini terjadi konflik, maka aktivitas distribusi minyak ke wilayah negara lain akan terganggu.
Sementara itu, Indonesia adalah salah satu negara pengimpor minyak. Sehingga, akan banyak dolar yang harus dikeluarkan pemerintah untuk membeli minyak. Hal ini akan berdampak pada tingginya kebutuhan dolar, itulah sebabnya nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin anjlok. Fenomena ini, semakin memperburuk keadaan. Dan penguasa tidak peka akan kondisi rakyatnya.
Kekeliruan pemerintah dalam memahami fakta di tengah-tengah masyarakat, berujung pada kesalahan solusi yang diambil. Pemerintah justru memperbaiki hubungan dengan negara-negara tetangga sebagai bagian dari realisasi politik luar negerinya. Hal ini tentu tidak menyelesaikan masalah ekonomi yang ada, tetapi semakin menambah kesulitan hidup masyarakat.
Pada akhirnya, masyarakat secara tidak langsung dipaksa menanggung sendiri beban hidupnya. Mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup, terpaksa mencari pinjaman, meski harus ada bunganya. Hal ini berdampak pada hutang yang semakin menumpuk. Tentu solusi ini bukan solusi tuntas, melainkan solusi tambal sulam. Kondisi masyarakat yang semakin terhimpit karena tidak adanya peran pemerintah dalam menyelesaikan masalah.
Seperti inilah wajah buruk sistem yang dibangun dengan tujuan mencari keuntungan. Sistem Kapitalisme menjadikan keuntungan sebagai penentu arah kebijakan. Sehingga, aturan yang dilahirkan harus mampu menjaga kepentingan para kapitalis dan pasar. Hal ini berdampak pada aktivitas ekonomi yang bergantung pada investasi, pasar global, dan dolar AS. Sedangkan rakyat, dipaksa untuk menanggung sendiri akibat krisis yang terjadi.
Lantas, bagaimana solusi tuntas atas persoalan ini? Rakyat dapat hidup tenang dan sejahtera.
*Pemimpin Adalah Raa'in*
Islam bukan hanya agama ritual semata, melainkan sebuah sistem kehidupan yang telah Allah turunkan untuk umat manusia. Islam memiliki seperangkat aturan yang mampu menyelesaikan persoalan bahkan sampai pada titik pencegahan agar persoalan tidak muncul. Dalam Islam, sistem ekonomi wajib berasaskan akidah Islam. Sehingga, aturan yang dilahirkan tidak boleh bertentangan dengan syari'at Islam.
Islam menetapkan bahwa sistem mata uang bukan dengan kertas, melainkan dengan emas (dinar) dan perak (dirham). Mata uang ini memiliki nilai nominal dan intrinsik yang setara. Selain itu, dinar dan dirham juga tahan terhadap inflasi karena negara tidak akan sembarangan mencetak uang karena negara harus menyesuaikan ketersediaan emas dan perak. Hal ini berdampak pada peredaran uang di masyarakat yang tidak dapat dipermainkan. Sehingga, roda perekonomian juga akan lebih stabil.
Selain itu, negara akan menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme tertentu yang ditetapkan oleh syariat Islam. Mekanisme ekspor impor diatur bukan berdasarkan keuntungan semata. Melainkan harus memperhatikan kekuatan ekonomi, keamanan, dan politik. Segala kepemilikan umum seperti barang tambang dan sumber energi migas (minyak bumi dan gas alam) akan dikelola oleh negara dan tidak akan diekspor ketika kebutuhan dalam negeri belum tercukupi. Hasil pengelolaan migas akan dikembalikan kepada kemaslahatan rakyat.
Pemimpin dalam Islam berperan sebagai Raa'in (pengurus) sekaligus Junnah (pelindung) bagi seluruh rakyat. Oleh karena itu, kesejahteraan setiap individu rakyat akan menjadi tanggung jawabnya. Pemimpin tidak boleh membiarkan rakyatnya hidup dalam kesengsaraan.
Sempurnanya aturan Islam akan mampu membawa keberkahan hidup manakala diterapkan secara keseluruhan dalam bingkai Khilafah Islamiyah.
Wallahu a'lam bisshawab
No comments:
Post a Comment