-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen Z Dalam Kubangan Krisis Mental

Sunday, July 19, 2026 | July 19, 2026 WIB Last Updated 2026-07-19T18:31:42Z

 


                      Oleh : Windih Silanggiri

                            Pemerhati Remaja


Generasi Z adalah salah satu generasi penerus bangsa di masa depan. Akan selalu ada harapan untuk menjadikan negara yang di dalamnya terkumpul kebaikan, baik dari alam maupun tingkah laku penghuninya. Namun, harapan ini seolah-olah sulit tercapai karena sebagian besar generasi z berada dalam kondisi kesehatan mental yang perlu diwaspadai. 


Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menunjukkan hampir 10 persen atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa, seperti kecemasan. Di antaranya sekitar 338 ribu anak mengalami gejala cemas (anxiety disorder) dan sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).


Sedangkan menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa sepanjang 2023 terdapat 46 kasus bunuh diri dengan rentang usia 10-17 tahun. Pada 2024 terdapat 43 kasus dengan rentang usia 13-17 tahun dan pada 2025 terdapat 27 kasus dengan rentang usia 11-18 tahun (tirto.id,12-03-2026). 


Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memprediksi bahwa terdapat satu dari tujuh atau 14,3 persen anak berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Fenomena ini menyumbang 15 persen dari beban penyakit global pada kelompok usia ini. Namun, sebagian besar kondisi tersebut tidak dikenali dan belum ada tindakan pengobatan (kompas.id, 18-06-2026).


Banyak jumlah gen z yang mengalami hal tersebut, tentu tidak muncul secara tiba-tiba. Beberapa faktor pemicu timbulnya gen z mengalami gangguan kesehatan mental pun beragam. Seperti ketidakpastian akan masa depan sebesar 60 persen, tekanan finansial sebanyak 57 persen, ekspektasi sosial 42 persen, dan perasaan tidak berdaya terhadap situasi di luar kendali sebanyak 36 persen (data.goodstats.id, 08-04-2026).


Di belahan bumi yang lain, juga mengalami hal yang sama. Berdasarkan data yang dirilis Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS), Kamis 26 Februari 2026, menyebutkan bahwa anak muda Inggris berusia 16-24 tahun yang menganggur pada triwulan IV tahun 2025 mencapai 957.000 orang. Jumlah itu meningkat dibandingkan pada triwulan III dengan 946.000 orang.


Tingkat pengangguran pemuda berusia 16-24 tahun di China pada Desember 2025 mencapai 16,5 persen. Jumlah itu sedikit menurun dibandingkan sebulan sebelumnya dengan 16,9 persen. Pertengahan tahun lalu, jumlah lulusan universitas mencapai 12,2 juta orang. Hal itu mendorong lonjakan pengangguran muda hingga 18,9 persen (www.kompas.id, 27-02-2026).


Sedangkan menurut laporan Harmony Healthcare IT pada 2023, 1 dari 2 gen Z mengalami kecemasan setiap harinya. Perasaan ini muncul akibat kekhawatiran mereka terhadap masa depan, keuangan, pekerjaan, aktivitas sosial, dan relasi. Sementara itu, sebanyak 46 persen mengaku merasa sendirian menghadapi kesulitan hidup sehingga menjadikan mereka semakin berat menjalaninya (mojok.co, 30-04-2026).


*Masa Depan Gen Z Dilemahkan Oleh Kapitalisme*


Apa yang terjadi pada gen z di belahan bumi manapun terhadap kecemasan akan ketidakpastian masa depan mereka, adalah sebuah fenomena yang berkaitan erat dengan suasana kehidupan saat ini. Kehidupan hari ini sangat dipengaruhi oleh sistem yang menjadikan para kapital atau pemilik modal besar menjadi penentu kebijakan. Inilah yang dinamakan Sistem Kapitalisme. Sebuah sistem kehidupan yang menjadikan keuntungan secara materi sebagai tujuan utama. 


Sistem Kapitalisme telah melegalkan hak kepemilikan individu. Sehingga, para kapital akan menguasai hajat hidup orang banyak dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Hal ini berdampak pada naiknya harga kebutuhan hidup dan sulitnya gen z untuk mendapatkan akses kesejahteraan. 


Sementara itu, peran negara dalam sistem ini bukan sebagai pengurus utama untuk memudahkan rakyatnya dalam mendapatkan akses kesejahteraan. Pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan sulit dijangkau karena kebutuhan pokok tersebut tergantung pada mekanisme pasar yang penuh dengan ketidakpastian. Pada akhirnya, gen z akan mengalami tekanan ekonomi yang semakin sulit diatasi dan cemas akan nasibnya kelak di kemudian hari. 


Lebih parah lagi, potensi gen z sengaja dilemahkan oleh sistem ini. Sistem yang berasaskan sekulerisme menjadikan nilai agama dijauhkan dari pengaturan kehidupan. Hal ini berdampak pada hilangnya pondasi agama sehingga gen z kesulitan dalam menentukan arah tujuan hidup dan menilai makna bahagia. Pada akhirnya, gen z akan dihadapkan pada kondisi tekanan ekonomi yang tak berujung, hilangnya jati diri sebagai seorang muslim, kecemasan, dan kehilangan makna hidup. 


Kondisi gen z yang kian sulit, alih-alih mendapatkan perhatian oleh negara. Justru negara abai kepada mereka. Kerap kali gen z mendapatkan stigma negatif, yaitu generasi yang tidak tahan terhadap tekanan dan rapuh. Upaya serius untuk memahami kondisi mereka dalam menghadapi tantangan yang sulit, belum mereka rasakan sepenuhnya. Namun, di balik kondisi gen z saat ini, perlahan-lahan muncul kesadaran dan keberanian untuk bangkit menuju kondisi yang ideal. 


*Islam Membawa Ketenangan Hidup*


Islam diturunkan oleh Allah bukan hanya mengatur ibadah ritual. Melainkan, sebuah agama yang dilengkapi dengan seperangkat aturan sebagai tuntunan hidup manusia, termasuk gen z. Sehingga, ketenangan hidup dapat dirasakan. Karena dengan menerapkan aturan Islam secara sempurna, Allah akan menurunkan rahmat bagi seluruh alam. 


Islam mengajarkan tentang keyakinan bahwa sandaran yang paling kuat bukan terletak pada manusia itu sendiri, melainkan sebaik-baik tempat bersandar adalah Allah semata. Sehingga, apapun bentuk ujian hidup yang datang, gen z akan mampu menghadapinya dengan penuh tawakal. Karakter seperti ini telah terbukti pada masa kejayaan Islam. Generasi di masa penerapan Islam, memiliki kepribadian Islam yang kokoh. Mereka tidak hanya kuat imannya, tetapi juga memiliki akal yang cerdas dalam berbagai bidang keilmuan. 


Namun, karakter seperti yang pernah terjadi pada masa kejayaan Islam, tidak bergantung pada usaha individu semata. Di sana hadir peran negara sebagai Raa'in (pengurus) dan Junnah (Pelindung) bagi rakyat. Negara akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan. Sedangkan kebutuhan akan kesehatan, pendidikan, dan jaminan keamanan dapat mereka rasakan secara gratis dan berkualitas. 


Negara akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dengan memberikan gaji yang layak. Setiap laki-laki akan dipastikan memiliki pekerjaan karena bekerja adalah sebuah kewajiban. Bagi laki-laki yang tidak memiliki keahlian, negara akan memberikan pelatihan gratis tanpa batas waktu. Sedangkan, jika tidak memiliki modal, mana negara akan memberikan modal tanpa harus mengembalikan. 


Dengan mekanisme tersebut, gen z tidak akan merasa cemas akan masa depannya. Karena kebutuhan pokok mereka akan dengan mudah terpenuhi. Dengan demikian, mereka akan merasakan ketenangan dalam hidup. Oleh karena itu, generasi muda harus memiliki kesadaran dan peduli terhadap kondisi umat hari ini. Gen z harus mengambil peran strategis untuk mengembalikan Islam sebagai pedoman hidup agar kesejahteraan dan keberkahan bisa dirasakan. Sehingga, tidak ada lagi hidup dalam kecemasan. 


Wallahu a'lam bisshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update