Oleh : Yeni Ummu Alvin
Aktivis Muslimah
Duka kembali melanda negeri ini, bencana datang silih berganti, sejak November tercatat telah terjadi banjir, longsor, angin kencang/puting beliung dan abrasi pantai di berbagai daerah. Tiga daerah di provinsi Sulawesi Tengah Sulteng dikepung banjir hingga angin puting beliung selama 2 hari terakhir akibat cuaca ekstrem. Angin puting beliung, banjir dan abrasi pantai dilaporkan terjadi di Kabupaten Tolitoli, Morowali Utara dan Buol, kata kepala pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Akris Fattah Yunus, dalam keterangan tertulis, Minggu (23/11).
Sementara itu, banjir besar juga melanda 3 provinsi di pulau Sumatera yaitu Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara, ribuan warga yang menjadi korban dan masih banyak lagi yang belum terevakuasi bahkan ratusan lainnya masih dalam pencarian. Tidak hanya korban jiwa, banjir juga menenggelamkan sejumlah desa dan menghancurkan berbagai infrastruktur di wilayah tersebut.Beberapa hari sebelum bencana terjadi, BMKG telah melaporkan bahwa akan terjadi hujan ekstrem dengan curah tinggi, namun cukup disayangkan peringatan ini tidak mampu meminimalisir kerugian dari bencana yang terjadi. BNPB dan BPBD mengalami kesulitan dalam proses evakuasi akibat kendala cuaca dan medan yang rumit serta keterbatasan tim.
Banjir memang disebabkan oleh curah hujan yang ekstrem, namun berubahnya curah hujan menjadi banjir bandang tidak lain disebabkan oleh ulah tangan manusia,massifnya penebangan hutan dan deforestasi menyebabkan terjadinya alih fungsi hutan. Banjir sudah kerap terjadi di negeri ini, namun bencana yang terjadi kali ini merupakan yang terparah dari yang pernah terjadi sebelumnya, dan sayangnya negara yang rawan bencana masih juga belum siap dalam mitigasi bencana. Saat bencana terjadi negara tidak tanggap, peringatan dari BMKG tidak dihiraukan,kerugian pun tidak terelakkan lagi.
Bencana kali ini tidak hanya menghanyutkan rumah, perkampungan dan infrastruktur, tetapi juga membuka topeng penguasa yang katanya mengurusi rakyat, saat ini masih banyak mayat yang bergeletakan atau tertimbun reruntuhan longsoran, bahkan ada pula yang tertimbun gelondongan kayu, ini membuktikan kegagalan negeri ini dalam melindungi rakyatnya dari bencana yang melanda.
Seyogyanya bencana alam banyak terjadi akibat dari kesalahan tata kelola ruang hidup dan lingkungan,hutan di privatisasi,keserakahan manusia dan penguasa menyebabkan alam dieksploitasi hingga hutan tidak mampu lagi menahan curah hujan yang ekstrem, penanganan bencana juga lamban, bahkan penguasa terkesan balik badan dan nir empati terhadap bencana yang menimpa rakyat. Akar masalah dari banjir longsor dan bencana alam yang terjadi adalah akibat dari penerapan sistem kapitalis, dimana pembangunan yang dilakukan telah menyebabkan kerusakan, kebijakan yang pro kapitalis tidak berpihak pada rakyat kecil dan tidak ramah lingkungan,Pemerintah sebagai penanggung jawab penanganan kebencanaan tidak serius menyiapkan mitigasi bencana yang dibutuhkan rakyatnya.
Untuk mengatasi bencana alam yang menimpa negeri ini harus dengan solusi yang komprehensif, yaitu solusi yang tuntas sampai ke akar permasalahannya, jalan satu-satunya adalah dengan mengganti ideologi kapitalisme yang rusak dan merusak dengan ideologi Islam sebagai sistem kehidupan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam QS Ar Rum ayat 41, artinya "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar".
Pembangunan dalam sistem kapitalisme telah mengakibatkan bencana yang tak berkesudahan, Hal ini dikarenakan tata kelola lingkungan tidak berpihak pada kelestarian alam, berbeda dengan Islam yang menjadikan manusia sebagai penjaga yang bertanggung jawab atas keseimbangan alam, pembangunan dalam Islam harus dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syariat berdasarkan ketaatan kepada Allah bukan karena kepentingan segelintir elit, untuk memastikan semua ini negaralah yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya alam demi kemaslahatan umat. Paradigma pembangunan Islam yang berlandaskan syariat dan berorientasi pada kemaslahatan rakyat inilah yang akan melahirkan tata kelola lingkungan yang tertib dan nyaman.
Negara Islam juga cepat tanggap dalam menyelamatkan rakyatnya dan menjamin kebutuhan mereka agar tetap terpenuhi dengan baik di saat terjadinya bencana. Negara juga akan melakukan evaluasi untuk memastikan tidak ada kelalaian dalam pengelolaan lingkungan yang dapat menyebabkan bencana serta akan memberikan sanksi tegas kepada pihak yang lalai atau melanggar aturan syariat. Islam juga akan menumbuhkan ketakwaan individu sebagai pondasi moral dalam menjaga kelestarian alam, sehingga dengan begitu seseorang akan senantiasa berhati-hati agar tidak merusak lingkungan, termasuk menebang pohon sembarangan, apalagi sampai merusak habitat makhluk lain. Seorang pemimpin akan senantiasa melaksanakan fungsinya sebagai pelindung dan perisai bagi rakyatnya, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Khilafah juga akan secara sungguh-sungguh dalam melakukan mitigasi bencana agar bisa meminimalisir risiko dan korban apabila terjadi bencana, sudah saatnya kembali kepada aturan Islam secara Kaffah, yang akan membawa berkah bagi seluruh alam, manusia dan juga kehidupan. Hanya dengan Islam bumi akan menjadi berkah dan hujan menjadi rahmat.
Wallahu a'lam bishowab.

No comments:
Post a Comment