Oleh : Eliska Sari, S.Pd
Pemerintah Kota Samarinda meluncurkan Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak (GEMAR) mulai Desember 2025. Melalui kebijakan ini, para ayah didorong untuk hadir langsung ke sekolah saat pengambilan raport, dengan memberikan dispensasi kerja bagi ayah agar bisa hadir ke sekolah anaknya. Kebijakan ini bertujuan mengatasi fenomena fatherless atau hilangnya peran ayah dalam pendidikan anak.
Fenomena fatherless atau ketiadaan peran ayah dalam pendidikan anak memang menjadi masalah serius di negara ini. Menurut data Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA, 2021) menyebutkan bahwa:
Indonesia termasuk negara dengan tingkat “Fatherless” tertinggi ke-3 di dunia, setelah Amerika Serikat dan Brasil. Sekitar 60–70% anak Indonesia tumbuh tanpa keterlibatan aktif ayah. 4,4 juta dari mereka hidup tanpa sosok ayah, sementara 11,5 juta anak lainnya memiliki ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu , membuat para ayah nyaris tak terlibat dalam keseharian anak. Akibatnya anak kehilangan figur ayah sebagai pemimpin, kurang memiliki rasa tanggung jawab, bahkan tidak sedikit yang menjadi kurang mendapat kasih sayang. Berdasarkan fakta dan data inilah pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan problem ini, tapi apakah cukup dengan ayah sekedar mengambil raport anak ke sekolah?
Dalam memandang suatu masalah, tentu kita perlu melihat dan mengkritisi apa akar masalah sehingga fenomena fatherless ini bisa muncul bahkan semakin banyak. Fenomena fatherless yang kian banyak bukan sekedar masalah individu, tapi persoalan struktural. Banyak ayah yang ingin berperan dalam pendidikan dan keseharian anak, tapi sistem kehidupan hari ini memaksa mereka menjadi “mesin nafkah”, dengan jam kerja yang panjang. Sehingga fakta ini bukan hanya membuat anak kehilangan peran ayah, tapi juga motherless (ibu yang lelah karena mendidik dan mengurus anak sendiri) sampai akhirnya anak kehilangan figur teladan dari orangtua terutama sosok ayah.
Sehingga banyak fenomena fatherless hari ini bukan karena ayah tidak cinta keluarga, tetapi karena sistem memaksa ayah jauh dari keluarganya. Disisi lain ada pula para ayah yang hadir secara fisik, tapi tidak paham peran mereka sebagai ayah. Hidup di sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, membuat lemahnya pemahaman agama para ayah, sehingga tidak paham tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga sekaligus teladan bagi anak.
Sejatinya kualitas generasi dipengaruhi banyak faktor, yang mengiringi perjalanan hidup seorang anak. Oleh karena itu, pembentukan generasi yang berkualitas membutuhkan supporting sistem yang kuat dan berkualitas sepanjang hidup anak, termasuk ayah yang berkualitas. Mirisnya hari ini, ayah juga menjadi korban sistem yang diterapkan sehingga belum menjadi ayah yang berkualitas.
Maka, dengan memberikan dispensasi kerja kepada para ayah untuk mengambil rapor, tapi negara tetap dengan sistem kerja yang eksploitatif kepada para ayah, serta tidak ada pemahaman yang diberikan atas pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak, maka himbauan untuk ayah mengambil rapor anak saja tidak cukup untuk mengatasi problem sistemik ini.
Jika kita melihat perkara ini dalam perspektif Islam, maka Islam tidak menyalahkan sosok ayah semata, apalagi membebani sosok ibu sendirian dalam pengasuhan dan pendidikan anak, tapi Islam menyediakan supporting sistem yang utuh. Sistem Islam akan membangun ketahanan keluarga dengan melejitkan peran ayah sebagai qawwam (pemimpin dan pelindung), selain itu Negara Islam akan menguatkan peran ibu selaku sahabat dan mitra ayah dalam mendidik generasi dan mengatur keluarga.
Islampun menjadikan kualitas generasi tidak hanya menjadi tanggung jawab orangtua, selalu ayah dan ibu. Tapi juga disertai support system, termasuk peran masyarakat yang hidup dengan amar makruf nahi munkar dan negara yang akan berperan mengatur sistem kerja yang manusiawi.
Maka, fatherless tidak cukup diatasi dengan gerakan seremonial, sebagaimana ayah mengambil rapor anak 2 kali setahun. Tapi perubahan generasi harus dengan perubahan sistem, penerapan Islam Kaffah meniscayakan terbentuk generasi pelopor perubahan yang jauh dari fatherless.
Wallahua’lam bishshawab
