-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menggagas Pendidikan Islam Dalam Momen Hardiknas

Wednesday, June 17, 2026 | June 17, 2026 WIB Last Updated 2026-06-17T19:31:58Z


Oleh Hasnah (Pakar Kesehatan Masyarakat)

 

 Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati dengan penuh seremoni: diwarnai pidato, slogan inspiratif, hingga berbagai kegiatan simbolis, seolah menunjukkan perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Namun, di balik semua seremoni tersebut, realitas justru menunjukkan kondisi sebaliknya: dunia pendidikan hari ini makin memprihatinkan, ditandai maraknya berbagai persoalan serius yang terus berulang tanpa penyelesaian tuntas. Kasus kekerasan, pelecehan, kecurangan akademik, hingga degradasi adab pelajar, menjadi gambaran nyata bahwa ada sesuatu yang keliru pada fondasi sistem pendidikan saat ini.

Fenomena ini tentu tidak bisa lagi dipandang sebagai kejadian sporadis atau kesalahan individu semata, melainkan indikasi kuat adanya persoalan mendasar dan sistemis yang belum disentuh secara serius dan menyeluruh. Akibatnya, peringatan Hardiknas seakan sekadar rutinitas tahunan tanpa makna perubahan, sedangkan krisis dalam dunia pendidikan terus berlangsung dan kian mengkhawatirkan.

Wajah Suram Dunia Pendidikan

April 2026, di UI 16 mahasiswa FK terbukti melakukan chating di grup berisi pelecehan seksual terhadap rekan mahasiswi dan beberapa dosen perempuan. Di ITB, Mahasiswa Fakultas Tehnik menyanyikan lagu Erika yg isinya penuh denga kata-kata supervulgar. Di IPB, 16 Mahasiswa Mesin juga melakukan chat mesum sebagaimana di UI.

Di Surabaya, Jawa Timur, terungkap kasus kecurangan berupa praktik perjokian dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) di tiga perguruan tinggi. Dua pelaku berhasil ditangkap. Hal ini jelas mencoreng wajah dunia pendidikan Indonesia. Akan dibawa ke mana kepemimpinan generasi masa depan jika dalam pendidikan saja mereka berani melakukan sikap manipulatif

Selain itu, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa juga menunjukkan tren yang makin mengkhawatirkan dan menjadi salah satu indikator serius akan rusaknya lingkungan pendidikan. Laporan dan pengungkapan kasus oleh aparat menunjukkan bahwa dalam sebagian kasus, pelajar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga terlibat sebagai pengedar. Hal ini diperparah dengan kemudahan akses terhadap narkoba, baik melalui pergaulan bebas maupun jaringan digital yang makin sulit diawasi.

Usia pengguna narkoba pun makin muda, bahkan ada yang masih berstatus pelajar aktif. Modus peredaran juga kian beragam, mulai dari transaksi langsung hingga menggunakan media sosial dan aplikasi pesan. Kondisi ini menandakan bahwa lingkungan pendidikan tidak lagi steril dari pengaruh narkoba, bahkan justru menjadi target pasar empuk bagi para pengedar.

Sungguh, berbagai fenomena suram ini menunjukkan adanya degradasi yang begitu serius di dunia pendidikan. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan sekolah maupun kampus—yang semestinya menjadi tempat aman bagi peserta didik untuk menimba ilmu dan membangun masa depan. Tindakan-tindakan semacam ini yang justru marak terjadi di ruang pendidikan, menandakan adanya krisis mendalam bukan hanya pada aspek pengawasan, melainkan juga pada nilai, moral, dan sistem yang menaunginya. Rasa aman yang semestinya menjadi hak dasar setiap pelajar dan mahasiswa, perlahan terkikis, tergantikan oleh kekhawatiran dan ketidakpastian.

Ini semua adalah indikasi bahwa institusi pendidikan tidak lagi sepenuhnya mampu menjalankan fungsinya sebagai tempat yang melindungi, apalagi membentuk generasi beradab. Wajar jika muncul pertanyaan besar, apa sebenarnya yang salah dalam sistem yang berjalan saat ini?

Rusaknya Pendidikan karena Sekularisme Kapitalisme 

Semua situasi di atas sejatinya tidak bisa dilepaskan dari lemahnya pengawasan, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, serta kurangnya pembinaan nilai dan ketahanan diri pada pelajar. Namun pada hakikatnya, ini karena sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan hari ini telah mengubah arah pandang dunia pendidikan yang semestinya membentuk ketahanan syahsiah (kepribadian) islamiah yang tangguh pada diri anak-anak didik, khususnya generasi muda. Mereka menjadi mudah terjerumus ke dalam perilaku negatif tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya merusak masa depan individu pelajar, tetapi juga mengancam kualitas generasi dan masa depan bangsa secara keseluruhan.

Dalam sistem kapitalisme pula, materi dan keuntungan adalah orientasi utama. Pendidikan tidak dipandang sebagai sarana membentuk manusia berilmu dan bersyahsiah (berkepribadian) islamiah, melainkan alat untuk mencetak tenaga kerja yang siap memenuhi kebutuhan pasar. Akibatnya, nilai kejujuran, tanggung jawab, dan adab makin terpinggirkan, sedangkan praktik kecurangan, persaingan tidak sehat, dan orientasi hasil instan, justru tumbuh subur.

Oleh karenanya, momentum Hardiknas telah menunjukkan adanya alarm keras bahwa pendidikan dalam sistem kapitalisme hanya sebagai sarana transfer ilmu dan tidak mampu menjadi institusi pembentuk karakter dan penjaga nilai. Kurikulum, metode pendidikan, lingkungan belajar, hingga arah kebijakan yang diterapkan juga belum mampu melahirkan generasi yang berintegritas dan berkepribadian tangguh. Bahkan dalam banyak kasus, sistem ini justru memberi ruang bagi tumbuhnya perilaku menyimpang karena lemahnya penanaman nilai dan pengawasan negara.

Semestinya juga, Hardiknas menjadi momentum refleksi mendalam untuk mengevaluasi akar persoalan, bukan sekadar memperbaiki gejala di permukaan. Harus siap beralih ke sistem yang mampu melakukan perbaikan yang tidak hanya menyentuh fondasi pendidikan, melainkan juga mengarahkan perbaikan pada berbagai krisis yang ada agar persoalan pendidikan ini tidak terus terjadi.

Ketika kita tetap mempertahankan pelaksanaan pendidikan dengan mengacu pada sistem sekuler kapitalisme, maka arah pendidikan kehilangan tujuan hakiki. Ini karena pendidikan dalam sistem sekuler tidak berorientasi pada pembentukan manusia berkepribadian mulia, melainkan lebih menitikberatkan pada pencapaian akademik dan kesuksesan materi semata. Ukuran keberhasilan hanya dilihat dari nilai, gelar, dan peluang kerja, bukan dari kualitas moral dan kepribadian.

Dari situ, lahirlah generasi yang cenderung sekuler dalam berpikir, liberal dalam bersikap, dan pragmatis dalam bertindak. Mereka lebih mengutamakan hasil instan tanpa mempertimbangkan nilai benar dan salah menurut Zat Yang Maha Pencipta. Pelajar jadi lebih fokus pada hasil cepat daripada usaha yang jujur dan berkelanjutan. Berbagai jalan pintas dianggap wajar, seperti menyontek, menggunakan jasa joki, hingga menghalalkan segala cara demi meraih nilai atau prestasi. Ini semua menunjukkan bahwa orientasi sistem telah menggeser makna pendidikan, yakni dari proses pembentukan karakter menjadi sekadar alat untuk mendapatkan hasil instan.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update