Lebaran Idulfitri adalah sebuah momen tahunan yang dinanti untuk mudik ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga tercinta. Rasa suka cita membuncah di dalam dada untuk segera melepas rindu dengan sanak keluarga. Namun, di balik rasa bahagia, tersimpan khawatir akan fenomena tahunan yang selalu mewarnai. Yakni kemacetan dan kecelakaan yang selalu memakan korban. Kecelakaan dan kemacetan yang setiap momen mudik, seolah-olah sulit terselesaikan. Baik arus mudik maupun balik, keduanya senantiasa terbayang-bayang dengan fenomena ini.
Seperti yang terjadi di jalur selatan Nagreg. Arus mudik di wilayah ini telah mengalami peningkatan signifikan menjelang Hari Raya Idulfitri 2026. Kemacetan panjang terpantau di sejumlah titik, terutama di kawasan Cicalengka dengan antrean kendaraan yang mengular hingga mencapai lima kilometer. Berdasarkan data Dishub Kabupaten Bandung, terdapat lebih dari 190 ribu kendaraan telah melintasi jalur selatan Nagreg pada puncak arus mudik tahun ini. Kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor dari arah Bandung dan Jakarta telah mendominasi jalur menuju Jawa Barat Selatan hingga Jawa Tengah (metrotvnews.com, 19-03-2026).
Sementara itu, kecelakaan maut telah terjadi di Tol Pejagan-Pemalang (PPTR) KM 290 jalur B antara Bus dengan mobil LCGC Toyota Calya. Kecelakaan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pagi, jalur kecelakaan saat itu digunakan untuk one way arah Pemalang. Berdasarkan keterangan Kapolres Tegal, AKBP Bayu Prasatyo, Kamis, 19 Maret 2026, terdapat empat orang penumpang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka (kumparan.com, 19-03-2026).
Kemacetan juga terjadi Rabu, 18 Maret 2026 di Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Antrean kendaraan roda dia dan empat masih mengular hingga Pura Tirta Segara Rupek atau delapan kilometer menuju Pelabuhan Gilimanuk. Dilaporkan bahwa seorang ibu rumah tangga asal Kebumen, Jawa Tengah dilaporkan meninggal dunia setelah pingsan saat mengantre berjam-jam di dalam bus untuk keluar dari Bali. Sebelumnya, sebanyak 17 pemudik juga tumbang akibat kelelahan dan paparan cuaca panas saat mengantre masuk kapal (suara.com, 19-03-2026).
Korlantas Polri mengungkapkan bahwa angka kecelakaan yang terjadi selama arus mudik Lebaran 2026 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Paminbinwas Subdit Dakgar Dirgakkum Korlantas Polri, Ipda Hanny Neno, mengatakan bahwa jumlah ini dihimpun selama periode 13-19 Maret 2026. Data korban meninggal dunia turun 13,50 persen. Sedangkan, untuk luka berat naik 9,42 persen dan luka ringan naik 19,63 perse untuk laka lantas (kumparan.com, 19-03-2026).
*Macet Tahunan, Bukti Buruknya Pelayanan Publik*
Kemacetan dan kecelakaan selalu menjadi momok setiap tahun saat arus mudik maupun balik. Hal ini menggambarkan bahwa upaya pemerintah untuk menanggulanginya belum mencapai titik serius. Tradisi mudik yang setiap tahun pasti terjadi, seringnya tidak ada upaya signifikan untuk mengatasi kemacetan bahkan kecelakaan. Upaya teknis yang dilakukan, nyatanya tidak mampu mengatasi persoalan kemacetan parah.
Permasalahan mudik berkaitan erat dengan minimnya layanan transportasi umum yang nyaman dan murah. Fakta ini mengakibatkan masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada transportasi umum. Fakta ini mengakibatkan jumlah kendaraan pribadi melebihi kapasitas jalan yang tersedia. Di sisi lain, kondisi jalan banyak yang rusak sehingga menambah resiko terjadinya kecelakaan. Fenomena lonjakan kendaraan dan rusaknya jalan, akan semakin memperparah kemacetan bahkan rawan kecelakaan hingga memakan korban meninggal dunia.
Kejadian ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah agar segera menyelesaikan persoalan ini hingga tuntas. Namun, pemerintah justru abai dengan keselamatan dan kenyamanan rakyat selama mudik. Bahkan hanya sekadar mencukupkan pada teknis transportasi semata. Hal ini tidak terlepas dari adanya pengaruh Sistem Kapitalisme yang dianut negeri ini.
Negara dalam sistem kapitalisme hanya berperan sebagai regulator semata bukan pengurus urusan rakyat secara langsung. Oleh karena itu, menyelesaikan persoalan ini hanya bisa tuntas ketika negara mengambil peran sebagai pengurus urusan rakyat secara langsung.
*Islam Menjaga Jiwa*
Fungsi negara dalam Islam adalah sebagai Raa'in yaitu pengurus urusan rakyat. Negara ini adalah Khilafah. Tugas khalifah tidak hanya sekadar mengurus urusan rakyat, tetapi sampai pada kondisi menyelesaikan permasalahan rakyat secara tuntas. Karena sejatinya, kekuasaan pemimpin negara adalah bentuk amanah dari Allah untuk dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Negara Khilafah akan menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah dalam jumlah yang mencukupi. Negara melakukan ini semata-mata karena bentuk keimanan kepada Allah bahwa kelak kekuasaan yang dimiliki akan dimintai pertanggungjawaban. Negara juga akan menyediakan jalan yang cukup dan memperbaiki yang rusak sehingga aman bagi pengguna jalan.
Dengan sendirinya, masyarakat akan memilih menggunakan transportasi umum daripada kendaraan pribadi. Selain itu, jalan yang telah diperbaiki akan berdampak pada kelancaran mobilitas masyarakat, keamanan selama berkendara, dan dapat menekan angka kecelakaan.
Demikianlah pengaturan Islam terkait layanan tranportasi umum yang tidak hanya mengurusi hal teknis. Tetapi, memastikan bahwa keselamatan, keamanan, dan kenyamanan rakyat selama berkendara dapat dirasakan dengan fasilitas yang murah dan berkualitas.
Wallahu a'lam bisshawab
No comments:
Post a Comment