-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Adiksi Mengalahkan Empati, Nyawa Tak Berharga Lagi

Sunday, April 26, 2026 | April 26, 2026 WIB Last Updated 2026-04-26T09:40:40Z

 


                  Oleh Yuli Mariyam (Pendidik                                              Generasi Tangguh)


Seorang pemuda di Lahat, Sumatra Utara telah membakar dan memutilasi ibu kandungnya, berita itu mecuat saat ada kecurigaan tetangga sekitar yang tidak pernah melihat korban selama seminggu terakhir dan munculnya bau yang sangat menyengat dari pekarangan korban, terakhir dikatakan bahwa bau tersebut berasal dari karung yang berisi potongan mayat korban yang hangus terbakar (MetroTV, 9 April 2026).


Kasus yang kemudian ditangani pihak kepolisian itu mengungkap bahwa korban telah dibunuh dan dimutilasi oleh anak kandungnya karena tidak memberikan sejumlah uang, pelaku kemudian menghabisi nyawa korban dan mengambil perhiasan emas seberat 6 gram untuk  dipakai judi online. Berita miris seperti ini bukan lah pertama kali ada di negeri yang katanya kaya akan empati, namun pergeseran budaya yang terus menerus digeruskan kepada generasi, membuat hilangnya rasa kasih sayang dan menghalalkan segala cara hanya untuk memenuhi hawa nafsu pribadi. 


Judi atau mengadu nasib dengan benda yang dipertaruhkan, baik itu online atau offline merupakan budaya rusak yang sudah ada semenjak jaman dulu, melalui undian anak panah Abdullah bin Abdul munthalib, ayah rasulullah hampir kehilangan nyawanya, dengan sabung ayam orang bisa kehilangan sejumlah hartanya, bahkan dalam sebuah legenda Mahabarata, keluarga Pandawa harus kehilangan kerajaan, martabat keluarga, dan kehormatan seorang istri. Semuanya terjadi hanya karena menginginkan sesuatu yang dianggap sebagai jalan kebahagiaan dengan cara instan tanpa peduli bahwa hal tersebut sejatinya adalah kedzoliman pada dirinya sendiri bahkan menyeret orang-orang terdekat. Parahnya, layaknya permainan rasa bangga itu muncul ketika musuhnya mengalami kebangkrutan.


Pemahaman Sekular, Merusak Umat Sampai ke Akar.


Sistem ekonomi kapitalis yang diemban oleh negara saat ini telah berhasil menciptakan kesenjangan ekonomi di masyarakat, kelompok kapital atau pemilik modal besar seringkali memperlihatkan kehidupan hedonis mereka dengan menggunakan barang-barang branded, liburan keluar negri, menikmati fasilitas mewah dan berburu kuliner enak hanya karena ingin menunjukkan eksistensi dirinya yang fomo dengan trend yang ada, kemudian rasa puas akan muncul sebagai indikasi kebahagiaan.


Di sisi yang lain masyarakat dengan ekonomi lemah melihat dengan kondisi yang berbeda, perekonomian yang sulit, harga sembako yang kian melangit, PHK dimana-mana, biaya pendidikan dan kesehatan yang mahal semakin membuat rakyat harus pontang panting hanya untuk bisa bertahan hidup. Uang yang dianggap sumber dari penyelesaian masalah akan berusaha didapatkan dengan berbagai cara, ketika yang halal tidak mampu dipertahankan maka yang haram pun akan dilakukan, mencuri, merampok, merampas, korupsi bahkan membunuh. 


Tindak kriminal yang meningkat saat ini tak lepas dari peran negara. Seperti diketahui situs-situs pinjaman online dan judi online makin marak di sosial media, dengan mudah bisa diakses oleh masyarakat bahkan anak-anak di bawah umur. Salah sentuh saja jeratan tersebut akan selalu membayangi untuk diambil dan yang pasti sulit untuk melepaskan tawarannya yang menggiurkan. Meski banyak korban yang telah dirugikan namun situs-situs tersebut masih tetap beredar di masyarakat, salah satu alasannya adalah tingginya demand atau permintaan masyarakat, data mengatakan pengguna situs tersebut mencapai jutaan orang. Ini menunjukkan rendahnya aqidah umat, sedang sanksi yang dijatuhkan pun tidak menimbulkan efekjera pada pelaku dan bandarnya.  


Islam, konstruksi terbaik hadapi Judol


Selain sebagai agama ritual untuk memenuhi kebutuhan naluri berketuhanan manusia, Islam juga sebagai dasar pemikiran, yang darinya muncul sebuah aturan kehidupan, semua perilaku manusia distandarkan pada halal haram yang ditetapkan nash syara’, bukan materi semata.  


Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 219: 

   يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ

yang  artinya, "Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang khamar64) dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. (Akan tetapi,) dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” Mereka (juga) bertanya kepadamu (tentang) apa yang mereka infakkan. Katakanlah, “(Yang diinfakkan adalah) kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu berpikir."  


Sistem ekonomi Islam juga  menggunakan emas dan perak sebagai alat tukar atau uang, sehingga tidak ada kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Baitul mal sebagai pengelola keuangan negara Islam akan menentukan zakat, fai’, ghonimah, jizyah, kharaj serta himmah sebagai sumber pemasukan untuk negara dan mengeluarkan untuk merata nya fasilitas umum dan terjangkau nya kebutuhan pokok umat. Baitul mal juga mengeluarkan bantuan langsung kepada delapan asnaf yakni Fakir, Miskin, Ghorim (orang yang berhutang), Mualaf(orang yang baru masuk islam), Ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan atau musafir), Amil (pengelola dana zakat karena dia tidak digaji), Riqob atau hamba sahaya dan jihad fii sabilillah. Islam juga menghidupkan tanah mati sebagai bentuk pemaksimalan lahan agar beradidaya pangan.


Adapun hukuman dalam Islam diterapkan sebagai jawabir atau bentuk pertanggung jawaban atas pidana yang dilakukan, semisal potong tangan bagi yang mencuri, pancung bagiyang membunuh, rajam bagi yang berzina setelah menikah, hukum cambuk bagi yang berzina sebelum menikah, hukum cambuk bagi peminum khamr dan lain sebagainya sebagai bentuk penerapan nash syara’. Selain itu, hukuman juga berfungsi sebagai jawazir atau pencegah bagi yang lainnya agar tidak melakukan aktivitas serupa. Dengan demikian sudah bisa dipastikan umat dapat dikontrol dengan meminimalisir perjudian dan pembunuhan.


Wallahu a’lam bi showab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update