Oleh:ummu haziq
Dunia sedang disibukkan dengan organisasi baru, yaitu Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan tujuan untuk perdamaian Palestina.
Presiden Prabowo Subianto mengumumkan keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BoP dalam kunjungannya di Davos, Swiss, pada 22 Januari 2026. Keputusan Indonesia untuk menjadi anggotanya juga menimbulkan kontroversi dan memunculkan pertanyaan tentang posisinya dalam konflik Gaza (abc.net.au/new, 30/01/2026).
Presiden Prabowo Subianto yang datang menghadiri pertemuan tahunan ini bukan hanya sekadar untuk hadir saja. Nyatanya, beliau ikut andil untuk menandatangani Piagam BOP ini. Tak tanggung-tanggung, biaya yang dikeluarkan untuk ikut serta dalam Piagam BOP ini adalah sebesar Rp16,7 triliun. Hanya saja, badan ini tidak sesuai dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang mengedepankan prinsip dan nilai demokrasi serta kesetaraan. Tindakan yang dilakukan oleh Presiden Indonesia ini membuat Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, buka suara bahwa iuran mengenai BOP ini harus dibayarkan Indonesia secara sukarela.
Keputusan yang sangat miris tanpa ada kompromi dengan masyarakat. Lebih miris lagi, MUI sebagai lembaga pelindung umat menyetujui keputusan presiden bergabung dengan BoP. Banyak pihak mempertanyakan tujuan dibentuknya BoP yang awalnya ingin menyelesaikan konflik di Gaza, namun anehnya mereka tidak melibatkan Palestina. Tampak jelas sekali ada konspirasi antara Donald Trump dan Netanyahu tentang organisasi ini.
Sesungguhnya BoP dibentuk bukanlah untuk perdamaian Palestina, melainkan untuk kepentingan geopolitik dan ekonomi AS. Trump ingin mengusir penduduk Gaza dan membangun Gaza baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara, dan menara apartemen.
BoP lebih condong ditujukan untuk menghancurkan Palestina. Keberadaan negeri-negeri Muslim (termasuk Indonesia) hanya menjadi pelengkap legitimasi. BoP adalah alat untuk merealisasikan 20 poin rencana Trump atas Gaza. Keikutsertaan negeri-negeri Muslim dalam BoP adalah pengkhianatan nyata terhadap Muslim Gaza.
Inilah bobroknya sistem kapitalisme yang hanya menguntungkan segelintir orang yang memiliki kepentingan di dalamnya. Berbeda dengan sistem Islam, dalam sistem Islam negeri-negeri Muslim tidak boleh bersekutu dengan negara kafir harbi fi’lan yang tengah memerangi Muslim Palestina (AS dan Zionis).
Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim seharusnya malu ikut bergabung dan menandatangani BoP dengan alasan demi perdamaian Palestina. Selain itu, Indonesia harus membayar 1 miliar dolar (Rp17 triliun) untuk memperoleh keanggotaan tetap. Tanpa berpikir bahwa rakyat Indonesia lebih membutuhkan biaya untuk infrastruktur korban bencana yang belum tersentuh perbaikannya, untuk para korban bencana, gedung-gedung sekolah yang rusak, dan kerusakan fasilitas-fasilitas umum lainnya. Sumbangan terhadap BoP sangat menyakiti rakyat miskin. Pemenuhan kebutuhan rakyat miskin di negeri ini jauh lebih urgen dan mendesak dibandingkan membayar iuran BoP yang jelas-jelas bentuk lain dari penjajahan.
Penjajahan di negara mana pun, termasuk di Palestina, memang tidak akan pernah berhenti, apalagi berakhir, hanya sekedar di meja perundingan. Kata-kata “perdamaian, stabilisasi, rekonstruksi” ini hanyalah cangkang untuk membungkus rencana terburuk dari penjajah tersebut. Apalagi organisasi BOP ini sudah jelas didirikan oleh gembong dari penjajahnya, yaitu Donald Trump. Palestina sama sekali tidak akan dibebaskan lagi oleh dewan-dewan internasional buatan kafir penjajah.
Lalu bagaimanakah cara sebenarnya untuk memerdekakan Palestina dari penjajahan ini? Adakah solusi yang benar-benar kuat untuk memerdekakan Palestina? Dan akankah solusi yang dilakukan itu sama dengan yang dilakukan para penguasa sekarang yang hanya mengandalkan pengaturan yang dibuatnya sendiri demi keuntungan pribadinya sendiri?
Solusi yang dibutuhkan untuk Palestina bukanlah negosiasi atau perundingan timpang di atas meja. Satu-satunya solusi yang harus dilakukan untuk Palestina adalah mengusir penjajah Zionis Yahudi tersebut dengan jihad. Ini adalah perintah langsung dari Allah Swt. dalam terjemah QS Al-Baqarah: 191,
Padahal, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Lalu janganlah kamu berperang mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka berperangmu di tempat itu. Jika mereka berperangmu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.”
Ayat ini menjelaskan bahwa kita harus mengerahkan ratusan ribu tentara-tantara Muslim untuk melawan Zionis Yahudi, karena dengan berjihad sangat mudah untuk menumpas sekaligus Zionis Yahudi dari bumi Palestina. Namun sayangnya, untuk mengerahkan tentara-tentara tersebut, masyarakat harus memiliki institusi global sebagai pemersatu mereka. Sebab negaralah yang mempunyai wewenang dan kekuasaan untuk mengerahkan tentara dan umat untuk berjihad melawan penjajahan tersebut. Demikian pula dahulu kala Daulah Khilafah berdiri di muka bumi, yang mampu menghimpun sumber daya, kekuatan umat, potensi umat, dan juga militernya di seluruh negara adalah Khilafah.
Umat Islam di seluruh dunia sedang kehilangan arah pandang, tidak punya tempat untuk mengadukan segala hal, dan tidak mampu melawan segala tipu daya penjajah yang ada sekarang ini. Keruntuhan Khilafah seolah menjadi luka yang selalu menganga bagi umat Islam, terutama bagi rakyat Palestina. Seolah tidak ada perisai yang mampu melindungi selain keberadaan Daulah Khilafah. Sebab Khilafah bukan hanya sekedar simbol. Khilafah adalah lembaga pemerintahan Islam global. Hanya dengan Khilafah, kehormatan dan darah kaum Muslim dapat terlindungi serta kemuliaan Islam terpelihara.waallahualam biaasawab.

No comments:
Post a Comment