-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Indonesia Tergabung dalam Board of Peach, Wujud Nyata Pengkhianatan Terhadap Palestina

Friday, February 13, 2026 | February 13, 2026 WIB Last Updated 2026-02-13T15:17:12Z


Zahra Tenia 

(Aktivis Muslimah)


Presiden Indonesia Prabowo Subianto memutuskan untuk tergabung dalam Board of Peach  (BoP) yang di inisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sebuah badan internasional yang digadang-gadang untuk mewujudkan perdamaian di Gaza, Palestina. Proses penandatangan piagam BoP berlangsung di Davos, Swiss, pada Kamis, 22 Januari 2026. (setkab.go.id, /22/01/25).


Keterlibatan Indonesia dalam BoP tidaklah dengan tangan kosong. Purbaya Yudhi Sadewa selaku menteri keuangan Indonesia menuturkan bahwa untuk menjadi anggota tetap BoP, Indonesia harus menyetorkan uang senilai US $ 1 Miliar atau setara Rp 16,7 Triliun  (cnbc.indonesia, /29/01/26)


Presiden Prabowo dalam pernyataan persnya mengatakan bahwa keterlibatan Indonesia dalam BoP merupakan moment penting dan bersejarah bagi terciptanya perdamaian Palestina. Langkah ini dianggap paling strategis dalam mewujudkan perdamaian di Gaza Palestina. Namun, benarkah demikian? Sedangkan dunia melihat, dan mata publik menyaksikan dengan sangat jelas setiap tindakan yang dilakukan Israel terhadap Gaza ada dukungan penuh dari Amerika. Amerikalah yang menjadi negara penyokong utama terhadap serangan berulang yang dilakukan pada terhadap rakyat Palestina. Amerika jugalah yang mengendalikan setiap kebijakan yang diambil PBB dengan hak vetonya. Jika demikian, lantas apakah bentuk kebersamaan Indonesia bergandengan tangan dengan musuh Palestina bisa dikatakan sebagai upaya perdamaian? Atau lebih tepatnya sebagai tindakan pengkhianatan terhadap rakyat muslim Palestina?


BoP Legitimasi Israel Menghancurkan Palestina

 

Board of Peach didirikan bukan untuk mewujudkan perdamaian Palestina namun justru untuk menghancurkannya. Setidaknya ini bisa terbaca dari tidak dilibatkannya sama sekali pihak Palestina dalam badan tersebut,  baik dalam Dewan Eksekutif Pendiri maupun Dewan Eksekutif Perdamaian. BoP justru menghadirikan tokoh negara  pro Zionis seperti Tony Blair. Tokoh kontroversial yang dikenal atas kebijakan invasi di Irak dan juga permusuhan nya terhadap dunia Islam. 


BoP lahir dalam rangka mewujudkan  tatanan dunia baru demi kepentingan geopolitik AS. Melalui BoP Trum bisa mewujudkan ambisinya menjadi penguasa tunggal dunia dan meraih kepentingan  bisnisnya.  Keterlibatan Jared Kushner  sebagai menantu Trum sekaligus arsitek dunia semakin menegaskan ambisi Trum untuk menguasai Palestina dengan menjadikannya sebagai New Gaza yang akan merekonstruksi Gaza menjadi tujuan wisata dunia baru dengan membangun gedung-gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, menara apartemen dan juga Bandara. Semua adalah untuk kepentingan ekonomi Amerika bukan untuk Gaza Palestina.


Keberadaan BoP justru menghancurkan keberadaan Palestina sebagai sebuah negara yang berdaulat . Hadirnya negara-negara  Muslim hanyalah menjadi pelengkap legitimasi atas tindakan Trum. Seolah apa yang dilakukan Trum adalah sebuah kebenaran yang harus didukung dan dibela. Padahal, BoP menjadi salah satu dari realisasi 20 poin rencana Trum atas Gaza. Nampak jelas, kepesertaan negara-negara muslim, termasuk Indonesia dalam badan ini sebagai tindakan  pengkhianatan terhadap perjuangan Rakyat Palestina. Palestina yang nyata-nyata menjadi negara yang pertama mengakui kedaulatan Indonesia sebagai negara merdeka, justru hari ini bergandengan tangan dan berkumpul dengan negara kafir yang berusaha menghilangkan Palestina dari peta dunia.


Palestina Tidak Butuh BoP


Palestina tidak membutuhkan BoP ataupun rencana dari Amerika Serikat. Konflik , perang dan ketidakadilan yang dialami warga Gaza Palestina hingga hari ini muncul karena kependudukan Israel atas palestina secara tidak sah. Sehingga, solusinya bukanlah dengan menghadirkan negara-negara penjajah untuk menguasai tanah jajahannya, melainkan mengusir penjajah dari bumi Palestina. Keberadaan Israel laksana duri yang akan selalu menyakiti tubuh umat Islam, karenanya tidak ada jalan lain selain menyingkirkan duri tersebut dari tubuhnya.


Zionis Israel tidak berdiri sendiri, ada negara Amerika Serikat sebagai sebuah negara adidaya yang mendukungnya, oleh karena itu menghilangkan Israel dari bumi Palestina tentu tidak akan mudah.  Palestina  butuh kekuatan besar yang akan mampu mengimbangi kekuatan Israel. Satu-satunya jalan untuk meraih kekuatan tersebut adalah dengan mewujudkan persatuan umat Islam di seluruh dunia. Melalui aktivitas jihad yang dipimpin oleh     Khalifah.


Islam melarang dengan sangat jelas agar umat Islam tidak bersekutu dan menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpinnya. Sebagaimana firman Allah S.wt dalam Qur'an Al Maidah ayat 51 yang artinya:


Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu). Sebagian mereka menjadi teman setia bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.


Khatimah


Saat ini khilafahlah satu-satunya yang bisa menjadi harapan pembebasan dan terwujud perdamaian di Palestina. Tidak ada alternatif lain, baik itu gencatan senjata, solusi dua negara ataupun BoP. Umat Islam harus belajar dan mengambil pelajaran, bahwa itu semua bukanlah solusi, bahkan jebakan yang membahayakan. Umat Islam seharusnya menjadikan agenda penegakkan khilafah sebagai agenda bersama untuk kebangkitan umat Islam. Saatnya bergerak dan bersatu menyuarakan solusi hakiki bagi Palestina. 


Waallahu alam bishowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update