-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hegemoni Digital, Racun Halus Pelumpuh Arah Hidup Pemuda

Sunday, February 1, 2026 | February 01, 2026 WIB Last Updated 2026-02-02T06:22:42Z

 

Oleh  Riris Putri

Aktivis Dakwah


Di era digital seperti sekarang, dunia pemuda tidak lagi dibatasi ruang dan waktu. Telepon genggam menjadi jendela dunia, media sosial jadi ruang publik baru, dan algoritma mendikte apa yang dilihat, dirasakan, bahkan bagaimana pemuda berpikir. Di satu sisi, hal itu membuka peluang ruang ekspresi dan di sisi lain, hegemoni digital ala Barat telah meracuni cara pandang hidup generasi muda, memunculkan fenomena yang jauh lebih kompleks dari sekadar tren atau gaya hidup. 


Jika kita amati aktivitas pemuda saat ini, tidak sedikit dari mereka terlibat dalam sejumlah aksi. Baik itu secara individual maupun kolektif, yang bersifat lokal hingga global. Tidak sedikit di antaranya terjadi secara digital dan diorganisir melalui media sosial. Salah satu yang menjadi trend adalah penggunaan tagar, dan telah menjadi ciri khas baru perjuangan sosial. Beberapa contoh gerakan lokal  melalui tagar di media digital yang pernah viral antara lain #IndonesiaGelap #KaburAjaDulu #SaveRajaAmpat  yang mencapai jutaan percakapan dan memicu pergerakan di Indonesia secara nyata. Tidak hanya hashtag lokal, beberapa hashtag global pun juga demikian, juga mampu memicu gerakan aksi nyata. Kenyataannya, hashtag sudah menjadi alat mobilisasi massal yang kuat. 


Jika merujuk pada data, partisipasi pemuda Indonesia di ruang digital cukup tinggi. Survei Kominfo mencatat pengguna aktif internet Indonesia sekitar 80,68% (±229,4 juta pengguna) dengan dominasi penggunaan TikTok, Instagram, YouTube dan lain-lain, di mana 60% pengguna berasal dari Generasi Z yang sebagian besar aktif 1–5 jam per hari di berbagai platform. Dengan penggunaan media digital yang cukup tinggi ini, sangat memungkinkan pemuda untuk menyuarakan kritik sosial, mengorganisir aksi, bahkan mempengaruhi opini publik dengan cepat. 


Gerakan yang lahir dari digital tak hanya lokal. di Eropa, gerakan pemuda untuk keadilan digital mampu mengorganisir banyak orang untuk mengkampanyekan tuntutan transparansi algoritma, privasi data, serta pengurangan dampak negatif platform teknologi besar. 

Namun, partisipasi ini tidak selalu bermakna positif. Ada kecenderungan clicktivism atau aktivisme klik belaka, tanpa refleksi mendalam. Yang memicu viral namun minim dampak transformasional.  


Digital Reborn : Asal Mula Kebangkitan Hegemoni Digital Ala Barat 


Sejatinya, media digital adalah media netral, baik buruknya dunia digital, dipengaruhi oleh peradaban apa yang sedang dijalankan. Namun di era saat ini, media digital tidak lagi menjadi ruang netral. Ia dibangun berdasarkan algoritma komersial yang didorong oleh sistem kapitalisme sekuler Barat. Yang dimana Barat notabene nya adalah negara kafir yang tidak memperhatikan nilai-nilai ketuhanan seperti halal dan haram. Hanya memperhatikan asas manfaat, karena hal itu yang menjadi tolok ukur dalam perbuatannya. 


Hal ini bermula dari kebangkitan hegemoni digital ala Barat yang memang tidak lahir secara tiba-tiba. Ia bukan sekadar hasil kemajuan teknologi, melainkan kelanjutan dari sejarah panjang dominasi Barat yang terus berevolusi. Jika dulu penjajahan dilakukan dengan senjata dan wilayah, hari ini ia menjelma dalam bentuk yang lebih halus yakni data, algoritma, dan kesadaran manusia. Inilah fase yang kerap disebut sebagai digital reborn atau kelahiran kembali dominasi Barat dalam wujud digital. 


Pada awalnya, dunia digital dipromosikan sebagai ruang kebebasan. Internet digadang-gadang sebagai alat demokratisasi informasi, pembebasan ekspresi, dan penghapus sekat kekuasaan. Namun seiring waktu, idealisme itu memudar. Platform digital raksasa yang lahir dari Barat seperti media sosial, mesin pencari, layanan streaming, dan lain-lain, berkembang bukan sekadar sebagai alat komunikasi, tetapi mesin pembentuk opini, selera, dan cara pandang hidup global. 

Akar hegemoni digital Barat berkelindan erat dengan kapitalisme. Ketika kapitalisme industri mencapai titik jenuh, dunia Barat menemukan ladang baru yakni ekonomi digital. Data manusia menjadi komoditas paling berharga. Perilaku, emosi, kebiasaan, hingga ketakutan pengguna direkam, dianalisis, dan dimonetisasi. 


Di sinilah algoritma berperan. Ia bukan sistem netral, melainkan instrumen ideologis. Algoritma dirancang untuk memaksimalkan atensi, keuntungan, dan kontrol pasar. Konten yang memicu emosi, sensasi, dan konflik lebih diutamakan daripada konten reflektif dan mendalam. Akibatnya, ruang digital dipenuhi narasi instan, dangkal, dan serba cepat yan selaras dengan logika kapitalisme, bukan kebutuhan manusia akan makna. Inilah titik di mana hegemoni bekerja, manusia merasa memilih, padahal diarahkan. 


Sekularisme Sebagai Roh Hegemoni Digital 


Hegemoni digital ala Barat juga tak bisa dilepaskan dari sekularisme. Agama dipinggirkan ke ruang privat, sementara ruang publik (termasuk digital) dipenuhi nilai kebebasan tanpa batas, relativisme moral, dan pencarian kebahagiaan material. 


Dalam dunia digital reborn, standar benar-salah tidak lagi bersumber dari yang Maha kuasa pencipta manusia, alam semesta dan isinya, melainkan dari tren, popularitas, dan validasi massa. Yang viral dianggap benar. Yang ramai dianggap penting. Yang tidak sesuai arus, disisihkan oleh algoritma. Akibatnya, generasi muda tumbuh dalam banjir informasi, namun miskin arah hidup. Mereka kritis pada isu tertentu, tetapi kehilangan fondasi nilai. Peduli pada ketidakadilan global, namun tetap menjadikan gaya hidup Barat sebagai standar ideal. 


Digital Reborn : Penjajahan Tanpa Tentara 


Jika kolonialisme lama merampas sumber daya alam, maka kolonialisme digital merampas kesadaran. Barat tidak perlu mengirim tentara, cukup menanamkan aplikasi di genggaman tangan. Tidak perlu menguasai wilayah, cukup menguasai cara berpikir. 


Inilah mengapa hegemoni digital begitu kuat. Ia tidak terasa sebagai penindasan, melainkan kenikmatan. Tidak hadir sebagai larangan, tapi sebagai hiburan. Pemuda merasa bebas, padahal hidupnya dibingkai oleh sistem nilai yang bukan miliknya. 


Saatnya Membaca Digital dengan Kesadaran Ideologis 


Memahami asal mula hegemoni digital ala Barat adalah langkah awal untuk keluar dari jebakannya. Digital reborn bukan sekadar fenomena teknologi, melainkan proyek peradaban. Ia membawa nilai, arah, dan kepentingan tertentu. Tanpa kesadaran ideologis, pemuda hanya akan menjadi pengguna bukan pengendali. Terombang-ambing antara tren dan algoritma, tanpa kompas hidup yang jelas. 


Karena itu, tantangan terbesar hari ini bukan menolak teknologi, tetapi membebaskan kesadaran dari hegemoni digital. Membaca dunia digital bukan sekadar dengan logika teknis, melainkan dengan pandangan hidup yang kokoh. Sebab pertempuran zaman ini bukan lagi soal siapa paling canggih, tapi siapa yang mampu menjaga arah dan makna hidupnya. 


Model kapitalis digital mengkondisikan pengguna sebagai konsumen konten, bukan sebagai agen perubahan yang sadar tujuan hidupnya. Itu sebabnya hegemoni digital tidak sekadar soal teknologi, melainkan soal nilai, orientasi hidup, dan struktur identitas diri. 


Pemuda sebagai pionir perubahan memiliki energi, kreativitas, dan jaringan global. Mereka bisa mengubah narasi digital dari “viral tanpa makna” menjadi “viral beretika dan bermanfaat”. Partisipasi digital bisa ditransformasikan menjadi aktivisme tangguh yang tak hanya viral secara online tetapi berdampak nyata di dunia nyata seperti menyuarakan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Sikap kritis terhadap media digital harus dibangun,  bukan sekadar ikut arus, tetapi memahami mekanisme, kepentingan, dan efek algoritma sehingga penggunaan teknologi tidak menjadi dominasi yang membelenggu, tetapi alat yang memberdayakan. Pemuda harus menjadi filter kritis terhadap konten digital dan tidak membiarkan dirinya dikontrol oleh logika pasar atau dominasi nilai Barat yang sekuler–kapitalistik. 


Solusi Tuntas dengan Islam Kaffah 


Melihat problematika di atas, solusi parsial misal literasi digital saja tidak cukup. Tantangan yang dihadapi pemuda pada hakikatnya adalah krisis orientasi hidup, bukan semata masalah teknologi. Islam kaffah, yakni Islam dalam seluruh aspek kehidupan menawarkan kerangka nilai yang menyeluruh dan tujuan hidup yang jelas yakni beribadah kepada Allah, berkontribusi bagi umat, dan membangun masyarakat yang adil.


Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Media digital bisa dimanfaatkan untuk dakwah, pendidikan, dan solidaritas sosial yang berbasis moral, bukan sekadar viral atau hoaks. Nilai ummah mengatasi nilai individualistik. Ketika orientasi hidup seorang pemuda bukan lagi sekadar pencitraan atau konsumsi, tetapi kontribusi nyata bagi komunitas, efek hegemoni digital dapat diminimalkan. 


Penerapan Islam secara kaffah atau menyeluruh dalam sebuah negara, akan memberikan struktur kolektif yang mampu membentuk kebijakan digital sesuai nilai-nilai Islam, menghapuskan sekularisme kapitalis, memperkuat sistem pendidikan spiritual, dan memastikan media digunakan untuk kesejahteraan umat, bukan eksploitasinya. Dengan dasar Islam kaffah, teknologi bukan lagi tujuan, melainkan alat untuk menjalankan amanah, menjaga akhlak, memperkuat solidaritas sosial, dan memperluas dakwah haq. 


Wallahualam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update