-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dominasi Kekuasaan Global dan Ketiadaan Kebaikan Hakiki: Refleksi dari Perspektif Islam

Saturday, February 14, 2026 | February 14, 2026 WIB Last Updated 2026-02-15T03:39:03Z


Oleh: Mei Widiati, M.Pd. 


Cina kini muncul sebagai kekuatan ekonomi dan politik global dengan modal besar yang memungkinkan dominasi di berbagai bidang. Namun, meski potensinya besar, Beijing tampak berhati-hati dan enggan menantang Amerika Serikat secara langsung. Sanksi Barat terhadap Rusia menjadi pelajaran bagi Cina untuk berhitung ulang dalam setiap langkah strategisnya. Proyek-proyek global seperti pembangunan pangkalan luar negeri dan jalur sutra internasional di Panama pun ditarik mundur di bawah tekanan Amerika. Hingga kini, rivalitas Amerika-Cina belum menghasilkan manfaat hakiki bagi dunia; sebaliknya, persaingan ini justru membawa ketidakstabilan dan dampak negatif bagi banyak negara yang tidak memiliki kekuatan dominan.


Akar Masalah: Sekularisasi dan Kapitalisasi


Fenomena ini mencerminkan paradigma kekuasaan modern yang bersandar pada logika sekuler-kapitalis. Negara-negara besar berlomba-lomba memperluas pengaruhnya melalui kekuatan ekonomi dan militer, tanpa menjadikan kebaikan universal atau kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama. Keputusan strategis seperti penarikan proyek global atau berhati-hati dalam konfrontasi bukan didasarkan pada prinsip moral atau keadilan, melainkan pada perhitungan keuntungan dan risiko politik. Dalam sistem sekuler-kapitalis, kekuatan dan modal menentukan supremasi, sedangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan amanah sering kali terabaikan. Persaingan global menjadi arena untuk mempertahankan kepentingan elit, bukan untuk menegakkan kebaikan hakiki bagi umat manusia.


Solusi Islam: Kepemimpinan Berlandaskan Nilai Rabbani


Islam menegaskan bahwa kekuasaan dan kepemimpinan harus dipegang dengan amanah, keadilan, dan tujuan kemaslahatan umat. Allah SWT berfirman:


"۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ 


“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” (TQS. An-Nahl: 90)


Kepemimpinan global yang ideal menurut Islam bukan diukur dari kekuatan militer atau kekayaan, melainkan dari kemampuan menegakkan keadilan, melindungi rakyat, dan menyebarkan maslahat. Rasulullah SAW bersabda:


“Seorang pemimpin adalah penggembala bagi rakyatnya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dengan prinsip ini, dominasi global tidak lagi menjadi permainan modal dan kekuasaan, melainkan tanggung jawab moral untuk menciptakan dunia yang adil, aman, dan sejahtera. Solusi praktisnya bagi masyarakat internasional adalah:

- Membangun sistem  global berbasis keadilan dan maslahat, bukan sekadar kepentingan nasional dan kapitalis.

- Mengutamakan perlindungan rakyat dan lingkungan dalam setiap kebijakan ekonomi dan politik.

- Menegakkan transparansi dan akuntabilitas di tingkat internasional agar keputusan negara besar tidak merugikan negara lain.

- Mengedepankan nilai Islam universal seperti amanah, kasih sayang, dan musyawarah, agar kekuatan besar digunakan untuk kebaikan, bukan sekadar keuntungan.


Khatimah 


Dominasi Amerika-Cina dan rivalitas mereka menunjukkan kegagalan paradigma sekuler-kapitalis untuk menghadirkan kebaikan hakiki. Islam menawarkan alternatif: kepemimpinan global yang berlandaskan nilai moral, amanah, dan keadilan. Jika umat manusia dan negara-negara berpegang pada prinsip ini, persaingan kekuatan tidak lagi menjadi sumber kerusakan, melainkan sarana untuk menegakkan maslahat sejati bagi seluruh umat manusia.


Wallaahu a'lam bish-showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update