Warung Barokah tetap buka, namun suasananya terasa dingin meskipun udara pasar sedang panas. Ratih mengerjakannya seperti robot. Nomor Aryo sudah ia blokir total. Setiap kali terdengar raungan mesin motor di kejauhan, jantungnya masih berdegup kencang, namun ia segera menepisnya dengan rasa benci yang dipaksakan.
Ia tidak tahu, bahwa setiap malam setelah pulang liputan, Aryo selalu parkir di ujung gang rumah Ratih hanya untuk memastikan lampu kamar Ratih menyala, tanpa berani mendekat. Kabut asap di kota itu semakin pekat, persis seperti hubungan mereka yang kini tak terlihat ujungnya.
Setelah taksi itu menghilang di balik kabut asap, dunia seolah berhenti berputar bagi Ratih. Di dalam mobil yang melaju pelan, Ratih menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Air matanya luruh tanpa suara, jatuh membasahi pipinya yang pucat.
"Bodoh... kamu bodoh, Ratih," bisiknya pada diri sendiri.
Hatinya hancur berkeping-keping. Ada penyesalan yang mendalam atas sikapnya yang meledak-ledak tadi. Namun, yang lebih menyakitkan adalah kenyataan pahit yang menghantam kesadarannya: Memangnya dia siapa?
Selama ini, Aryo tak pernah mengikatnya dengan janji. Tak ada kata "pacaran", tak ada komitmen resmi. Hubungan mereka hanya sebatas teman masa kecil yang kembali bertemu di antara aroma pasar dan debu jalanan. Tapi entah sejak kapan, harapan itu tumbuh liar. Ratih telah memberikan kunci hatinya pada pria badung itu, menjadikannya cinta pertama yang ia jaga dalam doa-doa subuhnya.
"Aku nggak berhak marah, tapi kenapa rasanya sesakit ini?" Ratih terisak. Ia menyesal telah bersikap terlalu kasar, namun ia juga benci karena dirinya sudah terlalu dalam mencintai seseorang yang mungkin hanya menganggapnya sebagai "teman lama". Harapannya untuk menjadikan Aryo pelabuhan terakhir terasa seperti menggenggam asap—terlihat nyata, namun hilang saat didekap.
Sementara itu, di depan kafe, Aryo masih berdiri mematung. Klakson kendaraan dan teriakan massa demo seolah menjadi suara latar yang tak bermakna. Tika menghampirinya, wajahnya penuh rasa bersalah.
"Yo... maaf, aku nggak tahu kalau itu bakal bikin dia marah," ucap Tika pelan.
Aryo tak menjawab. Ia hanya menatap telapak tangannya sendiri yang tadi sempat menyentuh lengan Ratih. Matanya yang biasanya tajam dan penuh kilat canda, kini meredup, kosong.
Malam harinya, di kantor biro yang sepi, Aryo merenung di depan layar monitor yang masih menyala. Pikirannya tidak pada berita kabut asap yang harus ia sunting, melainkan pada wajah Ratih yang bergetar menahan tangis tadi siang.
Selama ini, Aryo memang dikenal sebagai pria yang hidup dengan tawa dan sarkasme. Baginya, hidup adalah panggung sandiwara yang tak perlu dibawa perasaan. Tapi melihat air mata Ratih jatuh tadi, ada sesuatu yang retak di dalam dadanya. Itu bukan sekadar air mata kemarahan; itu adalah air mata luka yang sangat dalam.
"Ternyata aku yang brengsek," gumam Aryo pelan.
Ia baru menyadari bahwa candaannya selama ini, sikap santainya yang menghilang tanpa kabar, dan pembiarannya terhadap sikap manja Tika telah menjadi belati bagi hati yang paling ingin ia lindungi. Hati Aryo yang biasanya "bebas" kini terasa tergetar hebat. Getaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—rasa takut kehilangan yang begitu nyata.
Ia tidak ingin Ratih hanya jadi teman masa kecil. Ia ingin membuktikan bahwa di balik jaket kulit dan motor RX-King yang bising itu, ada hati yang sudah lama menetap di warung kelontong Barokah.
Tiga hari kemudian.
Ratih sedang menata kaleng susu di rak paling atas saat suara knalpot itu kembali terdengar. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ia bersumpah tidak akan menoleh.
"Ratih..."
Suara itu bukan teriakan dari atas motor. Suara itu berasal dari belakangnya, berat dan serak.
Ratih tetap membelakangi pria itu. "Cari apa, Mas? Rokok? Korek? Maaf, warung mau tutup."
"Aku cari maaf, Tih. Bukan rokok."
Ratih terhenti. Tangannya gemetar memegang kaleng susu.
"Aku jurnalis, tugas aku nyari berita dan fakta. Tapi aku lalai nyari fakta tentang perasaan kamu," Aryo melangkah mendekat, suaranya terdengar sangat tulus, tanpa ada nada bercanda sedikit pun. "Tika itu rekan kerja, nggak lebih. Tapi kalau cara aku kerja bikin kamu nangis, aku rela berhenti jadi jurnalis hari ini juga."
Ratih berbalik, matanya sembab. "Buat apa, Yo? Kita kan cuma teman. Kamu bebas mau sama siapa saja."
Aryo menatap dalam-dalam ke mata Ratih. Kali ini, tak ada elang yang tajam di sana, yang ada hanyalah seorang pria yang sedang menyerah pada perasaannya.
"Dunia aku penuh canda, Tih. Tapi waktu aku lihat air mata kamu jatuh di kafe itu... aku sadar, aku nggak bisa main-main lagi. Kamu bukan sekadar teman masa kecil. Kamu itu alasan kenapa aku minta dipindah ke kota ini. Kamu adalah rumah, dan aku nggak mau jadi tunawisma."
Ratih terpaku. Kaleng susu di tangannya hampir jatuh. Di tengah kabut asap yang masih menyelimuti pasar, untuk pertama kalinya, segalanya terasa begitu jelas di antara mereka berdua.
Ratih menarik napas panjang, mencoba membentengi hatinya yang mulai goyah. Sebagai wanita yang sudah kenyang dengan janji-janji manis para pelanggan di pasar yang sering berhutang rasa, ia tidak ingin jatuh ke lubang yang sama. Ia takut kalimat Aryo hanyalah "skrip" jurnalis yang lihai mengolah kata demi mendapatkan simpati narasumber.
Sebelum Aryo sempat melanjutkan kalimat puitisnya, Ratih memotong dengan nada yang lebih dingin dan ketus dari sebelumnya.
"Sudah selesai aktingnya, Mas Aryo?" potong Ratih sambil membanting kaleng susu ke meja etalase dengan bunyi dentang yang keras.
Aryo tersentak, langkahnya terhenti.
"Tih, aku serius—"
"Serius? Kata 'serius' itu murah bagi orang yang kerjaannya tiap hari mengolah berita," sela Ratih dengan tatapan menusuk. "Jangan anggap aku ini seperti penonton televisi yang bisa kamu suguhkan drama melankolis lalu langsung percaya. Kamu pikir, dengan satu kalimat 'aku rela berhenti jadi jurnalis', luka sebulan ini langsung sembuh? Kamu pikir, air mata yang aku habiskan itu bisa dibayar dengan kata-kata romantis yang mungkin juga kamu ucapkan ke Tika?"
"Tih, demi Allah, aku sama Tika—"
"Lho, bawa-bawa Tuhan lagi!" Ratih tertawa sinis, meski hatinya terasa perih. "Simpan saja penjelasan kamu. Aku nggak butuh pembelaan. Kalau kamu bilang aku ini 'rumah', ya sudah, anggap saja rumah ini sudah digusur. Kamu jurnalis, kan? Cari saja rumah baru yang lebih modis, yang nggak perlu kamu datangi sambil menembus asap pasar setiap pagi."
Aryo terdiam. Ia melihat tangan Ratih yang mencengkeram pinggiran meja hingga buku-bukunya memutih. Ia tahu, Ratih sedang menguji kedalamannya. Ia tahu, ini adalah benteng pertahanan terakhir seorang wanita yang pernah merasa dikhianati oleh harapan.
"Ratih, aku tahu aku salah karena membiarkan kamu menunggu tanpa kepastian. Tapi tolong, beri aku satu kesempatan untuk membuktikannya. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan apa pun yang kamu mau," ucap Aryo, suaranya kini merendah, nyaris berbisik namun penuh tekanan emosi.
Ratih memalingkan wajah, menyembunyikan genangan air mata yang mulai berkumpul lagi. "Kesempatan? Oke. Kalau kamu memang serius, buktikan. Mulai besok, jangan pernah muncul di depanku kalau kamu masih belum bisa membedakan mana 'rekan kerja yang manja' dan mana 'wanita yang kamu hargai'. Aku ingin lihat, seberapa tahan seorang Aryo yang populer itu hidup tanpa gangguan knalpotnya di depan jendela kamarku."
"Maksud kamu?"
"Pulanglah, Yo. Urus duniamu yang sibuk itu. Jangan temui aku sampai kamu benar-benar paham bahwa hati wanita bukan salah satu bahan liputanmu. Kalau dalam sebulan kamu nggak sanggup, anggap saja kita memang benar-benar hanya teman masa kecil yang kebetulan lewat di jalan yang sama. Titik."
Ratih segera masuk ke bagian dalam warung dan menutup tirai lusuhnya, meninggalkan Aryo yang terpaku di tengah hiruk-pikuk pasar yang mulai sepi.
Aryo merenung. Getaran di hatinya kali ini bukan lagi sekadar rasa takut kehilangan, melainkan tantangan terbesar dalam hidupnya. Ia sadar, memenangkan hati Ratih jauh lebih sulit daripada menembus barisan demonstran atau mengejar berita di tengah kebakaran hutan.
"Oke, Tih. Kalau itu maumu," gumam Aryo pelan. Ia tidak naik ke motornya dengan raungan mesin yang bising seperti biasanya. Kali ini, ia menuntun motor RX-King-nya perlahan keluar pasar, seolah-olah sedang menghormati kesunyian dan luka yang baru saja ia tinggalkan.

No comments:
Post a Comment