Sejak hari itu, hubungan mereka berubah. Aryo bukan lagi sekadar suara knalpot yang lewat di depan jendela. Ia adalah pria yang sabar menunggu Ratih menutup warung dan mengantarnya ke kampus.
Suatu sore di depan kampus, saat langit berwarna jingga, Aryo berkata pelan, "Tih, jujur ya, jadi jurnalis itu susah. Tapi nyari berita yang lebih indah dari muka kamu itu jauh lebih susah."
Ratih terdiam, wajahnya mendadak panas seperti disiram kuah bakso. "Apaan sih, Yo. Belajar gombal dari mana?"
"Dari hati, bukan dari Google kayak Bang Toyib," jawab Aryo sambil tertawa.
Ratih hanya menunduk, mencoba menyembunyikan senyumnya. Namun, belakangan ini Aryo mulai jarang terlihat. Kabut asap makin pekat, dan sebagai jurnalis, Aryo harus terjun ke titik api.
"Apakah dia sesibuk itu? Atau dia sakit?" gumam Ratih di depan jendelanya subuh itu. Keheningan pagi terasa hambar tanpa suara berisik knalpot RX-King yang biasanya ia benci. Kini, Ratih sadar, ia merindukan raungan motor itu—ia merindukan pelindungnya.
"Aryo! Deadline sejam lagi, Mas Bro! Masih sempat-sempatnya bengong!"
Suara Tika yang manja namun melengking memecah lamunan Aryo di depan pintu kantor. Tika, jurnalis muda berdarah Sunda dengan gaya yang selalu modis—bahkan saat meliput kebakaran hutan sekalipun—langsung menghampiri Aryo. Rok span hitamnya tampak kontras dengan jaket lapangan yang ia kenakan.
"Sabar, Tik. Datanya masih nanggung," sahut Aryo hangat. Di kantor, Aryo memang dikenal dingin seperti es kutub, tapi entah kenapa, hanya Tika yang bisa mencairkannya. Kedekatan mereka sudah jadi rahasia umum; mereka adalah dynamic duo yang selalu saling motivasi.
Tika tertawa, tangannya tanpa ragu menyenggol bahu Aryo. "Makanya, ayo gercep! Siang ini kita liputan demo mahasiswa soal pembalakan liar. Katanya koordinatornya galak, lho."
Siang itu, matahari tertutup kabut asap yang mencekik. Di tengah kerumunan mahasiswa berbaju almamater yang meneriakkan tuntutan, Aryo dan Tika berjuang menembus barisan.
"Kita butuh statement dari korlapnya, Tik. Harus akurat kalau nggak mau disemprot pimpinan," ujar Aryo sambil membenahi letak kameranya.
Tika bertanya pada salah seorang mahasiswa di pinggir jalan. "Dek, ketuanya yang mana ya?"
"Oh, Kak Ratih? Itu, Kak, di kafe seberang. Dia lagi evaluasi strategi sama tim inti," jawab mahasiswa itu sambil menunjuk sebuah kafe kaca di sudut jalan.
Mendengar nama itu, jantung Aryo seolah berhenti berdetak sesaat. Ratih?
Tanpa menunggu aba-aba, Tika langsung menggandeng tangan Aryo, menariknya dengan manja menuju kafe tersebut. Aryo, yang otaknya sedang berputar antara tugas dan firasat buruk, hanya pasrah membiarkan Tika menggelayut di lengannya.
Begitu pintu kafe berdenting, hawa sejuk AC menyambut mereka. Tika mengedarkan pandangan, lalu berbisik tepat di telinga Aryo, sangat dekat hingga rambutnya menyentuh pipi Aryo.
"Yo, kayaknya cewek cantik yang di pojok itu deh koordinatornya. Aura pemimpinnya dapet banget, tapi kok mukanya judes ya?"
Aryo menoleh. Dunianya seketika runtuh. Di sudut kafe itu, Ratih sedang duduk bersama dua temannya. Tatapan mereka beradu. Aryo melihat binar mata Ratih yang semula tegas, tiba-tiba berubah menjadi redup, lalu berkilat tajam seolah ada api yang menyambar di sana.
Aryo refleks melepaskan pegangan Tika dengan gelagapan, tapi terlambat. Ratih sudah melihat semuanya—adegan manja yang menurut Ratih adalah konfirmasi dari semua keraguannya selama ini.
"Selamat siang," Aryo memberanikan diri menghampiri meja Ratih dengan langkah kaku. "Saya Aryo, jurnalis TV, dan ini rekan saya, Tika."
Dua teman Ratih langsung berbisik heboh. "Oalah... ini toh Mas Aryo yang sering diceritain Ratih? Mas, asli ya ganteng banget!" ucap salah satunya sambil tertawa kecil, menutup mulut.
Ratih hanya diam membisu. Wajahnya pucat, namun rahangnya mengeras. Di matanya, Tika yang cantik, seksi, dan terlihat sangat akrab dengan Aryo adalah bukti nyata bahwa pengabaian Aryo selama sebulan ini bukan karena asap, melainkan karena ada "api" lain.
"Maaf," potong Ratih tiba-tiba. Suaranya dingin, memotong suasana akrab yang coba dibangun teman-temannya.
Ia berdiri mendadak hingga kursi berderit keras. Sebelum Aryo sempat duduk atau membuka buku catatan, Ratih sudah melangkah lebar menuju pintu keluar.
"Ratih! Tunggu!" Aryo setengah berlari mengejarnya, meninggalkan Tika yang melongo kebingungan di tengah kafe.
Di depan pintu kafe, di tengah kepungan asap yang mulai menyesakkan, Aryo berhasil meraih lengan Ratih. "Tih, dengerin dulu! Ini nggak kayak yang kamu lihat!"
SET!
Ratih menepis tangan Aryo dengan kasar. "Jangan sentuh! Ternyata ini ya kesibukanmu selama ini? Meliput berita atau meliput perasaan orang lain?"
"Ratih, dengerin dulu! Ini nggak kayak yang kamu lihat! Tika itu cuma teman kerja—"
"Lho, emangnya saya siapa kamu sampai kamu harus repot-repot kasih penjelasan?" potong Ratih cepat. Kalimat itu keluar seperti peluru yang tepat sasaran, membuat lidah Aryo mendadak kelu.
Ratih tertawa getir, matanya yang berkaca-kaca menatap Aryo dengan tatapan yang sangat melukai. "Kita ini nggak punya status apa-apa, Yo. Kamu nggak berhutang penjelasan apa pun sama aku. Mau kamu gandengan sama siapa, mau kamu mesra-mesraan sama rekan kerja yang 'hangat' itu di depan umum, itu hak kamu!"
"Tih, jangan ngomong gitu. Kamu tahu perasaan aku gimana..."
"Perasaan yang mana, Yo? Perasaan yang bikin kamu hilang tanpa kabar sebulan ini?" Ratih melangkah maju, memangkas jarak hingga Aryo bisa melihat jelas luka di matanya. "Aku yang bodoh. Aku yang terlalu percaya diri menganggap perhatian kamu di pasar, waktu kamu nolongin aku dari Bang Toyib, itu artinya sesuatu yang spesial. Ternyata buat kamu itu cuma aksi heroik biasa, ya?"
"Nggak, Tih! Kamu nggak tahu seberapa susahnya aku di lapangan, sinyal susah, aku harus ngejar berita asap sampai ke pelosok—"
"Sinyal susah?" Ratih menunjuk ke arah kafe tempat Tika masih memperhatikan mereka dari balik kaca. "Tapi untuk bermesraan sama dia sinyalnya lancar-lancar saja, kan? Untuk membiarkan dia gelayutan di tangan kamu, kamu nggak butuh sinyal, kan?"
Aryo mencoba meraih bahu Ratih. "Tika itu memang orangnya manja, dia sudah kayak adik aku sendiri di kantor. Aku nggak enak mau nolak karena kita lagi kerja tim!"
"Adik?" Ratih mendengus sinis. "Lucu ya, laki-laki selalu punya stok 'adik' yang banyak kalau lagi ketahuan. Dengar ya, Aryo. Aku ini cuma gadis pasar yang jualan kelontong. Aku nggak punya waktu buat main drama 'kakak-adikan' kayak dunia kerja kamu yang glamor itu. Aku butuh orang yang nyata, yang ada saat aku butuh, bukan orang yang datang bawa salam subuh terus hilang ditelan asap sama perempuan lain."
"Ratih, tolong..." suara Aryo merendah, nyaris memohon.
"Cukup, Yo! Apa yang aku saksikan hari ini sudah lebih dari cukup untuk menyadarkan aku siapa aku di mata kamu. Ternyata, aku cuma selingan di sela-sela kesibukan kamu. Selamat ya, kalian serasi sekali. Dia cantik, modis, dan pasti nggak bau bawang kayak aku."
Tanpa memberi kesempatan Aryo untuk membela diri lagi, Ratih menyetop taksi yang melintas. Ia masuk ke dalam dengan gerakan cepat, membanting pintu mobil seolah sedang menutup pintu hatinya rapat-rapat.
Aryo berdiri mematung di pinggir jalan yang pengap. Ia ingin mengejar, namun kalimat "emangnya saya siapa kamu" tadi benar-benar mengunci langkahnya. Ia sadar, ia telah membiarkan Ratih menunggu di ruang ketidakpastian terlalu lama, dan hari ini, ketidakpastian itu berubah menjadi kebencian. NEXT

No comments:
Post a Comment