Semenjak kepergian Papa dua tahun lalu, hidup Ratih berubah total. Mahasiswi berusia 26 tahun itu kini punya "jabatan" baru: CEO Warung Kelontong Barokah di pasar induk. Mama yang sering sakit-sakitan membuat Ratih harus membagi waktu antara kuliah dan menata tumpukan beras.
"Uhuk... uhuk!"
Suara batuk dari kamar Mama memecah hening Subuh. Ratih melirik segelas air hangat di samping meja rias yang masih utuh.
"Ma, diminum dong airnya. Biar kerongkongannya nggak kayak aspal kering," goda Ratih sambil menyodorkan gelas.
Mama tersenyum tipis, tangannya melambai lemah. "Nanti Mama minum sendiri, Nak. Kamu cepat buka jendela, terus siap-siap ke pasar. Nanti telat kuliah lagi."
Ratih mendesah pelan, lalu beranjak membuka jendela. Udara dingin menerobos masuk, mengusap wajah kuning langsatnya yang masih dibalut mukena. Tiba-tiba...
BRUUMM! TET-TET-TEEEET!
Suara knalpot RX-King milik Aryo membelah kesunyian. Motor itu berhenti tepat di depan jendela Ratih.
"Assalamu’alaikum, calon penghuni surga!" teriak Aryo tanpa turun dari motor.
"Wa’alaikum salam..." bisik Ratih di balik mukena, menahan tawa sekaligus dongkol. Sebelum ia sempat membalas lebih jauh, Aryo sudah melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan rasa kesal yang aneh di hati Ratih.
Aryo adalah teman masa kecil Ratih yang dulu dikenal sebagai "Duta Bolos Mengaji". Sekarang, dia sudah jadi Jurnalis TV di Yogyakarta yang sedang dipindah tugaskan ke kampung halaman. Badannya makin jangkung, jaket kulitnya selalu wangi maskulin, tapi kelakuannya masih saja "ajaib".
"Huuuh! Masih saja hobi pamer knalpot," gerutu Ratih sambil melipat mukena. "Dasar si Badung."
Setelah menyiapkan keperluan Mama dan berpesan pada adiknya, Irwan, Ratih pun berangkat. "Wan, jam dua siang gantikan Kakak di warung ya. Ada tambahan mata kuliah hari ini."
Irwan yang masih ngantuk menyahut, "Siap, Bos! Tapi jangan lupa telepon ya. Kalau tugas negara lagi numpuk, memori saya suka mendadak full soalnya."
"Tugas negara atau tugas main game?" sindir Ratih sambil berlalu.
Suasana pasar hari ini agak suram karena kabut asap kebakaran hutan. Pengunjung sepi, udara terasa pengap. Di tengah kebosanan itu, sesosok pria jangkung tiba-tiba berdiri di depan etalase warungnya sambil sibuk main ponsel.
"Rokok Marlboro merah satu, sama koreknya!" ucap pria itu dengan suara berat tanpa menoleh.
Ratih mengambil pesanan itu dengan gesit. "Ini Mas, totalnya tiga puluh ribu."
Si pria masih diam, jempolnya sibuk di layar ponsel.
"Maaf Mas, ini pesanannya!" suara Ratih meninggi satu oktaf. "Mau dibeli atau mau numpang baca berita?"
Pria itu mengeluarkan lembaran lima puluh ribu tanpa bicara. "Lain kali jangan teriak-teriak, Tih. Aku belum budek tau," ucapnya sambil mengangkat wajah.
Ratih terperangah. "Aryo? Lho, kok nggak bilang-bilang kalau itu kamu?"
"Gimana mau bilang, kamunya udah kayak komandan upacara pagi-pagi begini," sahut Aryo santai.
Muka Ratih memerah. "Ini kembaliannya! Lagian salah sendiri, pesan barang bukannya lihat penjual malah lihat HP. Cari apa sih? Jodoh di Google?"
Aryo terkekeh. "Cari berita, Tih. Tapi kalau dapet jodoh yang galak kayak kamu, kayaknya Google-nya lagi error."
Tepat saat itu, Bang Toyib, pemilik toko rempah yang terkenal sok alim tapi genit, lewat di depan warung. Ratih yang ingin membuat Aryo panas sengaja berteriak, "Eh, Bang Toyib! Gimana jualannya? Masih sepi?"
Bang Toyib berhenti, matanya melirik genit. "Eh, Neng Ratih. Rezeki mah sudah diatur Yang Maha Kuasa, Neng. Tapi kalau lihat senyum Neng, rasanya jualan Abang langsung laris manis tanjung kimpul," ucapnya sambil sok bijak, padahal tangannya diam-diam sibuk mencari kutipan motivasi di Google.
Wajah Aryo mendadak keruh. Ia merenggut uang kembaliannya. "Waduh, judes masa kecil masih dipelihara ya? Hati-hati, nanti cantiknya luntur karena kebanyakan cemberut," ketusnya, lalu pergi begitu saja.
"Rasakan! Emang enak dicuekin?" batin Ratih puas.
Namun, kemenangan itu singkat. Bang Toyib tiba-tiba mendekat dan—plak—tangannya dengan lancang menyentuh tangan Ratih di atas meja etalase. "Neng, kapan-kapan Abang main ke rumah ya..."
"Astagfirullah! Pergi! Keluar!" jerit Ratih histeris. Ia merasa terhina. Tubuhnya gemetar hebat hingga ia terduduk lemas di lantai warung.
Bang Toyib yang panik justru mencoba masuk ke dalam warung untuk mendekat. Tapi, sebuah tangan kekar tiba-tiba menarik kerah bajunya dari belakang. Bugh! Satu pukulan telak mendarat di rahang Toyib.
"Bangsat! Beraninya kamu rendahkan derajat sahabatku!" raung Aryo. Rupanya dia tadi hanya duduk minum kopi tak jauh dari sana.
Aryo menyeret Toyib keluar seperti menyeret sekarung beras busuk. Kerumunan pasar mulai melerai, tapi Aryo belum puas. "Minta maaf ke dia sekarang! Atau aku pastikan muka kamu masuk berita utama besok pagi!"
Toyib yang babak belur akhirnya meminta maaf dengan suara mencicit sebelum lari terbirit-birit.
Aryo kembali ke warung, napasnya masih memburu. Ia mendekati Ratih dan berlutut di sampingnya. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya, suaranya yang tadi menggelegar kini berubah lembut sehalus sutra.
Tangan Aryo memegang jemari Ratih dengan penuh hormat. Darah Ratih berdesir. "Makasih, Yo... aku beneran takut tadi," bisik Ratih sambil menyeka air mata.
"Tenang, ada aku. Si Badung ini bakal jadi satpam kamu paling setia kalau ada yang berani macam-macam lagi," Aryo tersenyum tulus, menghapus suasana tegang dengan candaan khasnya.

No comments:
Post a Comment