Oleh: Ummu Hafidz
Pada 3 Februari 2026, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan dukungan terhadap keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk membawa Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BOP), sebuah forum bentukan Amerika Serikat pada masa pemerintahan Donald Trump. (detikNews 3/2/2026).
Sikap tersebut memunculkan tanda tanya publik. Pasalnya, sebelumnya MUI justru meminta pemerintah meninjau ulang bahkan mundur dari BOP. Namun setelah pertemuan dengan presiden di istana, sikap itu berubah menjadi persetujuan, dengan syarat kebijakan yang diambil mengandung kemaslahatan bagi Palestina.
Perubahan sikap ini memicu keraguan, khususnya dari masyarakat yang sejak awal menolak keikutsertaan Indonesia. Mereka menilai terdapat sejumlah alasan mendasar yang membuat keanggotaan dalam BOP bermasalah secara politik dan syariat.
Fakta ini tentu Menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat yang kontra atas keikutsertaan Indonesia dalam BOP. Karena beberapa alasan yang menjadikan haramnya bergabung dengan BOP, yaitu:
1. Pelanggaran terhadap hak Allah SWT terwujud dalam bentuk pengingkaran terhadap hukum-hukum-Nya dalam mengatur kehidupan. Allah SWT telah menegaskan:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Siapa saja yang tidak memutuskan perkara menurut wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah para pelaku kezaliman (QS. Al-Maidah [5]: 45).
2. Pelanggaran terhadap hak manusia mencakup penindasan, perampasan hak hidup, kebebasan dan martabat; baik yang dilakukan oleh individu maupun oleh negara dan kekuatan politik. Adapun perusakan tatanan keadilan terjadi ketika kekuasaan digunakan secara sewenang-wenang sehingga hukum tidak lagi berfungsi sebagai pelindung, melainkan sebagai alat legitimasi kezaliman. Al-Quran secara tegas mengecam dan melarang segala bentuk kezaliman ini, baik dalam skala personal maupun struktural dan negara. Allah SWT berfirman:
وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعِبَادِ
Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya (QS. Ghafir [40]: 31).
Allah SWT juga berfirman:
وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعَالَمِينَ
Allah tidak menghendaki kezaliman bagi seluruh alam (QS Ali ‘Imran [3]: 108).
Bahkan sekadar cenderung kepada—apalagi mendukung—pelaku kezaliman telah diancam oleh Allah dengan ancaman yang keras:
وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ
Janganlah kalian cenderung kepada para pelaku kezaliman yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong (QS. Hud [11]: 113).
Kekhawatiran ini semakin relevan karena pada waktu yang sama, agresi Israel ke Gaza masih berlangsung dan menelan korban sipil. Kondisi tersebut membuat klaim perdamaian yang dibawa Amerika Serikat dipertanyakan. Sebagian pihak menilai agenda tersebut bukan sepenuhnya demi kemanusiaan, melainkan sarat kepentingan politik dan ekonomi.Proyek "New Gaza" misalnya,dimana wilayah Gaza akan dibangun gedung-gedung pencakar langit yang memang diperuntukkan 100% bisnis AS semata.
Disinilah pentingnya memandang dengan kaca mata Islam yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sesungguhnya Imam (khalifah) itu adalah perisai; manusia berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya (HR. Bukhari Muslim).
Islam dalam bingkai khilafah sangat melindungi kaum tertindas, termasuk rakyat Palestina, tidak diperlakukan sebagai isu diplomatik semata, tetapi sebagai amanah yang wajib dibela secara politik, hukum dan bahkan militer (jihad). Khilafah berfungsi bukan hanya sebagai simbol persatuan umat, tetapi sebagai instrumen nyata untuk menghentikan kezaliman, menantang hegemoni zalim dan menegakkan keadilan dalam tatanan dunia yang selama ini dikuasai oleh kekuasaan jahat AS.
karena itu, sesungguhnya tidak ada pilihan lain bagi umat Islam sedunia selain memperjuangkan tegaknya kembali hukum Islam—sebagai satu-satunya institusi pemerintahan global—yang bukan hanya akan menghentikan kecongkakan dan kezaliman AS, namun juga akan menebarkan rahmat bagi alam semesta.
WalLâhu a’lam bi shawâb. []

No comments:
Post a Comment