Oleh: Mei Widiati, M.Pd.
Ekspansi Sawit di Tengah Luka Ekologis
Di tengah belum pulihnya Sumatera dari bencana banjir besar yang diduga kuat akibat deforestasi dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, Presiden Prabowo justru menyampaikan rencana perluasan perkebunan sawit di Papua. Pernyataan ini disampaikan pada 16 Desember 2025 dengan dalih mewujudkan swasembada energi dan pangan di setiap daerah.
Kebijakan ini menuai kritik keras dari pegiat lingkungan, masyarakat adat, dan koalisi sipil. WALHI menilai sikap tersebut minim empati dan abai terhadap pelajaran ekologis dari Sumatera. Penelitian akademik dari UGM juga menunjukkan bahwa sawit bukan hanya merusak lingkungan, tetapi mengubah tatanan sosial masyarakat adat dan menciptakan lingkar kemiskinan baru, sebagaimana terjadi di Merauke dan Boven Digoel.
Data koalisi masyarakat adat menunjukkan bahwa hingga kini terdapat 94 perusahaan sawit di Papua dengan luas konsesi lebih dari 1,3 juta hektar. Penguasaan lahan dalam skala raksasa ini hanya dinikmati segelintir korporasi, sementara masyarakat adat kehilangan tanah, ruang hidup, dan keamanan—bahkan menghadapi tekanan militer saat mempertahankan haknya.
Greenpeace dan Sawit Watch menegaskan bahwa daya dukung lingkungan Papua hampir terlampaui. Ambang batas ekologis sawit Papua berada di kisaran 290 ribu hektar, dan angka itu nyaris disentuh sejak 2022. Namun, fakta-fakta ini tampaknya tak cukup kuat untuk menahan laju ambisi negara dan oligarki.
Akar Masalah: Sekularisasi Kebijakan dan Kapitalisasi Alam
Masalah mendasar dari kebijakan ini bukan sekadar salah urus teknis, melainkan cara pandang sekuler-kapitalistik dalam mengelola alam. Dalam paradigma sekuler, agama dipisahkan dari urusan negara. Akibatnya, kebijakan publik tidak lagi tunduk pada nilai halal-haram, keadilan, dan amanah, melainkan pada logika untung-rugi dan pertumbuhan ekonomi semu.
Kapitalisasi alam menjadikan hutan, tanah adat, dan kehidupan masyarakat lokal sebagai komoditas. Negara berperan sebagai fasilitator kepentingan korporasi, bukan penjaga amanah rakyat. Proyek “swasembada pangan dan energi” akhirnya berubah menjadi proyek akumulasi modal, di mana alam Papua dikorbankan demi kepentingan segelintir elit.
Solusi Islam: Alam Amanah Allah
Dalam Islam, alam bukanlah objek eksploitasi bebas, melainkan amanah dari Allah yang harus dikelola dengan adil dan bertanggung jawab.
Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan ekologis adalah buah dari kebijakan dan perbuatan manusia sendiri, termasuk kebijakan yang lahir dari keserakahan dan pengabaian nilai ilahi.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan soal ambisi pembangunan, tetapi soal pertanggungjawaban di hadapan Allah atas keselamatan manusia dan lingkungan.
Bahkan dalam konteks pengelolaan alam, Rasulullah ﷺ menegaskan:
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud)
Maknanya, sumber daya alam strategis tidak boleh dimonopoli korporasi, apalagi dirampas dari masyarakat adat yang telah menjaganya turun-temurun.
Khatimah
Ekspansi sawit di Papua bukan sekadar isu pembangunan, tetapi cermin kegagalan paradigma. Selama kebijakan negara masih berpijak pada sekularisasi dan kapitalisasi, maka bencana ekologis dan ketidakadilan sosial akan terus berulang—dari Sumatera hingga Papua.
Islam menawarkan jalan yang berbeda: pengelolaan alam berbasis amanah, keadilan, dan kemaslahatan umum. Tanpa perubahan cara pandang ini, swasembada yang digadang-gadang hanya akan menjadi swasembada bencana. Saatnya kembali ke sistem Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Wallaahu a'lam bish-showab
