-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lalai Dengan Dunia Nyata, Tenggelam Dalam Algoritma

Tuesday, January 13, 2026 | January 13, 2026 WIB Last Updated 2026-01-14T06:13:07Z

Oleh : Ika Wulandriati, S.Tp


Arus deras informasi digital adalah tantangan besar bagi generasi muda. Inovasi teknologi muncul dan menyebar dengan sangat cepat sehingga mengubah segala aspek kehidupan. Aktivitas sehari-hari mereka makin bergantung pada internet dan berbagai platform digital.


Berstatus generasi yang lahir & tumbuh di era digital (digital native),pemuda terdampak banjir informasi. Adanya mode komunikasi dan akses informasi yang lebih mudah, tanpa batas waktu dan tempat, membawa risiko penyebaran hoaks. Selain itu, ada risiko penurunan kesehatan mental, potensi ancaman privasi data, serta tuntutan untuk terus mengasah keterampilan digital.


Memang, generasi muda akan terus beradaptasi di dalam era digital ini agar tidak mudah terpengaruh hal negatif di tengah dunia yang serba cepat. Kemampuan literasi digital, berpikir kritis, dan pengendalian diri menjadi langkah teknis untuk menavigasi tantangan ini. Namun, risiko tetaplah risiko. Benteng pengendaliannya tidak cukup pada ujung jari. Harus ada motivasi kuat dari dalam diri tiap individu agar teknologi digital tidak berbalik arah mengendalikan diri penggunanya.


Media sosial sebagai salah satu produk digital tidak ubahnya sebuah segmen hidup baru di dunia maya. Bagi generasi yang lahir & tumbuh di era digital, dunia maya telah menjadi habitat hidupnya. Mereka sangat tergantung dengan internet dan kehidupan virtual seolah-olah itulah “dunia nyata” mereka. Padahal, semestinya tidak seperti itu.


Di dunia digital, generasi muda “diasuh” dan diarahkan oleh algoritma perihal minat, kesukaan, dan standar kebahagiaannya. Tidak heran, banyak generasi muda yang terjebak, sedangkan dunia maya tentu bukan dunia nyata. Terlalu sibuk dengan dunia maya justru membuat generasi muda lalai karena algoritma tidak menawarkan dinamika, apalagi tantangan hidup sejati.


Sebaliknya, algoritma membuat total waktu yang dihabiskan seseorang untuk menatap layar ponsel dan membuatnya betah berlama-lama hingga “tenggelam” dengan sajian di layar gawai. Algoritma membuat mereka fokus pada sesuatu yang semu dan tidak ada realitasnya. Solusi bagi permasalahan mereka seolah-olah bisa selesai dengan aktivitas screen time tinggi.


Di luar sana, kehidupan hakiki mereka terjadi di dunia nyata yang mungkin tidak setiap saat menawarkan kebahagiaan, melainkan sebaliknya. Kehidupan di dunia nyata adalah realitas tempat manusia berpijak. Keberadaannya terasa secara fisik, pancaindranya merekam berbagai fenomena, dan akalnya bisa berfungsi optimal untuk memikirkan solusi kehidupan.


Dunia nyata menyajikan hakikat problematik hidup yang membutuhkan ketangguhan untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Solusi bagi problematik itu bukanlah lantas lari dan beralih mencari kebahagiaan semu di dunia maya yang bahkan tidak jarang membuat mereka meragukan peran agama.


Kebahagiaan semu generasi muda di layar gawai sejatinya menunjukkan bahwa mereka adalah pengguna terbesar produk dan platform digital. Kita tentu mengetahui bahwa seluruh platform digital disetir oleh para kapitalis raksasa teknologi global. Mereka menjajakan produknya dengan melihat bahwa generasi muda adalah pasar yang sangat potensial.


Namun, kita tidak boleh lupa bahwa kemajuan teknologi selalu dikendalikan oleh ideologi yang melahirkannya. Ketika teknologi digital lahir dari ideologi kapitalisme, kapitalisme pulalah yang akan menumbuhkan dan memeliharanya.


Para kapitalis sangat menyadari potensi besar pasar teknologi digital di kalangan generasi muda itu. Namun, kapitalis tetaplah kapitalis. Landasan kapitalisme, yaitu sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), menjadikan platform digital menyajikan konten-konten yang merusak generasi muda.


Ini tentu menjadi masalah, karena konten digital yang tampil di layar gawai generasi muda pada akhirnya didominasi oleh konten negatif. Ide-ide sekuler dan liberal yang bertengger di media sosial begitu banyak dan deras. Selanjutnya, algoritma berperan mengasuh generasi muda menurut arah pandang sekuler.


Akibatnya, seluruh konten digital yang telah menjadi tabungan informasi itu bisa mengendalikan cara berpikir generasi muda, termasuk arah pandangnya terhadap kehidupan.


Generasi muda membutuhkan proteksi. Proteksi yang utama adalah cara pandang shahih, yakni yang bersumber dari Sang Khalik, bukan yang lain. Di sinilah ketakwaan menjadi standar pengendali perilaku individu. Ketaatannya pada aturan Allah Taala adalah wujud keyakinan hakikinya bahwa Allah Maha Melihat dan Mengawasinya.


Kondisi miris generasi muda dengan buaian algoritma digital semestinya membuat kita lebih memperhatikan dan peduli dengan mereka. Generasi muda adalah penerus estafet kehidupan di dunia nyata, bukan jagat maya. Kita tidak boleh membiarkan mereka teralihkan dari dunia nyata.


Mereka harus kita bina agar ketangguhannya bisa tumbuh untuk menghadapi pentas kehidupan. Mereka membutuhkan paradigma yang shahih agar memahami solusi hakiki bagi permasalahan hidupnya. Di situlah letak ketahanan ideologi. Dengan begitu, potensi generasi muda menjadi terarah dan mampu untuk mengatasi problematik hidup.


Itulah sebabnya paradigma atas solusi problematik generasi muda harus kita ambil dari Islam sebagai satu-satunya din shahih. Generasi muda harus mengenal jati dirinya sebagai hamba Allah Taala dan identitasnya sebagai seorang muslim. Islam memiliki panduan wahyu yang sudah jelas kesesuaiannya untuk mengatasi permasalahan hidup karena wahyu pasti sejalan dengan fitrah penciptaan.


“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS Thaha [20]: 2).


Ayat ini pernah menjadi pintu hidayah bagi sayidina Umar bin Khaththab ra. Beliau yang awalnya hendak menemui Rasulullah saw. untuk membunuhnya, segera berbalik haluan untuk masuk Islam. Sosok Umar yang begitu keras seketika luluh setelah mendengar lantunan ayat ini.


Sungguh, keberadaan Islam sebagai aturan kehidupan adalah untuk memudahkan dan meringankan manusia menjalani kehidupan itu sendiri, bukan untuk menyulitkannya. Ini menunjukkan bahwa Islam memiliki solusi bagi seluruh problematik kehidupan.


Namun, pengelolaan generasi muda beserta segala potensinya tidak cukup dengan sekadar menguatkan benteng akidah, sekalipun itu benteng pertama. Generasi muda adalah manusia yang butuh diarahkan menurut potensi hidupnya sebagai makhluk Allah, yakni memiliki garizah (naluri), hajatul udhawiyah (kebutuhan fisik), dan akal, yang semuanya diatur menurut aturan Allah Taala.


Tidak hanya sampai di situ, mereka membutuhkan lingkungan kondusif yang kental dengan suasana keimanan serta kolaborasi di antara berbagai elemen umat secara komprehensif dan sistemis.


Generasi muda tentu tidak mungkin berdiri sendiri untuk meraih profil generasi bertakwa dan tangguh. Keberadaan mereka sebagai individu tidak bisa dilepaskan dari lingkungan dan masyarakat tempat mereka hidup. Untuk itu, perlu adanya sinergi seluruh elemen umat dalam rangka menyelamatkan generasi muda dari arus deras sekularisasi, baik yang terjadi secara nyata maupun di dunia maya.


Poin pertama yang memiliki peran dalam hal ini adalah keluarga. Keluarga adalah unit terkecil pendidikan bagi seorang individu. Keluarga berperan selayaknya inkubator awal yang tidak hanya memberikan kehidupan dan realisasi hukum syara’ seputar keluarga, tapi juga untuk menanamkan akidah dan standar perbuatan yang shahih menurut Islam.


Di dalam sistem sekuler kapitalisme, fungsi keluarga ini masih banyak mengalami ketimpangan. Hal ini di antaranya disebabkan oleh peran ibu yang tercerabut dan terpaksa keluar dari peran domestiknya selaku ummun wa rabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga) serta madrasatul ‘ula (sekolah pertama). Miris, sistem kapitalisme telah meniscayakan kaum ibu menjadi bumper ekonomi atas nama pemberdayaan ekonomi perempuan sehingga menjauhkan para ibu dari fitrahnya sebagai ibu generasi.


Poin kedua adalah sekolah. Sekolah adalah entitas sistemis yang akan menerapkan kurikulum tertentu dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan bukanlah sesuatu yang bebas nilai. Kurikulum pun bukan sekadar berwujud modul ajar ataupun rencana pelaksanaan pembelajaran yang berisi panduan mengenai materi pelajaran, prosedur, dan pengelolaan kegiatan belajar mengajar.


Lebih dari itu, sistem dan kurikulum pendidikan berperan membumikan nilai-nilai tertentu pembentuk kepribadian. Jika sistem pendidikannya sekuler, kurikulumnya pun hanya akan berorientasi materi berupa nilai angka atau huruf mutu, tapi mengabaikan nilai-nilai agama. Selain itu, di dalam sistem pendidikan sekuler, pendidikan karakter akan menjadi sesuatu yang sibuk dinarasikan, tapi target akhirnya tetap sekuler. Ini karena murid yang baik bukanlah sekadar yang bermoral luhur, tapi harus berkepribadian Islam.


Poin ketiga adalah masyarakat. Masyarakat luas berperan strategis sebagai kontrol sosial dan entitas yang memiliki perasaan, pemikiran, dan peraturan yang sama. Semua individu anggota masyarakat berinteraksi di dalamnya dengan wujud interaksi nyata, bukan seperti interaksi di dunia maya. Mereka saling menolong dalam urusan kebaikan dan takwa, jauh dari corak individualis.


Poin keempat adalah peran para tokoh umat. Mereka adalah simpul dan panutan umat. Perkataannya sangat berpengaruh pada arah pandang umat. Profil tokoh umat yang sejati adalah mereka yang layak didengar. Mereka bukan orang-orang yang suka sembarang bicara, apalagi mengeluarkan perkataan yang menyesatkan publik.


Tokoh masyarakat akan menyatukan berbagai komponen umat  agar satu suara mengenai penjagaan generasi muda pengisi peradaban masa depan. Mereka juga sadar dengan kebutuhan terhadap sistem shahih. Lisannya senantiasa basah oleh perkataan yang menyerukan riayatusy syu’unil ummah (mengurusi urusan umat), termasuk seruan ketaatan terhadap hukum Syara’.


Poin kelima adalah jama'ah Islam ideologis sebagai tulang punggung pembinaan seluruh komponen umat, termasuk generasi muda. Selain itu, jama'ah Islam ideologis berperan dalam rangka mengoreksi penguasa (muhasabah lil hukam), memberi ruang bagi suara kritis kaum muda, serta mencerdaskan dan meningkatkan taraf berpikir umat.


Poin keenam adalah negara, yakni negara berideologi Islam yang berperan menerapkan sistem Islam kaffah, sanksi yang tegas, serta sistem hukum yang adil dan tidak pandang bulu. 


Demikianlah sejatinya dibutuhkan sinergi seluruh komponen umat dalam rangka mempersiapkan generasi muda yang bertakwa dan tangguh, serta mampu melanjutkan estafet peradaban Islam.

Wallahualam bissawab.

×
Berita Terbaru Update