-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bahaya Game Online Mengintai Generasi

Wednesday, January 7, 2026 | January 07, 2026 WIB Last Updated 2026-01-08T00:45:40Z
Bahaya Game Online Mengintai Generasi

Oleh : Miftahul Jannah, S.si 

(Aktivis Muslimah) 


Polrestabes Medan mengungkap kronologi dugaan pembunuhan seorang ibu berinisial F (42) oleh anaknya AL (12) di kota Medan. Kakak pelaku menyampaikan ada beberapa motivasi atas hal yang mendorong AL melukai korban. Pertama, melihat kekerasan yang dilakukan korban terhadap kakak dan ancam menggunakan pisau terhadap ayah. Kedua, melihat kakak yang dipukuli korban menggunakan sapu dan tali pinggang. Ketiga, sakit hati game online dihapus  karena AL kerap kali memainkan game yang menggunakan pisau serta menonton serial anime pada saat adegan menggunakan pisau. (kompas, 23/12/2025)


Kasus kekerasan serupa tidak hanya terjadi di Medan. Seorang siswa SMP di Batam, Kepulauan Riau, berusia 13 tahun membuat geger setelah mengirim ancaman bom melalui whatsapp sekolah. Ternyata siswa tersebut terpengaruh game online (detiknews, 10/12/2025)


Kasus ledakan di masjid SMAN 72 Jakarta saat sholat jum'at membuat gempar seisi sekolah. Akibatnya 96 orang yang mayoritas siswa terluka. Pelaku ledakan berasal dari siswa sekolah tersebut. Diduga kuat pelaku merasa tertindas dan menaruh dendam hingga bergabung di grup kekerasan dan komunitas media sosial yang mengagumi kekerasan (sindonews, 13/11/2025)


Berbagai fenomena kekerasan akibat terinspirasi game online atau pun media sosial patut untuk kita waspadai bersama. Pasalnya kasus yang ada bukannya berkurang tapi malah terus bertambah. Game online yang mungkin bagi sebagian orang baik anak-anak, remaja ataupun dewasa sebagai sarana hiburan atau bersenang-senang bahkan mungkin sebagai media edukasi kini berubah menjadi monster berbahaya yang mempengaruhi penggunanya.


Parahnya dengan kemudahan akses ke internet, seseorang dengan mudah mengunduh dan memainkan game tersebut tanpa mekanisme yang rumit. Alhasil, aplikasi game dengan mudah didapatkan termasuk di dalamnya game yang mengajarkan kekerasan yang bisa mempengaruhi emosi dan kesehatan penggunanya.


Data BPS mencatat anak usia 0-18 tahun mendominasi pasar game online dengan persentase 46,2% . Berdasarkan data BPS juga, game online rentan menimbulkan efek candu dan dapat menimbulkan masalah pada anak dari mulai akademis, kesehatan fisik hingga mental. 


Platform Digital Tidak Netral


Game online adalah permainan digital yang dimainkan dengan koneksi internet baik dilakukan sendiri atau bersama orang lain secara real time. Game online ini bisa diunduh melalui platform digital sebagai server atau tempat distribusi game. Artinya platform digital menjadi sarana utama adanya perkembangan game online.


Sementara itu, platform digital yang ada tidak netral, karena dia dibuat sesuai tujuan dan kepentingan pembuatnya. Dan kita ketahui bersama mayoritas platform digital raksasa dikuasai oleh negara barat dengan ide sekularismenya. Ide yang tidak mengindahkan nilai dan norma agama tapi cenderung mempromosikan ide kebebasan dan permisif. Maka tidak heran jika game online digunakan sebagai sarana untuk terus menanamkan nilai dan ajaran yang merusak tapi dikemas dalam bentuk game yang menarik.


Parahnya bukan hanya penanaman nilai dan ajaran yang merusak, tapi keberadaan platform digital dimanfaatkan oleh kapitalis global untuk meraup keuntungan tanpa memperdulikan kerusakan yang muncul pada generasi. Keuntungan ini diperoleh dari unduhan berbayar, iklan dalam game, pembelian item, bagi hasil dengan developer game, dan lain-lain. Tidak hanya itu  kapitalis global akan mendata perilaku pengguna platform digital sehingga mereka akan dibuat lebih lama online dan timbul efek kecanduan dan bahkan mempengaruhi kesehatan mental. 


Butuh Perlindungan Negara


Sejauh ini beberapa kebijakan yang dilakukan negara melalui pembuatan regulasi, pemblokiran konten berbahaya, pengawasan platform, literasi digital, dll untuk mengatasi dampak buruk platform digital belum menunjukkan hasil yang memuaskan dan komprehensif. Karena pada faktanya kasus yang berkaitan dengan kekerasan yang terinspirasi game online seperti bullying, bunuh diri teror bom bahkan pembunuhan kasusnya bukannya menurun tapi semakin tahun semakin bertambah. Solusi yang dilakukan pemerintah masih sebatas menyentuh permukaan luar saja alias pragmatis dan belum bisa menjadi solusi yang komprehensif.


Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna mewajibkan kepada pemeluknya untuk mewujudkan perlindungan dan penjagaan terhadap generasi dari berbagai kerusakan dengan seperangkat aturan yang dimiliki. Berbeda dengan ide kapitalis sekuler yang saat ini menguasai semua platform digital. Islam akan membangun teknologi tinggi dan investasi besar berlandaskan akidah islam. Teknologi ini akan menandingi raksasa digital hari ini. Semua itu dilakukan untuk kemaslahatan umat bukan sebatas keuntungan segelintir orang. Islam juga akan mewujudkan kedaulatan digital yang tidak mudah diintervensi ataupun dikuasai platform digital lainnya.


Kedaulatan digital akan bisa mengatasi kerusakan generasi akibat konten berbahaya di ruang digital. Bukan hanya kedaulatan digital, lebih dari itu, kerusakan generasi secara umum bisa ditangkal dengan 3 pilar utama. Pertama, ketakwaan individu. Individu yang bertakwa yang paham akan posisinya sebagai hamba dan paham akan tujuan penciptaannya serta paham kelak akan ada hari penghisaban. Maka dia akan senantiasa menjadikan amal perbuatannya didasarkan pada halal haram bukan sebatas memenuhi hawa nafsu semata. Sehingga tidak akan muncul dari dirinya keinginan untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain karena dia memiliki pemahaman yang jelas yakni aqidah islam.


Kedua, kontrol masyarakat. Individu yang bertakwa tidak cukup untuk mencegah kekerasan karena inspirasi game online ataupun platform digital lainnya. Jika kontrol masyarakat kurang, masyarakat yang permisif akan abai terhadap perilaku orang lain. Apalagi jika masyarakat menganggap perilaku orang lain bukan urusannya maka kerusakan generasi bukan tidak mungkin akan terus terjadi. Maka kita membutuhkan masyarakat yang peduli  masyarakat yang senantiasa melakukan amat ma'ruf nahi munkar. Saling menasehati dalam kebaikan adalah wujud nyata yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan generasi. Ketiga perlindungan negara. Tidak cukup dengan adanya ketakwaan individu dan masyarakat yang peduli. Keberadaan negara yang hadir untuk melindungi dan menyelamatkan generasi  mutlak diperlukan. Negara hadir sebagai pengayom umat, mulai dari balita, remaja hingga dewasa.  Negara juga akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mewujudkan kemaslahatan umat dan penyelamatan terhadap generasi. Negara akan menerapkan sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan, budaya, peradilan, dll yang sesuai dengan Islam, sesuai dengan aturan yang diturunkan oleh Allah kepada manusia. Negara melaksanakan semua aturan Allah tersebut karena paham bahwa ini adalah kewajiban dari Allah, selain itu karena telah terbukti selama lebih dari 1400 tahun ketika aturan Islam ditegakkan maka masyarakat hidup sejahtera dan menjadi umat terbaik sepanjang masa. Dengan terus konsisten berdakwah menyadarkan Umat, negara Islam yang berlandaskan aturan Allah akan kembali terwujud. InsyaAllah.

×
Berita Terbaru Update