-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Isra Mikraj Momentum Kebangkitan Umat

Monday, January 19, 2026 | January 19, 2026 WIB Last Updated 2026-01-20T05:27:15Z
Isra Mikraj Momentum Kebangkitan Umat

Oleh Nining Sarimanah 

Aktivis Muslimah



Rajab, salah satu bulan mulia yang di dalamnya banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam, di antaranya Isra Mikraj. Momen diperjalankannya Rasulullah saw. dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa hingga Sidratul Muntaha untuk mendapat perintah salat dari Allah Swt. secara langsung. Salat merupakan tiang agama dan juga penghubung kedekatan spiritual seorang hamba dengan Sang Khalik, Allah Taala.


Peristiwa luar biasa ini, tentu tidak dilupakan umat Islam di dunia, termasuk muslim Indonesia. Antusiasme umat Islam di Indonesia begitu besar dalam menyambut Isra Mikraj melalui berbagai tradisi yang berkembang di tengah masyarakat, dengan tetap mengedepankan nilai religius dan kebersamaan. 


Seperti di Bandung, acara pawai obor yang dilaksanakan masyarakat di Taman Tegallega. Tradisi ini dilakukan masyarakat pada malam hari sambil menyalakan obor melewati beberapa titik dengan rute tertentu dan membaca sholawat nabi.


Lain halnya di Cirebon. Masyarakat Cirebon dalam memperingati Isra Mikraj, menggelar pengajian dan doa bersama di masjid. Dalam acara tersebut masyarakat biasanya membawa makanan masing-masing yang kemudian disajikan untuk disantap bersama. 


Selain itu, ada juga tradisi yang tak kalah unik yaitu khataman kitab Arjo. Masyarakat Temanggung di Jawa Tengah memperingati Isra Mikraj dengan kegiatan membaca kitab Arjo. Kitab ini berbahasa Jawa dengan tulisan Arab pegon karangan KH Ahmad Rifai al-Jawi. Kitab tersebut menjelaskan secara detail tentang kisah perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad saw.. Dan tradisi lainnya yang memiliki ciri khas berbeda di setiap daerah di Indonesia. (Detiktravel..com, 15/1/2026)


Memeriahkan Isra Mikraj dengan bermacam acara yang bernilai spritual patut diapresiasi, karena itu salah satu upaya agar momen penting dan istimewa Isra Mikraj tidak dilupakan kaum muslim. Akan tetapi, perayaan Isra Mikraj tak cukup sampai di sana. Umat harus memahami bahwa setelah Isra Mikraj terjadi baiat Aqobah ll yang menjadi tonggak perubahan politik umat secara ideologis.


Dari rangkaian peristiwa ini, bisa dipahami bahwa Isra Mikraj bukan sekadar perayaan tahunan tanpa pengaruh yang berarti. Pada baiat Aqobah II ada sisi ideologis yang jarang dibahas oleh kaum muslim yaitu kekuatan iman melahirkan masyarakat yang dibangun berdasarkan syariat. Isra Mikraj menjadi titik awal tegaknya syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan di Madinah.


Perintah salat dalam perjalanan Rasulullah dari langit langsung beliau laksanakan dan sampaikan ke umatnya. Artinya, setiap perintah Allah wajib dijalankan oleh hamba yang beriman. Di sisi lain, salat bukan sekadar ibadah ritual semata, tetapi memiliki makna lain yaitu kepemimpinan yang menegakkan agama dan hukum Allah dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. 


Rasulullah saw. bersabda, "Akan muncul pemimpin-pemimpin, kalian akan akui sebagian perbuatan mereka dan sebagiannya kalian ingkari. Siapa yang mengakuinya, maka ia  telah bebas. Siapa mengingkari, maka dia telah selamat. Tetapi, masalahnya ialah siapa yang setuju dan ikut." Para sahabat bertanya, "Tidakkah kami perangi saja mereka?" beliau bersabda, "Tidak, selama mereka menunaikan salat." (HR Muslim).


Sayang, makna ini telah terhapus dalam benak kaum muslim. Umat tidak memahami bahwa sistem hari ini, sistem sekuler kapitalisme telah menggantikan hukum Allah dengan hukum buatan manusia. Aturan Allah ditempatkan hanya di ranah private: ibadah ritual, sementara urusan publik diserahkan pada akal manusia yang sifatnya terbatas. 


Aturan yang lahir dari manusia tidak lepas dari kepentingan segelintir orang, sehingga lahirlah produk hukum yang merugikan masyarakat: bencana ekologi, ekonomi, sosial, dan politik. Tak hanya itu, sistem sekuler mencetak individu yang terkikis rasa takutnya pada Allah. Halal-haram tidak menjadi dasar dalam perbuatan. Semua dikembalikan pada asas manfaat dan kesenangan duniawi.


Semua itu terjadi sejak Khilafah Utsmaniah runtuh, yang menjadikan dunia Islam kehilangan payung politiknya yang menyatukan umat. Umat Islam berada dalam cengkeraman sistem kapitalisme yang melahirkan kerusakan yang parah di setiap lini kehidupan.


Kekayaan alam yang melimpah di negeri-negeri Islam dikuasai para kapital, kaum muslim dikotak-kotak dengan ikatan nasionalisme, penjajahan di Palestina masih bercokol, pemikiran batil merebak, dan yang paling memilukan kini kaum muslim menjadi objek dalam percaturan politik global. 


Karena itulah, umat Islam harus memiliki kesadaran politik utuh dalam memaknai Isra Mikraj yaitu umat Islam menjadi pemain utama dalam percaturan politik global. Dan itu tidak akan terjadi, jika umat masih terkungkung dalam belenggu sistem sekuler kapitalisme. Umat harus mencampakkan sistem ini dan mewujudkan khilafah yang akan menjalankan syariat Islam secara kafah dalam bingkai negara. 


Sejak Rasulullah hingga kekhilafahan terakhir di Turki kaum muslim menguasai dua per tiga dunia selama 13 abad lamanya dan mampu mewujudkan kesejahteraan, keamanan, dan keadilan. 


Maka dari itu, seharusnya perjuangan menegakkan khilafah menjadi pusat perhatian kita semua dengan langkah nyata yaitu dakwah di tengah-tengah masyarakat. Sehingga umat tersadarkan akan kewajiban ini dan bersama-sama berjuang demi kemuliaan Islam dan kaum muslim.


Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update