-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Guru Vs Siswa: Krisis Moral Dunia Pendidikan

Wednesday, January 28, 2026 | January 28, 2026 WIB Last Updated 2026-01-28T13:18:01Z

*Oleh : Windih Silanggiri*

*Pemerhati Remaja*


Dunia pendidikan kembali dihebohkan dengan peristiwa pengeroyokan sejumlah siswa kepada gurunya. Seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra adu jotos dengan siswanya hingga video yang merekam aksi mereka sempat viral di media sosial. 

(detik.com, 17-01-2026).


Menurut Agus, terdapat salah seorang siswa yang menegurnya dengan tidak sopan. Hal ini, memicu kemarahan Agus dan perkelahian tidak bisa dihindari. Di sisi lain, menurut pengakuan MUF, salah seorang siswa mengatakan bahwa Agus sering berbicara kasar, menghina orang tua dan siswa, mengatakan bodoh, dan miskin. Di mata siswa, Agus dikenal sebagai guru yang keras (kompas.com, 18-01-2026).


Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut, dan kekerasan. Ungkapan ini sebagaimana telah dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak (suratkabar.com, 15-01-2026).


*Sistem Sekularisme Menjauhkan Nilai Islam*


Lagi-lagi dunia pendidikan dibuat heboh lantaran muncul fenomena guru dikeroyok sejumlah siswa. Kejadian ini bukan hanya konflik personal atau emosi sesaat. Situasi ini menunjukkan bahwa problem dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk membentuk generasi mulia, justru menjadi tempat generasi niradab.


Kurikulum pendidikan saat ini telah gagal membentuk generasi yang beradab. Antara nilai moral dan agama, tidak ada hubungan yang saling terkait. Sistem pendidikan sekarang hanya memfokuskan pada prestasi akademik, namun jauh dari adab. Kelulusan siswa diukur hanya sebatas nilai ujian sekolah, tes kemampuan akademik, dan diterima kerja. Pada akhirnya, ilmu tanpa adab akan melahirkan generasi yang sombong dan keras hati. 


Hubungan antara guru dan siswa yang seharusnya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan, nyatanya tidak demikian. Hubungan yang muncul penuh dengan ketegangan, kekerasan, dan rasa tidak aman. Siswa tidak memiliki rasa hormat kepada guru sebagai tenaga pendidik. Ketika berbicara kepada guru, siswa memakai nada tinggi sebagai wujud rasa sombong. 


Di sisi lain, tak dapat dipungkiri ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli siswa dengan kata-kata yang melukai psikologis siswa. Tidak hanya itu, kekerasan secara verbal ataupun fisik yang ditujukan kepada siswa, juga semakin menambah rusaknya mental siswa. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang tak berujung pada solusi tuntas. 


Inilah buah pendidikan sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan Islam dalam pengaturan urusan manusia. Aturan agama dibuang jauh dari tatanan kehidupan, sehingga hidup manusia penuh dengan konflik. Siswa tidak lagi memiliki tujuan yang mulia ketika menuntut ilmu di sekolah. Mereka datang ke sekolah hanya sekadar untuk mendapatkan nilai ijazah yang tinggi. 


Sedangkan guru, mereka mengajar bukan lagi untuk membentuk karakter mulia siswanya. Melainkan hanya sekadar transfer ilmu. Sehingga sekolah hanya dijadikan ajang kompetisi nilai.


Standar benar salah bukan lagi aturan agama, melainkan hawa nafsu. Sehingga, ketika siswa di disiplinkan oleh guru, mereka merespon dengan emosi dan hilang rasa hormat. Sedangkan guru, dalam kondisi dilema karena resiko berhubungan dengan pihak kepolisian ketika orang tua siswa tidak terima atas perlakuan guru kepada anaknya. 


Lantas, bagaimana solusi paripurna agar hubungan antara guru dan siswa bisa harmonis sehingga output pendidikan mampu menjadi penopang peradaban mulia? 


*Generasi Mulia Hanya Dengan Islam*


Jika Sistem Kapitalisme telah gagal dalam mencetak generasi yang berilmu dan beradab, maka sudah seharusnya kembali kepada Islam. Dalam Islam, pendidikan bukan hanya sekadar bertujuan untuk mencetak generasi yang memiliki prestasi akademik, melainkan membentuk manusia yang memiliki kepribadian Islam. Yaitu memiliki pola pikir dan sikap Islam. Rasulullah saw bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak.


Selain itu, kurikulum dalam Sistem Pendidikan Islam harus berlandaskan pada akidah Islam. Yaitu menjadikan seluruh ilmu kehidupan harus dikaitkan dengan agama. Bukan sekadar kepentingan pasar. Setiap ilmu yang didapatkan harus dikaitkan dengan akidah Islam, yaitu ilmu yang membawa kemaslahatan bagi manusia secara keseluruhan. 


Dalam Islam, guru diposisikan sebagai tenaga pendidik yang harus dimuliakan dan dihormati. Hal ini semata-mata karena dorongan keimanan bukan jabatan. Sedangkan siswa harus dididik dengan penuh kasih sayang karena di tangan merekalah estafet peradaban Islam akan diteruskan. 


Guru harus diberikan gaji yang layak dan cukup agar mereka lebih fokus dalam mencerdaskan generasi. Hal ini akan bisa terwujud ketika anggaran negara diatur berdasarkan Islam yaitu dengan membagi kepemilikan menjadi kepemilikan umum dan negara dimana negara wajib mengelola dengan benar sesuai dengan aturan Islam. Sehingga hasil pengelolaannya bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat. 


Demikianlah mekanisme pengaturan Islam dalam dunia pendidikan. Semua ini hanya bisa terwujud ketika diterapkan dalam institusi yang berlandaskan akidah Islam, yaitu Khilafah dengan kepemimpinan seorang Khalifah. 


Wallahu a'lam bisshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update