-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Diplomasi Topeng, Rakyat Jadi Korban: Kapitalisme Global dan Kehancuran Moral Dunia

Wednesday, January 7, 2026 | January 07, 2026 WIB Last Updated 2026-01-07T12:32:33Z
Diplomasi Topeng, Rakyat Jadi Korban: Kapitalisme Global dan Kehancuran Moral Dunia

Oleh: Mei Widiati, M.Pd. 


Belum lama ini, Rusia mengklaim Presiden Putin selamat dari serangan drone Ukraina yang menargetkan kediaman dinasnya di Novgorod. Insiden ini terjadi beberapa hari setelah pertemuan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenski dengan mantan Presiden AS Donald Trump di Mar-a-Lago, yang membahas upaya perdamaian konflik Ukraina-Rusia.


Yang terlihat jelas: diplomasi internasional hanyalah topeng sementara sebelum eskalasi berikutnya. Rusia menyebut serangan sebagai “teror”, Ukraina menyebutnya sebagai tekanan. Sementara rakyat terus menjadi korban—kehancuran infrastruktur, korban sipil, dan ketidakpastian hidup tetap menghantui masyarakat.


Akar Masalah: Sekularisasi dan Kapitalisme Global


Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari sekularisasi politik dan kapitalisme global.


Sekularisasi Politik:

Negara-negara modern menghapus prinsip moral dan hukum ilahi dari kebijakan. Kekuasaan dijadikan alat dominasi, bukan amanah untuk menjaga perdamaian dan keadilan. Diplomasi hanyalah alat untuk menegakkan kepentingan politik pihak kuat, bukan melindungi rakyat.


Kapitalisme Global:

Konflik sering dimanfaatkan untuk mengamankan sumber daya strategis, industri militer, dan posisi geopolitik. Rakyat hanya menjadi pion. Dalam kasus Ukraina-Rusia, energi, minyak, dan pengaruh politik lebih diutamakan daripada keselamatan warga sipil. Kapitalisme global menormalisasi eksploitasi dan ketidakadilan.


Al-Qur’an menegaskan:


وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ


“Janganlah kejahatan disamakan dengan kebaikan; tolaklah dengan cara yang terbaik, sehingga orang yang ada permusuhan dengannya menjadi seperti teman akrab.” (TQS. Fussilat: 34)


Islam menekankan penyelesaian konflik dengan keadilan dan hikmah, bukan kekuatan atau kepentingan ekonomi semata.


Dampak Nyata: Rakyat Jadi Korban


Dalam konflik ini, rakyat menderita: inflasi, kemiskinan, kehilangan pendidikan, dan trauma sosial. Diplomasi internasional gagal menjamin keselamatan mereka, karena negara-negara besar mengejar keuntungan dan pengaruh global. Moralitas dan etika menjadi korban sekularisasi politik dan kapitalisme global.


Rasulullah ﷺ menegaskan kewajiban pemimpin terhadap rakyat:


“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim)


Pemimpin yang mengabaikan kesejahteraan rakyat dan mengorbankan mereka demi kekuasaan atau keuntungan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.


Solusi Islam: Kedaulatan, Keadilan, dan Perdamaian


Diplomasi Berbasis Moral dan Hikmah:


Islam mengajarkan penyelesaian konflik melalui keadilan dan maslahat rakyat, bukan dominasi.


وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ


“Tegakkan timbangan dengan adil dan jangan mengurangi ukuran dan timbangan.” (TQS. Ar-Rahman: 9–10)


Pemimpin Sebagai Amanah: 

Kekuasaan harus dijalankan sebagai amanah, melindungi rakyat, menegakkan keadilan, dan menghindari eksploitasi untuk kepentingan asing.


Perdamaian dan Pencegahan Kekerasan:


Islam menekankan:

“Orang-orang yang menahan diri dari pertumpahan darah dan memelihara keamanan masyarakat akan diberi pahala besar di sisi Allah.” (HR. Ahmad)


Konflik bersenjata harus menjadi jalan terakhir, dan diplomasi harus berlandaskan moral dan maslahat rakyat.


Khatimah 


Kasus konflik Rusia-Ukraina membuktikan wajah pahit sekularisasi politik dan kapitalisme global: diplomasi menjadi topeng, kekuasaan untuk elit, dan rakyat selalu menjadi korban.


Islam menawarkan solusi: kedaulatan syara' dijaga, kekuasaan dijalankan sebagai amanah, dan konflik diselesaikan dengan keadilan serta hikmah. Dengan paradigma ini, perdamaian sejati bisa tercapai, dan rakyat tidak lagi menjadi korban kepentingan pihak kuat. Solusi terwujud bila Islam diterapkan secara kaaffah dalam negara (daulah khilafah).


Wallaahu a'lam bish-showab

×
Berita Terbaru Update