Program MBG sudah berjalan setahun, namun ancaman stunting tetap tak terselesaikan.
Keracunan massal MBG, ompreng mengandung babi, SPPG tak sesuai standar, budgeting anggaran besar berdampak pada pengurangan anggaran bidang lain turut mewarnai masalah MBG.
MBG adalah program yang sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan , nyatanya ini adalah program populis kapitalistik, terlaksananya program menjadi hal utama, bukan manfaatnya untuk kemaslahatan masyarakat.
Meski banyak kritik dan permasalahan krusial di lapangan, bahkan saat libur sekolah, MBG tetap dipaksakan untuk terus berjalan. Ini menjelaskan mengapa program ini begitu gigih meski logika manfaatnya dipertanyakan banyak pihak. Ini menunjukkan bahwa MBG bukan untuk kepentingan rakyat, keberlangsungan MBG bukan lagi soal gizi anak, melainkan tentang menjaga bisnis dan kepentingan ekonomi para kroninya.
MBG telah menjadi proyek bisnis yang terlihat jelas dalam logika operasional programnya yang patut dipertanyakan.
Menurut Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar selama SPPG tetap menyalurkan MBG, ini berarti biaya operasional dan kontrak tetap berjalan. Margin profit juga tetap aman untuk SPPG tersebut (Kompas 12/ 2025). Pernyataan ini bukan sekadar kritik, tetapi menyibak tabir realitas problematik dari MBG.
Terlebih setelah pemerintah harus dihadapkan pada realitas yakni bencana banjir besar di Aceh dan Sumatera yang saat ini lebih mendesak. Program MBG yang tetap berjalan meski libur sekolah dan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mengatakan bahwa anggaran untuk program MBG tidak akan terganggu dan tidak perlu ada realokasi dana, membuka ruang untuk mempertanyakan esensi dan urgensi dari program ini.
Dalam sistem Islam, setiap kebijakan adalah untuk kemaslahatan rakyat dan sesuai syariat. Visi negara adalah raa'in sehingga kebijakan harus dalam rangka melayani kebutuhan rakyat, bukan untuk kepentingan pengusaha atau untuk popularitas penguasa.
Kebutuhan gizi rakyat dipenuhi secara integral melibatkan semua sistem yang ada. Sistem pendidikan mengedukasi tentang gizi. Sistem ekonomi memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Negara menyediakan lapangan kerja sehingga kebutuhan gizi keluarga bisa dipenuhi oleh kepala keluarga. Negara menjamin ketersediaan bahan pangan dengan harga terjangkau sehingga makanan bergizi mudah diakses rakyat.
Berbeda dengan hari ini, pemerintah fokus memberikan MBG namun abai terhadap masalah sektor lain yang lebih krusial seperti kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan, ibarat memperbaiki atap yang bocor saat fondasi rumahnya telah keropos.
Faktanya stunting adalah gejala akhir dari masalah yang dimulai dari kemiskinan, kurangnya edukasi, dan sulitnya akses kesehatan.
Dana anggaran MBG yang fantastis sebagiannya dapat digunakan untuk mendukung program program dalam berbagai sektor. Misalnya sektor ekonomi, dengan pemberdayaan ekonomi keluarga atau membuka lapangan kerja, sehingga masyarakat mendapatkan pekerjaan dan gaji yang layak untuk membeli makanan yang bergizi.
Sektor pendidikan, dana anggaran dapat digunakan untuk mempermudah akses dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Sedangkan pada sektor kesehatan, dana sebesar itu dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan akses kesehatan yang mudah, dengan memastikan masyarakat mengakses dan mendapatkan pengobatan dasar serta intervensi untuk pencegahan stunting.
Pada akhirnya program MBG telah menunjukkan wajah asli para penguasa kapitalistik yang tidak amanah terhadap anggaran negara yang strategis.
