-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dakwah Ideologis dalam Membina Ibu dan Pemuda

Saturday, January 3, 2026 | January 03, 2026 WIB Last Updated 2026-01-04T07:26:08Z
Dakwah Ideologis dalam Membina Ibu dan Pemuda

Oleh : Della Frice Br Manurung

Mahasiswi UMN Al-Washliyah Medan


Di tengah hiruk-pikuk kemajuan zaman, perubahan tidak hanya menggeser teknologi dan gaya hidup, tetapi juga merombak cara manusia memahami makna hidup. Nilai-nilai yang dahulu menjadi pijakan perlahan tergerus oleh logika kecepatan, kenikmatan, dan pencapaian material, sementara keluarga—yang seharusnya menjadi benteng terakhir pembentukan karakter—kian kehilangan daya tawarnya. Rumah tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang penanaman nilai, melainkan sekadar tempat singgah di antara kesibukan dan layar digital. Ketika fondasi ini melemah, arah peradaban pun ikut goyah, sebab generasi tumbuh tanpa kompas moral yang jelas.

Dampak dari kondisi tersebut kini tampak jelas. Krisis identitas meluas, adab memudar, batas antara benar dan salah semakin kabur, dan gaya hidup hedonis dianggap sebagai hal lumrah. Generasi muda dibanjiri informasi, tetapi minim arah dan tujuan hidup. Di saat yang sama, kaum ibu semakin terdesak oleh tuntutan ekonomi dan standar keberhasilan material, sehingga peran strategisnya sebagai pendidik nilai semakin terpinggirkan. Fenomena ini bukan sekadar kesalahan individu, melainkan cerminan kerusakan sistemik yang membiarkan generasi tumbuh tanpa kompas moral.

Jika ditelaah lebih jauh, problem ini berkaitan erat dengan cara dunia modern bekerja, terutama melalui digitalisasi yang berada dalam kendali kapitalisme. Teknologi kerap dipandang netral, padahal ia membawa kepentingan ideologis. Media sosial, industri hiburan, dan ekonomi digital tidak hanya menjual produk, tetapi juga menanamkan nilai. Budaya instan, materialisme, dan orientasi kesenangan terus direproduksi karena selaras dengan logika pasar. Dalam arus ini, Islam sebagai pandangan hidup tersisih karena dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi.

Situasi tersebut semakin menguat ketika negara menganut paradigma sekuler. Agama diposisikan sebagai urusan privat, bukan sebagai pedoman kehidupan bersama. Generasi muda dan kaum ibu lebih sering diperlakukan sebagai objek ekonomi ketimbang subjek pembinaan. Anak muda diarahkan menjadi konsumen aktif, sementara ibu direduksi perannya sebagai pengelola domestik atau tenaga kerja. Pendidikan dan teknologi memang disediakan, tetapi Islam hanya hadir sebagai pelengkap, bukan sebagai landasan berpikir dan bersikap.

Akar persoalan ini terletak pada pilihan paradigma sekularisme dan kapitalisme. Ketika agama dipisahkan dari pengaturan kehidupan, Islam kehilangan peran strategis dalam membentuk sistem pendidikan dan budaya. Generasi muda akhirnya tumbuh dengan kecakapan teknis tanpa panduan nilai, sementara kaum ibu tidak dipersiapkan menjalankan peran ideologis dalam keluarga. Padahal, karakter dan arah generasi pertama kali dibentuk dari ibu. Sebagaimana ungkapan yang masyhur, wanita adalah tiang negara; rusaknya wanita berimplikasi pada rusaknya bangsa.

Dalam realitas kapitalistik semacam ini, solusi tidak cukup ditempuh secara individual. Di sinilah urgensi jamaah dakwah Islam ideologis menjadi nyata. Jamaah dakwah berfungsi membina umat agar memiliki kepribadian Islam yang utuh, dengan pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan Islam sebagai ideologi. Pembinaan ini tidak berhenti pada kesalehan personal, tetapi menyiapkan ibu dan generasi muda sebagai subjek perubahan dan pelaku kebangkitan umat.

Landasan normatifnya jelas dalam Al-Qur’an, khususnya QS. Ali Imran ayat 104, yang memerintahkan adanya sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ayat ini menegaskan pentingnya dakwah yang terorganisir, memiliki visi ideologis, dan berorientasi pada perubahan sistemik. Dakwah bukan aktivitas individual yang terpisah, melainkan kerja kolektif yang terarah dan berkesinambungan.

Metode dakwah ini telah dicontohkan Rasulullah ﷺ. Pada fase awal di Makkah, beliau memprioritaskan pembinaan umat dengan Islam sebagai ideologi. Para sahabat dibentuk keimanannya sekaligus ditanamkan kesadaran akan misi besar Islam. Dalam proses ini, perempuan dan generasi muda justru menjadi bagian penting, disiapkan sebagai pelopor perubahan, bukan sekadar pengikut.

Tahap pembinaan (tatsqif) menjadi fondasi awal dakwah. Umat dibekali pemahaman Islam yang menyeluruh agar mampu memilah nilai Islam dan nilai asing. Setelah itu, dakwah bergerak pada interaksi dengan masyarakat luas, menyampaikan Islam sebagai solusi kehidupan. Tahapan ini bermuara pada perubahan tatanan melalui penerapan Islam secara menyeluruh. Hal ini menegaskan bahwa dakwah Islam berorientasi pada perubahan masyarakat, bukan sekadar perbaikan individu.

Ketika Islam kembali diperjuangkan sebagai ideologi kehidupan, ibu akan menjadi penjaga arah peradaban dan generasi muda tampil sebagai penggerak sejarah. Dari fondasi inilah, peradaban Islam yang adil, bermartabat, dan berlandaskan wahyu dapat kembali terwujud.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

×
Berita Terbaru Update