Oleh: Mei Widiati, M.Pd
.
Fenomena brainrot—kedangkalan berpikir—telah menjadi tantangan serius bagi umat Muslim saat ini. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika masyarakat, individu, atau komunitas mengalami kemerosotan kemampuan berpikir kritis, mudah terpengaruh propaganda dangkal, dan kehilangan kapasitas analisis mendalam. Dalam konteks modern, akar masalah fenomena ini tidak terlepas dari dua kekuatan besar: sekularisasi dan kapitalisme, yang merasuki kehidupan sosial, politik, dan budaya umat Islam.
Fakta menunjukkan, media sosial dan platform hiburan modern berperan besar dalam memperkuat brainrot. Konten yang berlebihan, dangkal, dan tidak berverifikasi setiap hari mengalir ke masyarakat, memicu ketergantungan, serta melemahkan daya kritis umat. Padahal, Islam menekankan pentingnya verifikasi informasi. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum karena kebodohan." (TQS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa berpikir kritis dan tabayyun (verifikasi) adalah kewajiban, bukan sekadar saran moral.
Sekularisasi dan Kapitalisasi
Sekularisasi, di satu sisi, telah memisahkan manusia dari nilai spiritual dan hukum Ilahi. Pendidikan, media, dan budaya yang seharusnya membentuk akal sehat dan moralitas, kini lebih menekankan pada hiburan, konsumsi, dan pragmatisme. Akibatnya, umat kehilangan orientasi nilai dan kerangka berpikir yang benar. Kapitalisme, di sisi lain, memanfaatkan kondisi ini. Konten digital murah, hiburan dangkal, dan budaya konsumerisme dirancang untuk menciptakan ketergantungan, merusak akal, dan menumbuhkan kepatuhan pasif terhadap sistem yang menindas. Fenomena ini merupakan brainwashing modern yang nyata.
Dampaknya terlihat jelas: umat kehilangan kapasitas untuk menilai keadilan, membedakan yang halal dan haram secara kritis, serta mudah terjebak pada narasi global yang merugikan kepentingan Muslim. Hal ini sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam, yang menekankan pengembangan akal, ilmu, dan pemikiran kritis. Rasulullah SAW bersabda:
"Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina." (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menegaskan bahwa menuntut ilmu dan mengasah akal adalah kewajiban, tidak boleh digantikan oleh informasi dangkal atau hiburan semata.
Solusi Islam
Islam menyelesaikan fenomena brainrot bersifat komprehensif. Pertama, umat wajib kembali pada pendidikan berbasis Al-Qur’an dan Sunnah yang menekankan tadabbur, berpikir kritis, dan verifikasi informasi. Kedua, media Islam harus dijadikan benteng akal, bukan hanya hiburan atau propaganda dangkal. Konten digital harus mendidik, membimbing, dan meningkatkan kapasitas berpikir umat. Ketiga, masyarakat perlu menanamkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar, mengajak kepada kebaikan dan menegur keburukan, sehingga lingkungan sosial menjadi filter terhadap kedangkalan berpikir. Allah menegaskan:
وَلْتَكُنۡ مِّنۡكُمۡ اُمَّةٌ يَّدۡعُوۡنَ اِلَى الۡخَيۡرِ وَيَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِؕ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ
Artinya: "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (TQS. Ali 'Imran: 104)
Dengan kembali pada kerangka Islam, umat tidak hanya mampu melawan brainrot, tetapi juga membangun sistem sosial-politik yang adil, mengembalikan akal sehat, dan membentuk generasi yang tangguh secara moral dan intelektual.
Khatimah
Brainrot adalah gejala nyata dari kerusakan yang ditimbulkan sekularisasi dan kapitalisme modern. Islam, dengan prinsip akal, ilmu, dan keadilan, adalah benteng satu-satunya yang mampu menyelamatkan umat dari kemerosotan berpikir dan manipulasi ideologis. Menjaga akal berarti menjaga iman dan masa depan umat. Saatnya meninggalkan sekularisasi kapitalisme, dan menggantinya dengan Islam Kaafah yang membawa rahmatan lil alamin.
Wallaahu a'lam bish-showab
