Oleh Yuli Mariyam
(Pendidik Generasi Tangguh)
Minyak bumi merupakan bahan yang sangat krusial dalam peradaban saat ini, berbagai turunan dari bahan baku minyak bumi bisa didapatkan produk seperti BBM, LPG, plastik, aspal, pupuk, bahkan untuk mengirim satelit ke luar angkasa agar internet tetap berjalan pun membutuhkan minyak bumi. Karena begitu banyaknya manfaat untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, minyak bumi menjadi rebutan terutama bagi negara-negara adidaya yang mengemban ideologi kapitalis, bagi mereka menguasai minyak dunia sama dengan menguasai dunia. Kelangkaan nya bisa menimbulkan gejolak ekonomi, sosial dan politik.
Perang Iran melawan gabungan AS dan Israel semakin menegang, strategi Iran dalam menutup selat Hormuz dinilai para pengamat politik sebagai strategi yang mematikan bagi musuh. Meski jalur vital ini tetap dibuka untuk negara lain dan hanya ditutup bagi kapal tanker dan militer milik AS dan sekutunya Israel saja, namun dampak panic buying atas ketakutan kelangkaan minyak di pasar sudah menyebar sampai ke Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, negara-negara lain seperti Korea selatan, Banglades, Filipina dan Vietnam juga mengalami hal yang sama. Antrean di SPBU-SPBU setempat mulai terlihat mengular.
Di Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap aman di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Harga BBM pun tidak akan naik hingga Lebaran mendatang (Kompas.com, 17/3/2026), Meski sudah ada pernyataan demikian tapi sebagian masyarakat tetap saja panik, antrian-antrian mulai nampak di SPBU, apalagi bulan ini adalah bulan Ramadhan yang akan disusul dengan liburan dan lebaran, ada tradisi mudik ke kampung halaman bagi para perantau, ada silaturahmi yang dijalin setelah setahun sibuk dengan aktivitas masing-masing, harga bahan pokok sudah tentu naik karena permintaan pasar meningkat dan akan bertambah naik jika BBM langka, dalam ekonomi yang sulit ini rakyat akan semakin pusing.
Indonesia sejatinya tidak perlu panik jika kelangkaan minyak terjadi pada negara lain, karena Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, baik yang bisa diperbarui maupun yang tidak. Kepanikan ini justru memperlihatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak pandai dalam mengelola pemberian Tuhannya yang bertebaran di permukaan dan di dalam perut buminya. Kenapa negeri ini justru membuka seluas-luasnya keran investor asing yang kemudian menguasai sumber daya alam Indonesia termasuk minyak bumi seperti Chevron corporation milik As dan Rosneft milik Rusia. Kapitalis global telah mencengkeram dan mengeksploitasi sumber daya alam negara-negara lemah seperti Indonesia untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya, sehingga ketika dunia bergejolak, negri ini pun tak luput dari gejolak tersebut.
Sebagai negeri yang mayoritas penduduk nya beragama Islam, sangat di sayangkan jika pejabat-pejabat nya tidak mengenal bagaimana Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna mengatur bagaimana penguasaan sumber daya alam yang tepat menurut hukum syara’. Rasulullah saw bersabda:
الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ
“Kaum muslimin bersekutu (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api” (HR Abu Dawud).
BBM merupakan bagian dari An-Nar atau api, maka keberadaannya tidak boleh dimiliki oleh perseorangan atau swasta. Negara bertugas untuk mengelola nya dan mendistribusikan ke seluruh rakyat negeri tersebut sebagai bentuk riayah terhadap kebutuhan umat dengan gratis atau dengan harga yang terjangkau, subsidi tidak hanya diberikan kepada yang kaya saja atau sebaliknya yang miskin saja, seluruh masyarakat berhak atas komoditas yang murah lagi terjangkau.
Menyadarkan pemangku kebijakan memang tidaklah mudah, apalagi jika telah terjadi kontak-kontrak yang telah di tanda tangani sejak lama, kesadaran itu harus dimulai dari diri kita sendiri sebagai individu muslim, memperkuat aqidah kita dengan mempertebal keimanan kepada Allah dan RasulNya, mengkaji dan memahami Islam secara kaffah dan menginginkan diatur dengan aturan islam. Kemudian, langkah selanjutnya adalah memahamkan orang lain dan menyamakan persepsi kita tentang Islam kaffah, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat di Makkah, yang kemudian Allah berkehendak Islam diterapkan di Madinah dan disebarkan ke seluruh alam.
Merubah sistem kapitalis yang ada saat ini menjadi sistem Islam adalah satu-satunya cara untuk bisa menerapkan Islam secara keseluruhan, baik dalam dimensi individu yakni terkait ibadah ritual dengan Tuhannya, dimensi masyarakat yang berkaitan dengan muamalah nya, maupun dimensi negara yang mengatur pergaulan, perekonomian, serta ketahanan politik dalam dan luar negeri. Karena itu jika menilik pada adidaya sumber energi sebuah negeri, maka negeri ini harus bebas dari cengkeraman asing terlebih dahulu, Tidak gentar dengan semua ancaman yang menghadang, sehingga mampu memutuskan hubungan dalam bentuk apapun jika hal tersebut melanggar hukum syara’ apalagi sudah jelas-jelas merugikan bangsa sendiri dan menguntungkan investor asing yang merupakan pemodal besar atau para kapitalis. Negara, sejatinya bukan tidak memiliki SDM yang mampu mengelola, karena ilmu diciptakan untuk di pelajari dan diamalkan, banyak generasi di negeri ini yang mampu menciptakan inovasi di bidang industri dan tambang ,namun keberadaan mereka terabaikan, sehingga lebih memilih untuk mengadu nasib di negeri orang, wal hasil potensi SDA dan SDM pun dimiliki asing.
Wallahu A’lam bishowab.

No comments:
Post a Comment