Oleh Yuli Mariyam
(Pendidik Generasi Tangguh)
Awal bulan Desember 2025, sebuah tragedi terjadi di Venezuela, Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya telah diculik oleh agen intelegent milik Amerika Serikat yang sedang melakukan Operasi Absolute Resolve (BBCnewsIndonesia.com, 4/1/2026). Tragedi tersebut sontak menjadi pusat perhatian dunia, karena Venezuela sendiri merupakan wilayah Amerika tepatnya di Amerika Selatan. Apa gerangan penyebabnya masih menjadi pembacaan politik dunia. Masih di berita yang sama, Trump menyampaikan bahwa Venezuela telah melakukan perdagangan narkoba dan terorisme narkoba, serta melakukan peledakan terhadap perahu-perahu kecil yang mengangkut narkoba dan melewati wilayah tersebut.
Sudah banyak diketahui bahwa Amerika serikat sebagai pengemban ideologi kapitalisme menjadikan penjajahan sebagai jalan untuk menyebarluaskan ideologinya. Sejarah mencatat kehadiran AS di negri-negri kaum muslim pun menggunakan cara yang sama, alih-alih beralasan ingin menciptakan kedamaian dunia, mengamankan sumber daya alam agar tak dikuasai oleh pihak yang tak bertanggung jawab, AS telah melakukan propaganda-propaganda untuk melegalkan aneksasi yang dia lakukan terhadap negri-negri yang diinginkan. AS menganggap setiap negri di dunia ini layaknya halaman belakang yang siap dikeruk dan dihabiskan isinya kemudian ditinggalkan dalam kerusakan parah, tanpa mempedulikan dampak ekosistem terhadap lingkungan setempat, meski hal tersebut menabrak hukum internasional dan mendapat kecaman-kecaman dunia atas arogansinya.
Jika alasan penangkapan Presiden Venezuela adalah narkoba, maka harusnya Amerika lebih memperhatikan Philadelpia di negara bagian Pensylvania. Kota yang dijuluki kota Zombie ini menampakkan wajah asli AS dalam kasus penyalahgunaan narkotika dan sanksi tegas dalam penanganan permasalahan tersebut. AS sebagai negara induk dari 50 negara bagiannya, ternyata sigap ketika melihat adanya keuntungan yang bisa diperoleh dari negara bagiannya, namun melepaskan tanggung jawabnya ketika tidak ada keuntungan yang diperoleh, tentunya hal tersebut bisa kita ketahui dari data banyaknya gelandangan akibat tak mampu membayar pajak dan juga biaya hidup yang tinggi, banyaknya manusia zombie yang mudah mengakses narkoba, serta mudahnya mendapatkan senjata api dan menghilangkan nyawa sendiri bahkan orang lain atas nama Hak Asasi Manusia. Semua itu terkesan bukan menjadi prioritas bagi AS untuk menyelesaikan, justru isu-isu terbaru yang menunjukkan adanya cadangan minyak mentah yang tembus 303,2 Barel menjadi sangat penting, karena jika dikurskan ke dolar saat ini dengan harga minyak mencapai $59/ Barel maka kekayaan yang dikeruk bisa mencapai ratusan Triliyun Dolas AS. Kembali lagi keuntunganlah yang didahulukan.
Berbagai kerusakan telah nampak di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia. Tidak hanya pada penampakan alam yang rusak ekosistemnya, tapi juga pada akal manusia. Dunia dalam kendali AS ini telah membuat umat Islam khususnya terjajah secara fisiknya, masih lekat berita saudara muslim kita di Palestina, Yaman, Afganistan dan negri-negri muslim timur tengah lainnya. Pun tidak berhenti sampai disitu, penjajahan dalam bentuk non fisik juga senantiasa dicengkramkan lewat lahirnya undang-undang yang berpihak kepada kapitalis. Selain pemilik modal akan dimiskinkan secara ekonomi, biaya pendidikan dan kesehatan serta pajak menjadi mahal. Tidak hanya sampai disitu, paham sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan manusia merasa dirinya berhak membuat aturan kehidupan dengan mencampakkan syariat yang telah Allah berikan, berupa Alquran dan Sunnah. Padahal Allah SWT telah berfirman dalam Surat Thaha Ayat 124:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
Artinya: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta"
Kerusakan pada sistem kapitalis ini adalah keniscayaan, karena Kapitalis adalah ideologi buatan manusia yang penuh dengan kekurangan. Tidak seperti Islam berasal dari Al Khalik Al Mudabbir yakni Allah SWT yang menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan. Selain menciptakan, Allah juga mengatur dunia dan isinya, termasuk manusia. Dalam Alquran surat adz Dzariat ayat 56 Allah menegaskan bahwa penciptaan jin dan manusia sejatinya adalah untuk beribadah kepada Nya. Bentuk-bentuk ibadah pada manusia disebut dengan Syariat atau aturan Islam yang mencakup tiga dimensi yaitu Dimensi Individu (ibadah ritual), Dimensi Masyarakat terkait dengan adab, akhlak dan muamalahnya dan Dimensi negara yang menerapkan syariat secara keseluruhan dalam Sistem Islam.
Negara dengan sistem Islam akan menjaga harta serta mengelompokkannya apakah harta tersebut termasuk harta individu, negara atau justru kepemilikan umum yang harus dikelola negara untuk kemakmuran rakyat. Islam juga menjaga akal manusia dari ketidakwarasan atau ketidaksadaran, karena itu Islam melarang khamr dan sejenisnya termasuk narkoba. Penjagaan selanjutnya adalah jiwa, Islam melarang menyakiti diri sendiri ataupun orang lain apalagi membunuh, kecuali pada hal yang disyariatkan. Aqidah dalam Islam menuntut manusia hanya tunduk terhadap Syara’dan mengikuti apa yang telah rasulullah contohkan. Termasuk dalam menjaga nasab generasi.
Keberadaan Islam dalam sejarah yang panjang rentang 13 abad semenjak kepergian baginda nabi Muhammad SAW, telah menerapkan satu kepemimpinan yang mendunia, dua pertiga dunia saat itu menjadi bagian dari Sistem Islam, tak ada satupun negara yang merasa dirugikan. Bahkan Habasyah atau Ethiopia menjadi bagian dari negara Adidaya Islam, merasa sangat diuntungkan dengan penyebaran zakat oleh Baitul mal, sehingga tidak ada kelaparan, pendidikan pun meluas menjadikan Habasya sebagai kota lahirnya para ulama besar seperti Syekh Muhammad Tani dan Syekh Ahmad Siraj, hingga Ethiopia dijuluki Madinatul Auliya (kotanya para ulama). kepemimpinan global dengan sistem Islam tidak memandang untung rugi dalam meriayah umat. Semua berjalan atas pola pikir dan pola sikap Islam sebagai bentuk ketundukkan terhadap syariat dan kesadaran penuh bahwa pemimpin akan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.
Wallahu a’lam bi showab.
