-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kolonialisme Digital: Ketika Silikon Menggantikan Senjata

Thursday, January 1, 2026 | January 01, 2026 WIB Last Updated 2026-01-02T04:32:44Z

 opini impiannews hari ini


Oleh: Mei Widiati, M.Pd. 


Aliansi Teknologi dan Pembelahan Dunia

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan pembentukan aliansi internasional bernama Psilica, sebuah blok kerja sama teknologi yang diklaim bertujuan melawan dominasi Cina dalam penguasaan unsur tanah jarang, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi canggih. Namun, alih-alih menciptakan kemandirian teknologi global, aliansi ini justru berpotensi memperdalam fragmentasi dunia.


Dunia kembali dibelah ke dalam dua blok besar: Amerika Serikat dan sekutunya versus Cina. Negara-negara berkembang tidak diposisikan sebagai mitra setara, melainkan sekadar pemasok bahan mentah dan pasar teknologi. Unsur tanah jarang dieksploitasi dari wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Latin, sementara nilai tambah industri, riset, dan inovasi tetap dikuasai negara-negara besar.


Situasi ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi bukanlah dekolonialisasi teknologi, melainkan kolonialisme versi baru. Jika dahulu penjajahan dilakukan dengan senjata dan kekuatan militer, kini silikon, data, dan ketergantungan ekonomi menjadi alat penundukan yang jauh lebih halus namun efektif.


Akar Masalah: Sekularisasi dan Kapitalisasi Global


Akar persoalan dari konflik dan ketimpangan teknologi global ini terletak pada paradigma sekular-kapitalistik yang mendominasi hubungan internasional. Sekularisasi memisahkan nilai moral dan agama dari politik serta ekonomi global. Akibatnya, tidak ada lagi pertimbangan halal-haram, adil-zalim, atau maslahat-kerusakan dalam pengambilan kebijakan. Yang menjadi ukuran tunggal hanyalah kepentingan nasional sempit dan akumulasi modal.


Kapitalisme global menjadikan teknologi bukan sebagai sarana pelayanan umat manusia, tetapi sebagai alat dominasi dan eksploitasi. Unsur tanah jarang, data digital, dan kecerdasan buatan diperlakukan sebagai komoditas strategis yang harus dikuasai, bahkan jika harus mengorbankan kedaulatan negara lain. Negara berkembang terus dijerat ketergantungan struktural: tidak menguasai teknologi, tidak mengontrol sumber daya, dan akhirnya tunduk pada kepentingan blok besar.


Allah SWT telah mengingatkan tentang bahaya keserakahan dan kerusakan sistemik akibat ulah manusia:


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (TQS. Ar-Rum: 41)


Ayat ini relevan dengan realitas global hari ini, ketika kerakusan ekonomi dan politik melahirkan ketimpangan, konflik, dan penjajahan gaya baru.


Solusi Islam: Keadilan Global dan Amanah Kekuasaan


Islam menawarkan solusi mendasar yang berbeda dari sistem global saat ini. Pertama, Islam memandang kekuasaan dan teknologi sebagai amanah, bukan alat dominasi. Negara wajib mengelola sumber daya strategis—termasuk mineral dan teknologi—demi kemaslahatan rakyat, bukan kepentingan korporasi atau aliansi elit global.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Kedua, Islam menolak monopoli atas sumber daya vital. Teknologi dan bahan mentah strategis tidak boleh dikuasai segelintir negara atau korporasi global untuk menundukkan yang lain. Prinsip ini ditegaskan dalam hadis:


“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud)


Makna “api” dalam konteks kekinian mencakup energi dan teknologi strategis. Artinya, sumber daya penopang kehidupan dan peradaban tidak boleh menjadi alat penjajahan.


Ketiga, Islam mengatur hubungan internasional berdasarkan keadilan dan dakwah, bukan eksploitasi. Negara dalam sistem Islam berdiri mandiri secara politik dan ekonomi, tidak tunduk pada blok kekuatan mana pun, serta membangun kerja sama global tanpa merampas kedaulatan pihak lain.


Allah SWT berfirman:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ 


“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan karena Allah.” (TQS. An-Nisa: 135)


Khatimah 


Aliansi teknologi seperti Psilica menunjukkan bahwa wajah penjajahan belum benar-benar hilang—ia hanya berganti rupa. Senjata digantikan silikon, penjajahan fisik diganti ketergantungan teknologi. Selama dunia masih tunduk pada sekularisasi dan kapitalisasi global, ketimpangan dan penundukan akan terus berulang.


Islam hadir sebagai solusi menyeluruh: membebaskan manusia dari dominasi sesama manusia, menempatkan teknologi sebagai sarana kemaslahatan, dan mengembalikan tata dunia pada keadilan yang berpijak pada wahyu. Tanpa itu, kolonialisme digital akan terus menjadi takdir pahit negara-negara lemah.


Wallaahu a'lam bish-showab

×
Berita Terbaru Update